Sinar X adalah pancaran gelombang elektromagnetik yang sejenis dengan gelombang radio, panas, cahaya dan sinar ultraviolet tetapi dengan panjang gelombang yang sangat pendek. Sinar X bersifat heterogen, panjang gelombang bervariasi dan tidak terlihat. Perbedaan antara sinar X dengan sinar elektromagnetik lainnya juga terletak pada panjang gelombangnya, dimana panjang gelombang sinar X sangat pendek yaitu hanya 1/10.000 panjang gelombang cahaya yang keliahatan, karena panjang gelombang yang pendek itu, maka sinar X dapat menembus benda.
Dinegara-negara maju sepertiga hingga separuh keputusan medic yang menentukan bergantung pada diagnosis sinar X, bahkan beberapa penyakit diagnosis awalnya bergantung pada pemeriksaan sinar X, hal ini karena perkembangan radiologi dirasakan sangat cepat, sehingga peranannya sebagai penunjang diagnosis semakin penting. Untuk orang sehat, penyinaran radiasi harus selalu dibuat seminimal mungkin. Pada kasus penyakit atau kecelakaan tertentu, secara medis dapat dibenarkan terapi radiasi ionisasi untuk mendapatkan hasil diagnose yang bermanfaat.
Sinar X, selain memiliki sifat yang menguntungkan juga memiliki beberapa efek yang berdampak buruk pada tubuh maupun lingkungan. Sejak ditemukannya pada tahun 1895 oleh Wilhem Conrad Roentgen, ternyata kemudian dilaporkan adanya kelainan dari jaringan tubuh yang terkena radiasi sinar X. Ketika menembus jaringan tubuh, radiasi sinar ionisasi menimbulkan kerusakan pada tubuh, terutama dengan ionisasi atom-atom pembentuk jaringan. Indikasi radiasi yang merusak dalam tingkat atom akan menimbulkan perubahan molekul, yang menimbulkan kerusakan seluler, serta menimbulkan fungsi sel abnormal atau hilangnya fungsi sel.
Efek radiasi pada manusia merupakan hasil dari rangkaian proses fisik dan kimia yang terjadi segera setelah terpapar (10-15 detik), kemudian diikuti dengan proses biologic dalam tubuh. Proses biologic meliputi rangkaian perubahan pada tingkat molekuler, seluler, jaringan dan tubuh. Konsekuensi yang timbul dapat berupa kematian sel atau perubahan pada sel. Bergantung pada dosis radiasi yang diterima tubuh. Pada paparan akut dosis relative tinggi, efek yang timbul merupakan hasil kematian dari sel yang dapat menyebabkan gangguan fungsi jaringan dan organ tubuh, bahkan kematian.
Efek seperti ini disebut efek deterministic yang umumnya segera dapat teramati secara klinis setelah tubuh terppar radiasi dengan dosis diatas dosis ambang. Selain itu, radiasi dapat tidak mematikan sel tetapi menyebabkan perubahan atau transformasi sel sehingga terbentuk sel baru yang abnormal. Perubahan ini terutama karena rusaknya materi inti sel, kususnya DNA dan kromosom. Perubahan ini berpotensi menyebabkan terbentuknya kanker pada sebagian individu terpapar atau penyakit herediter meningkat dengan bertambahnya dosis, tetapi tidak halnya dengan keparahannya. Efek ini disebut efek stokastik yang terjadi akibat paparan radiasi tanpa ada dosis ambang.
Dengan demikian, radiasi pada dosis serendah apapun, dapat menimbulkan efek kesehatan karena sebuah kejadian ionisasi dapat menimbulkan kerusakan DNA. Dosis kecil 10-100mSv, meningkatkan sekitar 1% laju latar kerusakan DNA yang terjadi secara alamiah. Tidak diragukan lagi bahwa tidak ada dosis atau laju dosis radiasi yang aman dalam hal menimbulkan efek pada manusia. Adanya efek kesehatan radiasi pengion dosis rendah telah mengubah pernytaan “small dose may cause harm” menjadi “small dose definitely will cause harm”. Ketika diketahui adanya efek radiasi ionisasi yang berbahaya, kalangan medis memutuskan bahwa perlu dilakukan reduksi radiasi penyinaran diseluruh dunia dengan cara membuat standard pengukuran dan membatasi penyinaran. Radiografer gigi harusn mengenal jumlah dan unit radiasi standard agar dapat mengukur radiasi penyinaran pasien dan raqdiografer secara konsisten.
II.1 Filosofi Radiasi(1)
Filosofi modern dari perlindungan radiasi adalah berdasar pada anggapan bahwa terdapat hubungan linier antara dosis radiasi dan respon biologi. Hal ini berarti bahwa kemungkinan untuk dapat terkena kerusakan biologi dan jumlah kerusakan berhubungan langsung dengan jumlah radiasi yang terserap dan belum ada batas dosis absorbs tertentu dimana bila radiasi dibuat lebih kecil dari batas tersebut, tidak ada kemungkinan terjadinya kerusakan biologi. Akibatnya, bahkan dosis radiasi yang sekecil apapun juga dapat menimbulkan kerusakan. Filosofi modern juga mengatakan bahwa radiasi ionisasi memiliki manfaat dan kemampuan merusak sehingga dianjurkan jika menggunakannya untuk keperluan pengobatan pasien, manfaat radiasi ionisasi ini harus lebih besar daripada kerugiannya.
II.2 Sifat Radiasi Sinar X(1)
Sebelum memahami penggunaan sinar X perlu dipahami bahwa sinar X memiliki beberapa sifat yang apabila dapat dipahami dapat menjadi batasan kita dalam pemanfaatan sinar X agar dapat meminimalisir efek negative yang dapat timbul. Sifat-sifat itu antara lain : (2)
1. Tak dapat dilihat dengan mata
2. Tidak dapat dibelokan oleh medan magnet
3. Tidak dapat difokuskan oleh lensa apapun
4. Dapat diserap oleh timah hitam (Pb)
5. Dapat dibelokan setelah menembus logam atau benda padat
6. Dapat difaksikan oleh unsur kristal tertentu
7. Mempunyai panjang gelombang sangat pendek
8. Mempunyai frekuensi gelombang yang tinggi
9. Mempunyai daya tembus yang tinggi
10. Dapat menimbulkan efek biologik sebagai akibat energi ionisasi
11. Dapat bereaksi dengan film yang digunakan untuk roentgenodiagnosa
12. Dapat menstimulasi sel-sel muda dari organ tubuh hidup
13. Dapat menyebabkan nekrotik pada jaringan tubuh hidup
14. Dapat memutasikan sel-sel gonad
15. Dapat menimbulkan sindrom susnan syaraf pusat
Karena mempunyai sifat-sifat yang seperti di atas, maka Sinar X dapat digunakan dalam bidang kedokteran, salah satunya adalah kedokteran gigi. Kegunaan sinar X dalam ilmu Kedokteran Gigi dapat terbagi dalam dua bagian, yaitu kegunaan sinar X dalam membuat roentgenogram dengan teknik radiografi intraoral dan kegunaan sinar X dalam membuat roentgenogram dengan teknik radiografi eksternal
II.3 Dosis Radiasi(1)
Sebelum mengetahui dosis serap kira-kira untuk jaringan baik jaringan lunak maupun keras, sebelumnya perlu diketahui satuan dari radiasi sinar X yaitu Roentgen(R). Roentgen(R) adalah satuan radiasi sinar X atau sinar tembus lain yang setara yaitu banyaknya radiasi yang dikeluarkan pada 1 cm3 volume udara dengan tekanan tertentu. Dapat juga dikatakan sebagai suatu pemaparan radiasi yang memberikan muatan 2,58 x 10-4 coulomb / kg udara (1 R = 1000mR)
Tabel dosis serap kira-kira untuk jaringan / Roentgen pemaparan
Jaringan Rad per Roentgen pemaparan
50 KVp 1 MsV
Jaringan lunak 0,95 0,95
Tulang 5 0,9
II.4 Kerusakan Biologis Akibat Terapi Radiasi Sinar X(1)
Penggunaan radiasi pengion dosis tinggi yang digunakan pada terapi radiasi dapat berpengaruh pada sel-sel tubuh yang masih sehat, karena tubuh manusia tidak dapat dilindungi sepenuhnya dari sinar radiasi baik sinar terapi radiasi maupun radiodiagnosis. Sebagian dari energy radiasi akan diserap oleh tubuh manusia, sehingga dapat menimbulkan efek biologis pada sel tubuh yang masih hidup. Secara umum, perubahan jaringan atau sel yang terkena radiasi sinar X sebagai akibat terurainya ion-ion air (akibat ionisasi) dengan terbentuknya molekul air dan peroksida yang merupakan racun dalam jaringan atau sel, serta terbentuknya ion bebas hydrogen yang akan menimbulkan reaksi kimiawi pada jaringan atau sel.
Radiasi sinar X dapat mengakibatkan perubahan-perubahan struktur kimia tubuh, sel-sel, jaringan, dan organ. Akan tetapi, efek radiasi tidak akan dapat dilihat selama beberapa waktu setelah terapi sinar X, rentang waktu ini disebut sebagai “periode laten”. Contoh sehari-hari darin periode laten adalah kulit yang semakin gelap dari hari ke hari setelah terpapar sinar matahari.
II.5 Efek Radiasi Sinar X pada Rongga Mulut(1,2)
Begitu pentingnya manfaat radiografi sehingga bidang kedokteran gigipun menggunakannya baik sebagai penegak diagnose maupun terapi radiasi.Dalam pemeriksaan dan perawatan gigi, meskipun riwayat kesehatan gigi dan temuan klinis sangat penting bagi dokter, pemeriksaan radiografis juga teramat penting untuk diagnosis. Radiografis juga digunakan untuk menentukan anatomi gigi dan pulpa sebelum membuat akses endodonti, untuk menetapkan panjang saluran, memastikan penempatan konguta perca, dan untuk mengevaluasi keberhasilan perawatan. Selain itu, dokter mendapatkan informasi penting menyangkut kesulitan kasus dan prognosis jangka panjang hasil pemeriksaan radiografis sebelum memulai perawatan.
Radiografi awal bertujuan untuk membantu menegakkan diagnosis dan menunjukkan keadaan anatomi gigi, kamar pulpa, dan saluranh akar sebelum dilakukan akses ke gigi. Umumnya satu radiografi periapikal saja dapat memberi informasi yang diperlukan. Sama halnya dengan radiografi, dikenal juga radioterapi yang berfungsi sebagai pengobatan. Radioterapi merupakan radiasi, seperti sinar X untuk membunuh sel-sel limfoma non –Hodgkin atau memperlambat pertumbuhan perkembangannya. Agar radiasi benar ditujukan pada limfoma dan efek samping diperkecil, perencanaan pengobatan sangat penting pada radioterapi.
Perencanaan pengobatan dan meminimalkan efek samping adalah bagian penting dalam radioterapi. Daerah yang akan diobati akan dipetakan dengan seksama dan mesin pengobatan akan diatur sehingga sel-sel limfoma yang terpapar dosis penuh radioterapi. Rongga mulut di radiasi selama perawatan radiosensitiftumor maligna, biasanya squamosa sel karsinoma. Perawatan spesiifik merupakan pilihan untuk lesi tersebut berdasarkan banyaknya tumor, radiosensifitas, histology, ukuran, lokasi, invasi pada jaringan terdekat, dan durasi gejalanya. Terapi radiasi untuk tumor maligna pada rongga mulut biasanya diindikasikan ketika lesi tersebut radiosesitif, mengalami perluasan, letaknya sangat dalam sehingga tidak dapat dilakukan pembedahan.
Radiasi digunakan untuk membunuh sel-sel kanker tetapi perawatan ini juga dapat merusak sel yang normal sehingga menyebabkan masalah pada gigi dan jaringan lunak, glandula saliva dan rahang. Pemisahan dari total radiasi menjadi dosis-dosis yang kecil dapat membuat kerusakan tumor yang lebih ringan daripada pemberian dosis yang besar sekaligus. Peecahan dosis juga dapat dipercaya mempunyai sifat penyembuhan yang cukup baik. Pemecahan dosis juga juga dapat meningkatkan tekanan oksigen pada tmor yang diradiasi. Sebagai hasilnya tumor dapat dimatikan dengan cepat dan massa tumor mengecil, untuk mematikan tumor yang tersisa jarak radiasi harus dikurangi dan difusi oksigen melewati tumor harus dilakukan.
II.6 Efek Radiasi pada Membran Mukosa Mulut(2,3)
Radiasi pada daerah kepala dan leher khususnya nasofaring akan mengikutsertakan sebagian besar mukosa mulut. Akibatnya dalam keadaan akut akan terjadi efek samping pada mukosa mulut berupa mukositis yang dirasa pasien sebagai nyeri pada saat menelan, mulut kering dan hilangnya cita rasa (taste). Keadaan ini seringkali diperparah oleh timbulnya infeksi jamur pada mukosa lidah serta palatum. Setelah radiasi selesai maka efek samping akut di atas akan menghilang dengan pengobatan simptomatik.
Membrane mukosa mulut terdiri dari sel basla yang komposisinya terdiri dari sel yang radiosensitive dan sel intermitotik yang berdifferensiasi. Pada minggu kedua terapi sebelum terapi berakhir, beberapa sel tersebut mati, membrane mukosa mulai kemerahan dan mengalami inflamasi (mukositis). Jika terapi dilanjutkan, membrane mukosa yang terkena radiasi mulai mengalami kerusakan, dengan membentuk lapisan ,membran yang putih kekuning-kuningan (lapisan epitel terdesquamasi).
Pada akhir terapi mukositis biasanya bertambah parah, sangat tidak nyaman, sulit utuk makan. Kebersihan mulut yang baik akan mengurangi infeksi. Topical anastesi mungkin diperlukan sebelum makan. Infeksi sekunder oleh Candida albicans merupakan komplikasi yang umum dan harus dilakukan perawatan. Efek radiasi menyebabkan perubahan di dalam rongga mulut salah satunya mucositis. Mucositis digambarkan sebagai suatu proses kompleks biologi yang dimana terjadi dalam empat tahap serial: pembengkakan vaskuler, epithelial, ulcerative-bacteriologic, dan penyembuhan.
Penanganan mukositis akut kadang membutuhkan waktu satu minggi setelah penghentian terapi. Anastesi topical/local mungkin bermanfaat, tetapi bila terdapat nyeri biasanya memerlukan pengobatan analgesic sistemik. Selama infeksi masih ada, diagnose yang tepat dan agen antimikroba harus diperhatikan baik untuk organisme jamur maupun bakteri. Infeksi virus jarang berkomplikasi dari penyebab mukositis. Pengobatan sistemik prednisone dalam jangka pendek (40-80 mg/hari idak lebih dari satu minggu) telaj membantu menurunkan inflamasi dan rasa tidak nyaman.
Gambar 1. Mukositis pada jaringan lunak lidah
Sumber : www. Martariwansyah.blogspot.com
II.7 Efek Radiasi pada Glandula Salivarius(2,3)
Terapi radiasi pada daerah leher dan kepala untuk perawatan kanker telah terbukiti dapat mengakibatka rusaknya struktur kelenjar saliva dengan berbagai drajat kerusakan pada kelenjar saliva yang terkena radioterapi. Hal ini ditunjukkan denan berkurangnya volume saliva. Jimlah dan keparahan kerusakan jaringan kelenjar saliva tergantung dosis dan lamanya penyinaran.
Dosis Gejala
< 10 Gray
10 – 15 Gray
15 – 40 Gray
>40 Gray Reduksi tidak tetap sekresi saliva
Hipoplasia yang jelas dapat ditunjukkan
Reduksi masih terus berlangsung, reversible
Perngrusakan irreversible jaringan kelenjar (Hipoplasia Irreversibel)
Glandula saliva mayor harus dihindari terkena radiasi dengan pancaran sinar 20 sampai 30 Gy selama radioterapi untuk kanker mulut atau oropharink. Komponen parenkim labih radiosensitive (glandula parotid lebih jika dibandingkan glandula submandibular atau sublingual). Gejala kehilangan sekresi saliva selama beberpa minggu pertama radioterapi biasanya dapat terlihat. Pengurangan aliran saliva tergantung dosis yang diberikan, biasanaya 0- 60 Gy. Mulut akan menjadi kering (Xerostomia) dan sakit, serta pembengkakan dan nyeri karena berkurangnya saliva sehingga menyebabkan hilangnya fungis lubrikasi.
Selama radiasi, sekresi kelenjar biasanya berkurang, tebal, lengket, dan sangat mengganggu pasien. Beberapa pasien tidak dapat memproduksi lebih dari 1 ml (15 tetes) cadangan saliva dalam waktu 10 menit. Durasi ini menurunkan fungsi air liur yang bermacam-macam antara satu pasien dengan pasien yan lain. Beberapa regenerasi dapat terjadi selama beberapa bulan setalah pengobatan, serta tanda dan gejala xerostomia (mulut kering dengan perasaan tidak nyaman, sukar berbicara dan menelan) dapat diubah. Bagaimanapun, proses menegmbalikan saliva sampai cukup untuk kenyamanan dan fungsi mulut mebutuhkan waktu sampai 12 bulan.
Selain itu, sias saliva yang tidak mencukupi merupakan sebagian besar keluhan utama setelah pengobatan. Bila kelenjar parotis terkena sinar radiasi pada saat pengobatan, pengurangan saliva adalah dampak utama, dan prognosis untuk pengobatan selanjutnya sangat buruk. Kenyataannya, semakin tinggi dosis radiasi, semakin buruk prognosis xerostomia.
Minum air dan berkumur teratur penting untuk mengontrol sebagian efek radiasi penyebab xeroxtomia. Bagi yang kekurangan gula, mengunyah permen karet dan permen asam dapat menolong. Pada beberapa pasien, pilocarpine, hydrochloride merupakan jalan keluar dalam merangsang produksi saliva. Efek sampingnya adalah berkeringat dan rasa tidak nyama pada perut. Solusi saliva buatan dan saliva yang digantikan dengan pelumas terbatas dalam membantu sebagian besar pasien dengan mulut kering.
Gambar 2. Xerostomia atau dry mouth
Sumber: www. Ocw.tufts.edu.data/51.html
II.8 Efek Radiasi pada Gigi(2,3)
Gigi yang telah erupsi cenderung mengalami kerukan akibat radiasi daerah rongga mulut, meskipun kerusakannya baru tampak setelah beberapa tahun setelah radiasi. Manifestasi kerusakan berupa destruksi substansi gigi yang disebut karies radiasi dan dimulai pada servikal gigi. Lesi berupa demineralisasi yang lebih daripada karies pada umumnya, dengan pola melintas gigi dan menyebabkan kerusakan mahkota gigi pada daerah servikal. Kerusakan jaringan keras gigi (email, dentin, sementum) mengakibatkan karies gigi. Secara radiografi daerah karies bersifat radiolusen bila dibandingkan dengan email atau dentin. Hal ini penting bagi pendiagnosa untuk melihat radiografi dalam situasi pengamatan yang tepat dengan pandangan yang jelas agar dapat membedakan antara restorasi dan anatomi gigi yang normal. Pada gigi terjadi dua efek radiasi yaitu efek radiasi secara langsung dan tidak langsung.
a. Efek Radiasi Langsung
Efek radiasi ini terjadi paling dini dari benih gigi, berupa gangguan kalsifikasi benih gigi, gangguan perkembangan benih gigi dan gangguan erupsi gigi.
b. Efek Radiasi tidak Langsung
Efek radiasi tidak langsung terjadi setelah pembentukan gigi dan erupsi gigi normal berada dalam rongga mulut, kemudian terkena radiasi ionosasi, maka akan terlihat kelainan gigi tersebut misalnya adanya karies radiasi. Biasanya karies radiasi pada beberapa gigi bahkan seluruh region yang terkena pancaran sinar radiasi, keadaan ini disebut rampan karies radiasi.
Radiasi karies merupakan bentuk rampan dari kerusakan gigi yang dapat terjadi pada tiap individu yang mendapatkan radioterapi termasuk penyinaran dari glandula saliva. Lesi karies dihasilkan dari perubahan glandula salivarius. Penurunan arus, peningkatan pH, penurunan kapasitas buffer karena adanya perubahan elektrolit dan peningkatan viskositas. Saliva normal dapat menurun dan akumulasi debris yang cepat karena tidak adanya tindakan pembersihan. Karies sekunder yang disebabkan radiasi memiliki bentuk jelas yang merata pada cement enamel junction (CEJ) dari permukaan bukolabial, merupakan lokasi yang biasanya tahan terhadap karies.
Permukaan bukal dan lingual sering Nampak warna putih atau opak karena terjadi demineralisasi dari email. Daerah ini terjadi demineralisasi bila saliva menjadi asam dan kehilangan suplai mineral yang secara normal mengisi ion negative berubah, permukaan lembut, kehailangan translusensi dan sering fraktur, menyebabkan erosi, membuat dentin menjadi terbuka.
Kebersihan mulut utamanya harus dijaga, dan sangat dianjurkan sehari-hari menggunakan gel yang berfluoride. Secara klinis, terdapat 3 tipe karies radiasi. Biasanya kebanyakan meluas pada lesi superficial menyerang permukaan bukal, oklusal, insisal dan palatal. Tipe lain meliputi cementum dan dentin pada daerah cervical . lesi ini dapat meningkat mengelilingi servikal dan menyebabkan kehilangan mahkota. Tipe akhir terlihat sebagai pigmentasi yang gelap dari keseluruhan mahkota.
Gambar 3. Karies radiograph
Sumber: drstoute.com/procedures/pat_pics.html
II.9 Efek Radiasi pada Tulang(2,3,4)
Perawatan kanker pada daerah mulut sering dialkukan penyinaran termasuk pada mandibula. Kerusakan primer pada tulang disebabkan oleh penyinaran yan mengakibatkan rusaknya pembuluh darah periosteum dan tulang kortikal, yang dalam keadaan normalnya sudah tipis. Radiasi juga dapat merusak osteoblas dan osteoklas. Jaringan sumsusm tulang menjadi hipovaskular, hipoxik, dan hiposelular. Sebagai tambahan, endosteum menjadi terjadi atrofi pada endosteum menunjukkan berkurangnya aktifitas osteoblas dan osteoklas, dan beberapa lacuna pada tulang yang kompak tampak kosong, hal tersebut merupakan indikasi terjadinya nekrosis. Derajat mineralisasi menjadi berkurang, memicu terjadinya kerapuhan, aytau perubahandari tulang yang normal. Jika keadaan ini bertambah parah tulang akan mangalami kematian, kondisi seperti ini disebut osteoradionecrosis. Osteoradionekrosis merupakan komplikasi klinik yang sangat serius yang muncul pada tulang setelah terapi radiasi.
Osteoradionekrosis adalah istilah yang biasa digunakan untuk komplikasi serius seelah radioterapi dan karsinoma kepala dan leher. Lesi juga disebut sebagai osteonekrosis radiasi, osteitis radiasi, nekrosis radiasi, dan osteodisplasia radiasi. Fosteoradionekrosis terjadi hampir hanya pada mandibula karena mandibula mempunyai suplai vascular yang terbatas bila dibandingkan dengan maksila dan biasana berada lebih pada garis radiasi. Meyers menentukan rasio 26 mandibuka terhadap satu maksila.
Gejala utamanya adalah sakiy yang berdenyut-denyut dan konstan. Selain itu, juga dapat terjadi trismus. Secaa klinis, osteoradionekrosis ini ditandai dengan tulang terbuka yang telanjang. Pernanahan biasanya ada dan perdaran dari daerah ulserasi seringkali terjadi. Juga terdapat nekrosis dan pembentukan nanah yang tertunda serta kelainan bentuk permanen. Fraktur patoogis dari mandibula dapat terjadi melalui daerah osteoradionekrosis. Pada penelitian Bedwinek dilakukan perbandingan dua periode.
Pada periode pertama, 1966-1969 dilakukan pencabutan dengan dasar elektif dari semua gigi-gigi yang tidak berada pada kondisi yang baik. Pada periode kedua, 1969-1971, ada kebijaksanaan baru yaitu mempertahankan semua gigi kecuali gigi yang tidak dapat dipertahankan lagi. Kebijaksanaan untuk mempertahankan gigi yang meliputi pembuatan restorasi gigi, meenjaga kebersihan mulut yang baik dan kumur-kumut dengan fluoride setiap hari. Pada periode pertama, insiden osteoradionekrosis aalah 20% sedang pada periode kedua hanya 8%.
Peneliti yang sama huga menemukan bahwa dari 54 kaus osteoradionekrosis, 65% berhubungan dengan pencabutan gigi atau iritasi gigitiruan. Sisanya, 35% dianggap timbul secara spontan. Pada penelitian Breumer dkk (1972) ditemukan bahwa pasien yang masih bergigi mempunyai resiko terserang osteoradionekrosis empat kali lebih besar daripada pasien tidak bergigi. Namun, bahkan pada pasien bergigi, terlihat kemungkinan tidak terserang nekrosis lebih drai 94%.
Pasien dengan tumor primer di atas atau di dekat tulang juga mempunyai resiko tinggi untuk terserang osteoradionerosis spontan daripada pasien dengan tumor yang tidak terletak di dekat tulang. Kemungkinan terjadinya osteoradionekrosis spontan berhubungan dengan dosis yang diterima mandibula dan tampaknya da ambang dosis sebesar 6000 rad, di bawah dosis ini, osteoradionekrosis jarang terjadi.
Secara histologist, osteoradionekrosis ditandai dengan kerusakan osteosit dan tidak adanya osteoblast. Radiasi juga menimbulkan penebalan dinding-dinding arteri dan arteriole yang mendorong terjandinya endarteritis obliterasi. Pernanahan dari tulang yang terserang isteoradionekrosis terbentuk lebih lambat daripada nekrosis karena infeksi dan trauma saja.
Selain perkembangan cara perawatan seperti penggunaan megavoltase, yang mempunyai koefisen absorpsi tulang yang lebih rendah daripada ortovoltase yang menimbulkan kerusakan selular tulang daripada ortovoltase yang menimbulkan ketusakan seluler tulang yang lebih ringan, masih terus dilakukan usaha untuk dapat mempertahankan semua gigi-gigi.
Gambar 4. Osteoradionekrose
Sumber : navyhyperbaric.mil.n2.com
II.10 Efek Radiasi pada Pulpa(5)
Apoptosis adalah mekanisme biologis yang merupakan jenis kematian sel yang terprogram, yang dapat terjadi pada kondisi fisiologis maupun patologis. Apoptosis digunakan oleh organism multi sel untuk membuang sel yang sudah tidak diperlukan oleh tubuh. Apoptosis umumnya berlangsung seumur hidup dan bersifat menguntungkan bagi tubuh. Apoptosis dapat terjadi selama selama perkembangan, sebagai mekanisme homeostatis untuk menjaga atau memelihara populasi sel dalam jaringan, sebagai mekanisme pertahanan jika sel rusak oleh suatu penyakit atau bahan racun pada proses penuaan.
Apoptosis pada jaringan fibroral pulpa dapat terjadi akibat dosis radiasi yang diterima selama terapi radiasi adalah ± 200 rad sehingga apoptosis pada sel fibrolas pulpa meningkat pulpa sehingga selain sel sel fibrolas, sel-sel lain juga turut mati akibat efek radiasi. Dikarenakan sel fibrolas merupakan sel terbanyak yang ada di pulpa dengan fungsi sebagai menjaga integritas dan vitalitas pulpa berupa membentuk dan mempertahankan matriks jaringan pulpa dengan membentuk ground substance dan serat kolagen sehingga apoptosis pada sel fibrolas pulpa menjadi proses awal terjadinya karies radiasi.
II.11 Perlindungan terhadap Efek Radiasi(1,6)
I. Perlindungan Radiasi bagi Pasien
Pasien merupakan yang paling rentan terkena radiasi sinar X dikarenakan pasien berkontak langsung dengan sinar X itu sendiri. Untuk menjaga perlindungan bagi pasien itu sendiri, maka operator atau dokter gigi melakukan pembatasan penyinaran dengan cara :
a. Komunikasi Efektif
Komunikasi menimbulkan rasa dekat, mengurangi kecemasan dan menimbulkan kooperatif. Sedangkan komunikasi yang buruk/ tidak jelas dapat menyebabkan pasien kurang mau bekerja sama. Hal ini dapat menyebabkan penyinaran yang berulang kali contohnya, selama pemeriksaan radiografy intervensional dimana pasien merasa ada sensasi tertentu sehingga terkejut dan memberi tanda bahwa ada sesuatu yang salah pada operator atau dokter gigi. Hal ini menyebabkan perlunya penyinaran ulang
b. Immobilisasi
Bila pasien bergerak selama penyinaran radiografy, gambar radiograf akan kabur. Radiograf ini hanya sedikit atau tidak mempunyai manfaat diagnosa. Sehingga perlu dilakukan pemeriksaan ulang, yang menyebabkan pasien dan radiografer menerima radiasi tambahan.
c. Alat untuk Membatasi Pancaran Sinar
1. Lubang Diaphragma
Adalah alat yang berfungsi untuk memperkecil pancaran sinar yang paling sederhana. Terdiri dari sepotong timah datar dengan lubang di bagian tengahnya.
2. Cone
Adalah tabung logam bulat yang diletakkan pada tempat tabung sinar X, berfungsi untuk memperkecil sinar ke ukuran dan bentuk yang sudah di tentukan. Desain alat ini berupa : cone retangular dan silinder lurus.
c. Filtrasi yang Tepat
Filtrasi pancaran sinar radiography, dapat mengurangi penyinaran pada kulit pasien dan jaringan superfacial dengan menyerap sebagian besar foton energi bawah (gelombang panjang atau sinar x yang lembut) dari pancaran heterogenus. Karena filtrasi menyerap beberapa foton pada pancaran radiograf, intensitas radiografi akan berkurang. Ada dua tipe filtrasi yaitu :
1. Filtrasi Cekat
Filtrasi cekat meliputi sampul kaca yang membungkus tabung sinar x, minyak isolasi yang mengelilingi tabung, dan jendela kaca pada wadah tabung. Filtrasi ini biasanya dinyatakan dengan ketebalan aluminium dan harus seimbang dengan sekurang-kurangnya 0,5 mm aluminium.
2. Filtrasi Tambahan
Filttrasi tambahan terdiri dari lembaran aluminium dengan ketebalan tertentu. Filtrasi tambahan diletakkan di luar jendela kaca dari wadah tabung. Filtrasi tambahan dan cekat bersama-sama berkombinasi menghasilkan jumlah filtrasi yang diperlukan untuk memfiltrasi pancaran sinar efektif.
e. Penggunaan Pelindung
- Radiografy gigi biasanya terbatas pada penyinaran kepala dan leher
- Pasien pada kursi unit membutuhkan perlindungan untuk organ-organ reproduksi
- Pelindung yang paling sering digunakan adalah apron timah (Pb)
- Apron timah tersedia dalam berbagai model dan dibuat dengan ketebalan timah yang bervariasi dari 0,25 sampai 1,25 mm dan bersifat fleksibel
f. Teknik Pemrosesan Radiografy yang Baik
Pemrosesan radiografy yang tepat akan menambah kualitas gambar sehingga memberikan informasi diagnosa yang tepat. Radiograf yang terproses kurang baik menghasilkan informasi diagnosa yang kurang baik sehingga perlu dilajkan radiograf ulang.
g. Jumlah Radiograf Ulang Se-sedikit Mungkin
- Radiograf ulang akan memperbesar dosis radiasi pada pasien
- Radiograf ulang hanya kadang-kadang saja dilakukan oleh dokter gigi untuk mendapat informasi diagnosa tambahan
- Pemeriksaan ulang karena kecerobohan atau penilaian yang buruk dari radiograf gigi harus dihindari
Oleh karena itu, radiografer gigi harus memilih,menguasai teknik radiograf dan faktor penyinaran sehingga menghasilkan radiograf berkualitas tinggi pada setiap pemeriksaan pertama kali.
II. Perlindungan Radiasi bagi Operator
Tidak hanya pasien yang rentan akan dampak negatif dari sinar X melainkan juga operator atau dokter gigi. Mengingat lingkup kerja mereka sehari-hari berhubungan dengan sinar X.
a. Ruang Radiasi
Usaha menjaga atau memproteksi ruangan radiasi adalah :
1. Tempat dan lokasi ruangan radiasi harus memenuhi syarat internasional, yaitu sinar radiasi tidak menembus ruangan lain
2. Dinding di dalam ruangan harus dilapisi lembaran atau lempengan timah hitam setebal minimal 2 mm
3. Penempatan pesawat roentgen diatur sedemikian rupa agar arah sinar radiasi ke tempat yang aman
4. Menggunakan kaca pelindung untuk membuat sebagian dinding tembus pandang. Kaca pelindung ini dibuat dari campuran bubuk timah hitam dengan butir-butir kaca
b. Memakai Baju Timah Hitam (Apron)
Terdapat berbagai jenis pelindung timah antara lain :
1. Baju pelindung timah untuk seluruh tubuh (whole body) yaitu melindungi tubuh dari bahu sampai tungkai bawah
2. Apron untuk kelenjar tiroid, apron ini disebut tiroid shield
3. Apron untuk kelenjar gonad, disebut Gonadopron berbentuk seperti celemek tukang masak yang hanya melindungi perut bagian bawah.
c. Posisi Operator
Posisi operator selama penyinaran harus berdiri sekurang-kurangnya 2-3 meter dari pasien dan sumber radiasi. Posisi yang dianjurkan adalah daerah antara 90 dan 135 dari arah berkas sinar radiasi primer.
BAB III
PEMBAHASAN
III.1 Laporan Kasus
Seorang wanita berumur 45 tahun dating ke rumah sakit gigi dengan keluhan saliva kental dan lengket, sukar menelan dan berbicara, mulut kering dengan perasaan tidak nyaman. Wanita ini menjalani pemeriksaan terapi radasi inflamasi beberapa bulan yang lalu. Dalam pemeriksaan ditemukan adanya debris plak dan karies pada beberapa gigi.
Sumber : Indonesian Journal of Dentistry Vol.10 No.5
III.2 Penanganan Kasus
Dari kasus diatas, pasien didiagnosa menderita xerostomia dengan gejala-gejala yang diperlihatkan dengan dugaan terjadinya xerostomia akibat terapi radiasi yang dijalani pasien beberapa saat yang lalu. Penanganan yang dapat dilakukan adalah meminum air dan berkumur teratur penting untuk mengontrol sebagian efek radiasi penyebab xeroxtomia. Bagi yang kekurangan gula, mengunyah permen karet dan permen asam dapat menolong. Pada beberapa pasien, pilocarpine, hydrochloride merupakan jalan keluar atau tablet (salagen®) efektif dalam merangsang produksi saliva (5 mg 3 atau 4 kali sehari).
Efek sampingnya adalah berkeringat dan rasa tidak nyaman pada perut. Perangsang saliva yang lain adalah cevimeline (Evoxac®), diberikan 30mg kapsul 3 kali sehari, telah membantu beberapa pasien xerostomia. Obat ini kontraindikasi dengan pasien asma, GI ulcer dan glaucoma. Solusi saliva buatan dan saliva yang digantikan dengan pelumas terbatas dalam membantu sebagian besar pasien dengan mulut kering.
BAB IV
PENUTUP
IV.1 Kesimpulan
1. Filosofi modern dari perlindungan radiasi adalah berdasar pada anggapan bahwa terdapat hubungan linier antara dosis radiasi dan respon biologi, dimana semakin tinggi dosis radiasi, maka respon biologis yang diberikan semakin tinggi pula
2. Dosis serap untuk jaringan lunak pada 50KVp adalah 0,95 dan pada 1 MRV adalah 0,95 sedangkan dosis serap tulang pada 50KVp adalah 5 dan pada 1 MRV adalah 0,9
3. Efek radiasi pada rongga mulut dapat berupa mukositis pada jaringan mukosa, xerostomia, karies radiography pada gigi geligi, osteoradionekrose pada mandibula, dan apoptosis berlebihan pada sel fibrolas pulpa
4. Perlindungan radiasi bagi pasien dapat berupa meminimalkan frekuensi dan penyinaran yang berulang dengan mengefektifkan komunikasi, alat pelindung, alat filter, dan teknik yang baik
5. Perlindungan radiasi bagi operator dapat berupa pemenuhan ruang radiasi yang memenuhi standar, memakai baju pelindung, serta bekerja pada posisi yang benar
Sumber >>>
1. Edwards Cris, Statkiewichz, Russel ritenour. Editor, Lilian yuwono. Perlindungan Radiasi Bagi Pasien dan Dokter Gigi. Jakarta : CV Mosby Company ; 1990.
2. Langais Robert P, Miller Craig S. Editor, Lilian Juwono. Atlas Berwarna Kelainan Rongga Mulut yang Lazim. Jakarta : Hipokrates ; 1994
3. Oedijani.Efek Samping Terapi Radiasi di Daerah Kepala dan Leher terhadap Jaringan Sekitarnya. Jurnal PDGI th.46. No.1 ed.Khusus.2007
4. Pindborg Jens J. Editor: Lilian Yuwono. Kanker dan Prakenker Rongga Mulut. Jakarta : EGC ; 1991
5. Supriyadi.Apoptosis Sel Fibrolas Jaringan Pulpa Akibat Paparan Radiasi Ionisasi. Indonesian Journal of dentistry vol.14. No.1 ed.Khusus.2007
6. Sarianoferni, Brahmanta Arya. Proteksi Radiasi di Bidang Kedokteran Gigi. DENTA Jurnal Kedokteran Gigi. Vol. 1, No.1.2007
Kamis, 04 Februari 2010
Senin, 01 Februari 2010
Pemeriksaan Lengkap pada Anak
Hubungan antara kesehatan anak dan kesehatan gigi merupakan suatu hubungan timbal balik, disini perkembangan gigi erat hubungannya dengan proses pertumbuhan dan perkembangan anak pada umumnya; keadaan kesehatan gigi dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak sebaliknya juga keadaan kesehatan seorang anak dapat mempengaruhi perkembangan giginya. Misalnya seorang anak dengan kesehatan gigi yang buruk dapat menyebabkan intake makanan tidak baik atau tidak sempurna, dan gigi yang sering mengalami infeksi selain dapat menimbulkan demam juga dapat merupakan Focal Infection. Sebaliknya keadaan kurang gizi dan kesehatan umum yang tidak baik pada masa-masa prenatal atau pasca natal menghambat perkembangan gigi anak. 1
Gigi susu merupakan penuntun dan menjaga pertumbuhan gigi permanen. Setiap usaha dilakukan untuk melindungi gigi susu. Kita harus teliti dalam memeriksa anak untuk kepastian bahwa mereka memiliki riwayat medis yang negatif dan perkembangan gigi permanen yang berklasifikasi pada titik dimana mereka tidak dapat dipengaruhi lagi oleh kemoterapi yang berasal dari perawatan pulpotomi.2
Istilah pertumbuhan dan perkembangan pada dasarnya merupakan dua peristiwa yang berlainan, akan tetapi keduanya saling keterkaitan. Pertumbuhan (growth) merupakan masalah perubahan dalam ukuran besar, jumlah, ukuran, atau dimensi tingkat sel, organ, maupun individu yang dapat diukur dengan ukuran berat (gram, kilogram), ukuran panjang (cm,meter). Sedangkan perkembangan (development) merupakan bertambahnya kemampuan (skill/keterampilan) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Dari dua pengertian tersebut di atas dapat ditarik benang merah bahwa pertumbuhan mempunyai dampak terhadap aspek fisik, sedangkan perkembangan berkaitan dengan pematangan fungsi sel atau organ tubuh individu, keduanya tidak bisa terpisahkan.2
Memang penting sekali bagi orangtua untuk mengetahui hal ini, semua itu dimaksudkan untuk mengetahui hal yang normal dalam rangka mendeteksi deviasi/penyimpangan dari normal. Dengan mempelajari tubuh kembang akan memberikan efek terhadap bagaimana menilai rata-rata perubahan fisik, intelektual, sosial dan emosional dari yang normal. Jika dalam hal tesebut ditemukan adanya kelainan atau keterlambatan dalam segi perubahan fisik, intelektual, sosial maupun emosional, kita sebagai seorang calon dokter gigi juga dapat menginformasikannya kepada orangtua anak tersebut. Informasi-informasi tersebut dapat diperoleh melalui pemeriksaan lengkap pada pasien anak. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya pemeriksaan lengkap dilakukan oleh seorang dokter gigi. Dengan mengacu pada hasil pemeriksaan lengkap, seorang dokter gigi dapat menentukan diagnosis, rencana perawatan serta upaya pencegahan yang dapat dilakukan oleh pasien.upaya pencegahan.
Sebelum memeriksa, dokter akan melakukan pendekatan khusus supaya anak tidak takut, canggung, ragu-ragu, dan lainnya. Pendekatan biasanya dilakukan dengan menyapa, memperkenalkan diri, mengenalkan peralatan dokter, dan sebagainya. Umumnya dilakukan sambil bermain. Setelah itu dokter akan memeriksa atau menanyakan data riwayat medis sejak masa prenatal, perinatal, dan pascanatal. Selanjutnya, dokter melakukan pemeriksaan rongga mulut si kecil. Dokter juga memeriksa jumlah gigi susu sesuai usia atau tanda-tanda-tanda erupsi, memantau pertumbuhan lengkung rahang, proses erupsi gigi sulung, serta mengobservasi benih gigi dengan cara dirontgen (panoramic photo) bila diperlukan. Namun yang terpenting di sini, dokter tak langsung mengambil tindakan yang radikal, sebab akan membuat anak trauma dengan rasa sakit yang ditimbulkannya, semisal cabut gigi. Untuk mencegah karies, dokter biasanya melakukan fluoridasi atau aplikasi fluor, terutama jika pola makan anak cenderung tinggi karbohidrat. Tapi tanpa fluoridasi pun sebenarnya karies bisa dicegah dengan pasta gigi yang sudah mengandung fluor.3
Pengenalan dan perawatan kesehatan gigi anak sejak dini merupakan sesuatu hal yang kadang-kadang menimbulkan rasa kekhawatiran pada setiap ibu. Para ibu mempunyai kekhawatiran bagaimana cara mempersiapkan anak untuk mempersiapkan anak -anaknya saat menerima perawatan gigi Selain itu para ibu juga merasakan kekhawatiran apabila telah melihat ada kelainan pada gigi anaknya. Rasa khawatir tersebut dapat ditanggulangi dengan cara mempersiapkan para calon ibu, dan para ibu dalam mengambil langkah-langkah apa yang dapat
dilakukan di dalam mengenalkan perawatan gigi pada anaknya serta menambah pengetahuan para ibu mengenai kelainan-kelainan pada gigi dan mulut anak yang sering ditemukan. Mulut merupakan pintu gerbang pertama di dalam sistem pencernaan. Makanan dan minuman akan diproses di dalam mulut dengan bantuan gigi geligi, lidah, dan saliva. Pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut merupakan salah satu upaya meningkatkan kesehatan.4
Gambar 1. Balita
Sumber: http://www.conectique.com/tips_s...d%3D6520
Mulut bukan sekedar untuk pintu masuknya makanan dan minuman tetapi fungsi mulut lebih dari itu dan tidak banyak orang menyadari besarnya peranan mulut bagi kesehatan dan kesejahteraan seseorang. Oleh karena itu kesehatan gigi dan mulut sangat berperan dalam menunjang kesehatan seseorang. Instruksi pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut di rumah telah banyak disusun oleh para ahli. Program tersebut menekankan pada pencegahan terjadinya karies. Oleh karena masih banyak para orang tua yang beranggapan bahwa geligi susu hanya sementara dan akan diganti oleh geligi tetap sehingga mereka tidak memperhatikan mengenai kebersihan geligi susu. Penerapan instruksi pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut sebaiknya telah dimulai sejak bayi masih di dalam kandungan, sehingga orang tua akan lebih siap dalam melakukan instruksi tersebut. 4
II.1 Peran Orang Tua dalam Merawat Gigi Anak
Peran serta orang tua sangat diperlukan di dalam membimbing, memberikan pengertian, mengingatkan, dan menyediakan fasilitas kepada anak agar anak dapat memelihara gigi dan mulutnya. Selain itu orang tua juga mempunyai peran yang cukup besar di dalam mencegah terjadinya akumulasi plak dan terjadinya karies pada anak Pengetahuan orang tua sangat penting dalam mendasari terbentuknya perilaku yang mendukung atau tidak mendukung kebersihan gigi dan mulut anak. Pengetahuan tersebut dapat diperoleh secara alami maupun secara terencana yaitu melalui proses pendidikan. orang tua dengan pengetahuan rendah mengenai kesehatan gigi dan mulut merupakan faktor predisposisi dari perilaku yang tidak mendukung kesehatan gigi dan mulut anak. Proses pelaksanaan instruksi kebersihan gigi dan mulut membutuhkan serangkaian proses yang dapat dimulai dengan mengajarkan orangtua atau pengasuh. Teknik penerapan ini sesuai dengan perkembangan kemampuan motorik dan kecerdasan anak. Berbagai sikap dan perilaku anak akan muncul pada saat dimulainya proses ini. Namun demikian anak akan mudah menyesuaikan apabila telah terjalin komunikasi yang interaktif antara anak dengan orang tua atau pengasuh. Perilaku merupakan suatu aktifitas manusia yang sangat mempengaruhi pola hidup yang akan dijalaninya. Proses pembentukan prilaku yang diharapkan memerlukan waktu serta kemampuan dari para orangtua di dalam mengajarkan anak. Oleh karena itu bila pola hidup yang dijalaninya merupakan pola hidup yang sehat maka perilaku yang akan diterapkan di dalam memelihara kesehatan gigi dan mulutpun merupakan pola hidup yang sehat. 4
Menurut ahli psikologi usia anak terdiri dari beberapa tingkatan yaitu usia bayi, anak,
prasekolah, sekolah, dan remaja. Beberapa pendekatan dalam menerapkan suatu perilaku dan
kebiasaan dapat diterapkan pada masing-masing kelompok tersebut. Pengetahuan para dokter gigi mengenai perkembangan perilaku anak merupakan hal penting di dalam melaksanakan program pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. 4
II.2 Perilaku Anak dalam Pemeriksaan dan Perawatan Gigi dan Mulut
Menurut Frankle Shiere dan Fogels (1962), ada beberapa tingkatan tingkah laku anak, yang selanjutnya disebut “Frankle Behavior Rating Scale”, yang dibedakan atas empat kategori, yang jelas negatif sampai yang jelas positif.5
1. Jelas negatif, ditunjukkan dengan menolak perawatan, menangis, takut, atau bermacam-macam hal yang kesemuanya itu menunjukkan hal yang negatif.
2. Negatif, hal ini ditunjukkan dengan ketidakkooperatifnya anak dengan dokter gigi, seperti sikap bersungut-sungut, tidak mau menjawab pertanyaan, dan sebagainya.
3. Positif, perawatan dapat dilaksanakan, tetapi kadang-kadang agak sukar walau masih mau menuruti kehendak dokternya.
4. Jelas positif, dapat bekerjasama dengan baik, dokternya sangat menarik perhatiannya, segala nasihat dokter gigi diperhatikan, dan menimbulkan situasi yang menyenangkan.
Berdasarkan pengalaman di praktik pribadi, hal-hal berikut ini sering dijumpai dan dapat menyulitkan perawatan gigi pada anak-anak.
1. Tipe yang dapat bekerja sama(kooperatif)
Tipe ini merupakan tipe tingkah laku yang terbuka, tingkah laku yang dapat mengerti tentang dirinya sendiri. Pasien santai dan kunjungan menjadi menyenangkan bagi apsien dan dokter gigi. Prosedur perawatan menjadi sempurna dengan menggunakan metode menceritakan-menunjukkan-melakukan (tell-show-do). Anak juga akan mudah mengikuti apa yang diinstruksikan oleh dokter gigi. Meskipun kooperatif, pasien tipe ini harus tetap ditangani sebagaimana mestinya dengan maksud bahwa dokter gigi menginginkan anak untuk tetap kooperatif dan menikmati pengalaman berkunjung ke dokter gigi.
2. T ipe tidak dapat bekerja sama (tidak kooperatif)
Ada dua kelompok pasien pada kategori ini :5
a. Dokter gigi mungkin akan mendapatkan kesulitan berkomunikasi dengan pasien yang sangat muda.
b. “handicapped children” Pasien yang cacat dimana tidak mampu mengerti dan berkomunikasi akibat cacatnya yang khusus.
Pasien yang tergolong sangat muda adalah 2 tahun ke bawah. Anak usia 2 tahun masih sangat tergantung pada ibunya. Kesulitan dalam menghadapi pasien ini yaitu sukar mengajaknya berbincang untuk meyakinkan seorang anak dikelompok umur ini disebabkan oleh karena kosakatanya masih terbatas.
3. Sangat tidak terkontrol (Histerik)
Anak usia muda antara 3-6 tahun mempunyai sifat tidak terkontrol. Pada anak yang baru pertama kali dibawa ke dokter gigi, kadang-kadang reaksinya sudah terlihat pada waktu masih di kamar tunggu. Reaksinya dapat berupa tangis keras, menyepak-nyepak, menendangkan kakinya ke mana saja, atau memulul-mukul tangan ibunya. Hal ini dapat diperkirakan sebagai pelampiasan rasa takut dan khawatir yang berlebih-lebihan.
Perilaku jenis ini dapat dicegah dengan mengevaluasi pasien sebelum dilakukan perawatan dan maemastikan tingkat kecemasan yang mereka miliki. Pasien dapat ditangani dengan usaha pendekatan dan bersikap lembut dan disertai pemberian penjelasan mengenai prosedur yang akan dijalaninya untuk mengurangi kecemasan.
4. Tipe keras kepala
Pasien yang menentang atau bersikap bodoh dan menjadi anak perusak. Ia melawan orang dewasa(pada kasus ini adalah dokter gigi dengan berkata,”Tidak, saya tidak amu! Kamu tidak bisa brbuat begitu pada saya”). Pasien biasanya berbuat hal itu di ruan praktek. Dengan perilaku demikian penanganan yang terbaik adalah dengan memanggilanak dengan menggertak dan diikuti dengan pendekatan yang tegas.
Bentuk lain dari tipe ini adalah pasien yang bersifat passif dan tidak melawan . Hal ini terlihat pada usia awal remaja dimana mereka melawan pada perampasan kebebasan yang diambil darinya. Pasien ini tidak mau bicara dan tidak merspon terhadap pertanyaan yang diberikan, ia akan sering duduk tanpa emosi dan tidak mau membuka mulutnya. Menangani tipe ini harus dilakukan tanpa melakukan paksaan fisik.
5. Pemalu
Anak pemalu masih lebih dapat diterima daripada anak yang melawan, asalkan dokter menghadapinya harus dengan cara yang tepat. Sifat ini dapat ditunjukkan dengan cara anak berlindung pada ibunya, menarik-narik baju ibunya, mencari-cari alasan, ragu-ragu, dan menangis tapi tidak keras.
Pasien anak yang pemalu sebenarnya memiliki tingkat ketertarikan yang cukup tinggi terhadap perawatan gigi yang akan diperolehnya namun dia tidak dapat langsung mengepresikan wujud ketertarikannya tersebut. Jadi, dokter gigi harus jeli untuk melihat potensi kooperatif yang ada pada pasien gigi anak tersebut. Dalam menangani pasien gigi anak sebaiknya diberikan penjelasan sekali saja mengenai perawatan gigi yang akan diperolehnya, jangan mengulangi penjelasan yang telah diberikan dan dokter gigi sebaiknya jangan banyak bertanya.
6. Tegang
Tingkah laku anak yang tegang, berada dalam batas negatif dan positif. Pada umumnya anak dapat menerima perawatan. Dapat dikenali dengan gerakan-gerakan, suaranya bergetar, matanya selalu mengikuti perubahan sikap dokter atau asistennya. Dahi dan tangannya berkeringat, seringkali badannya gemetar tetapi ia dapat mengatasi emosi.
Dokter gigi harus mampu mengenali pasien anak dengan perilaku tegang. Pasien jenis ini medak dikelola secara baimiliki potensi yang hampir sama dengan pasien pemalu, dimana mereka bias berpotensi untuk kooperatif dengan penanganan yang baik dan sebaliknya bila tidak dikelola secara baik. Pasien ini pada kunjungannya ke dokter gigi mnerima semua perawatan yang diberikan padanya secara tenang. Dokter gigi sebaiknya bersikap tenang, sabar, jangan memperburuk situasi,dan berikan pukian pada pasien gigi anak terhadap perawatan yang diterimanya.
7. Menangis berkepanjangan (Cengeng)
Anak yang menangis berkepanjangan malah dapat menunjukkan sifat dapat diajak kerjasama. Tangisannya menunjukkan manifestasi reaksinya tetapi ia tidak melaman waktu diadakan perawatan. Tetapi penampilannya mempunyai cirri-ciri yang khusus. Biasanya tangannya tidak keras, emosinya konstan, jarang disertai keluarnya airmata dan menimbulkan kesan yang mengesalkan.
Banyak masalah kecil yang menyebabkan anak menangis dalam perawatan gigi misalnya, saat ditinggal sendiri oleh orang tuanya walaupun hanya sebentar, atau saat didekati oleh dokter gigi atau perawat gigi yang merupakan orang yang baru dilihatnya. Hal ini bisa disebabkan orang tua terlalu dekat dan bersikap melindungi anak. Anak kurang dibiasakan untuk berada sendiri tanpa ditemani orangtua. Setiap kemauan anak selalu dituruti, terutama jika menangis. Anak kurang diberi kesempatan untuk berkomunikasi dengan orang lain yang bukan anggota keluarganya.
Pasien jenis ini bersikap cengeng sepanjang prosedur perawatan gigi. Meskipun demikian, mereka tetap bias menerima perawatan yang dilakukan dan juga bisa menerima perhatian dari dokter gigi. Salah satu metode penanganan di klinik gigi terhadap anak yang bersikap cengeng adalah dokter gigi harus bersikap sabar dan tenang. Dokter gigi sebaiknya memberikan pujian terhadp mereka jika bersikap kooperatif selama perawatan gigi dan menyampaikan bahwa tidak akan lama lagi dan mereka bias pulang ke rumah.
Dari beberapa tipe di atas, dalam memahami tingkat kooperatif pasien, Wrigth membaginya dalam tiga kategori yakni :
• Kooperatif : Anak dating dengan santai, rileks dengan rasa takut minimal, antusias terhadap perawatan gigi. Anak terseburt biasanya patuh terhadap instruksi yang diberikan.
• Kurang kooperatif : Ini biasanya terjadi pada anak yang masih muda (dibawah umur 3 tahun), anak-anak dengan cacat mental atau fisik dan anak-anak dengan pengetahuan yang minim.
• Berpotensi koopertaif : Karakteristik dari anak ini adalah adanya masalah prilaku. Tipe tingkah laku ini berbeda dengan anak yang tidak kooperatif karena anak ini memiliki kemampuan untuk menjadi kooperatif.
Usia 6-12 tahun adalah masa yang "kritis" bagi kesehatan gigi anak. di usia inilah setiap anak mengalami masa gigi campuran, yaitu gigi susu mulai tanggal satu-persatu, digantikan dengan gigi sulung. Di masa ini banyak sekali masalah yang timbul. Misalnya, satu gigi mau tumbuh, gigi lain berlubang. Atau salah satu gigi tumbuhnya miring, sedangkan gigi lainnya sulit menembus gusi sehingga menimbulkan pembengkakan, bahkan radang.6
Gambar 2. Merawat gigi Anak.
Sumber : http://nostalgia. nova.com/articles.asp?id=13235.
Ada dua tindakan yang penting dilakukan sejak gigi anak mulai tumbuh, yaitu tindakan preventif atau pencegahan, dan tindakan kuratif atau pengobatan. Tindakan pencegahan bisa berupa banyak hal. Yang paling dasar, memotivasi dan mendorong anak agar bergaya hidup bersih.
II.3 Persiapan Kunjungan Pasien
Pada orang tua biasanya mencoba mempersiapkan anak mereka untuk kunjungan kedokter gigi. Beberapa orang tua lebih banyak melakukan hal-hal yang buruk dari pada yang baik dalam melakukan hal-hal tersebut. Oleh karena itu, perlu menasehati orang tua bagaimana mempersiapkannya.7
Tujuan dari pada kunjungan pertama yaitu:7
a. Untuk menciptakan komunikasi dengan anak dan orang tua
b. Untuk mendapatkan keterangan yang penting yaitu riwayat pasien
c. Memeriksa anak dan untuk mendapatkan rontgen bila perlu
d. Untuk menjelaskan perawatan pada anak dan orang tua
Kebanyakan pasien merasa cemas pada kunjungan pertama kedokter gigi dan karena itu merupakan tujuan yang penting bagi dokter gigi dan stafnya untuk menghilangkan rasa cemas ini. Resepsionis harus menyambut anak dengan bersahabat dan bergembira, ruang tunggu harus diiisi sesuatu tentang anak misalnya poster anak-anak selebaran buku-buku dan mainan-mainan. Jadi, keseluruhan lingkungan tempat penerimaan dan ruang tunggu harus mampu mengkomunikasikan persahabatan dan penyambutan yang hangat. 6
Pada pertemuan dengan anak dan orang tua. Dokter gigi harus menciptakan komunikasi yang bersahabat dengan mereka sambil pada waktu bersamaan mencari informasi mengenai riwayat pasien. Idealnya, pertemuan ini tidak di lakukan dalam ruang perawatan tetapi diruang lain. Jika dalam ruang perawatan sebaiknya menyediakn kursi bagi anak bukan mendudukannya pada kursi perawatan gigi. 6
Pendekatan ini memungkinkan dokter gigi mengenali dan bila perlu menghilangkan kecemasan anak sebelum menempatkan anak pada situasi yang menegangkan. 6
Sebaiknya orang tua diminta untuk menemani anak agar dapat menceritakan riwayat yang lengkap. Dimana hal-hal yang terinci tidak dapat diperoleh dari anak sendiri. Lebih dari itu yang sangat muda atau takut, biasa nya memerlukan bantuan moral pada saat perawatan, setidak-tidaknya pada kunjungan pertama. Pada kunjungan berikutnya, dokter gigi harus memutuskan apakah akan memisahkan rang tua dan anak dengan cara meminta orang tua untuk menunggu di ruang tunggu. Beberapa dokter gigi menuntut agar anak di tinggal sendiri, sedang yang lain lebih fleksibel dan mendasarkan keputusannya pada usia dan kelakuan anak serta pada karakter ora ng tua. Bagaimanapun juga adalah penting utnuk menarik minat dan kerjasama orang tua, sehingga memungkinkan dilakuakn perawatan dirumah yang efektif. 6
Beberapa dokter gigi dapat berkomunikasi dengan anak secra mudah, sedang dokter gigi yang lain merasa sulit. Resep utama keberhasilan komunikasi adalah memperlihatkan rasa senang pada anak dan ini hanya dapat diperoleh dengan menanyakan pertanyaan yang sederhana mengenai rumah, sekolah dan permainan yang disukai dengan santai bersahabat gembira dan serta menggunakan kesempatan yang ada untuk berkomunikasi secara fisik, misalnya dengan bersaaman atau menepuk bahu anak atau dengan santai, atau menyentuh rambut anak untuk anak perempuan atau menggelitik anak kecil banyak kesempatan tergantung pada usia dan jenis kelamin anak. Khususnya pada anak yang sangat muda dan cacat mental, komunikasi visual dan fisik adalah yang sangat penting. 6
II.4 Riwayat Penyakit Anak
Informasi tentang riwayat pasien dibagi menjadi 3 bagian yaitu riwayat social, dental dan medis. Riwayat ini memberikan informasi yang berguna dan merupakan dasar dari rencana perawatan. 5
Hal-hal yang perlu diketahui mengenai riwayat sosial yaitu: 6
a. Nama lengkap/panggilan
b. Saudara laki dan perempuan
c. Binatang peliharaan
d. Hal-hal yang disukai di rumah dan di sekolah
Adapun hal-hal mengenai riwayat dental adalah sebagai berikut: 6
a. Keluhan anak
b. Penyebab kedatangan anak ke klinik
c. Riwayat keluhan yang lalu
Selain itu hal-hal yang mengenai riwayat medis anak yaitu: 6
a. Penyakit jantung congenital
b. Demam treumatik
c. Kelainan darah
d. Penyakit saluran pernapasan
e. Hepatitis
f. Penyakit gastrointestinal
g. Penyakit ginjal atau saluran kencing
h. Penyakit tulang atau sendi
i. Penyakit diabetes atau endokrin lain
j. Penyakit kulit
k. Kelainan congenital
l. Alergi misalnya penisilin
m. Pengobatan belakangan atau yang sedang dilakukan
n. Operasi sebelumnya atau penyakit serius
o. Kelainan subnormal mental epilepsi
p. Penyakit serius dalam keluarga
II.6 Perawatan Pendahuluan
Setelah memeriksa anak harus selalu dijelaskan tentang prosedur operatif sederhana. Idealnya bila anak tidak mempunyai keluhan rasa sakit atau keluhan lainnya. Perawatan berupa pemolesan dengan menggunakan sikat dan rubbercup dengan handpiece kecepatan rendah. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan kepada anak bagaimana rasanya perawatan gigi dan untuk memperlihatkan bahwa ini adalah pengalaman yang menyenangkan. Ini penting khususnya pada anak yang baru pertama kali datang. 6
II.7 Menyudahi Perawatan
Sebelum anak diperbolehkan pulang, dokter gigi harus memberi penjelasan kepada orang tua mengenai perawatan yang telah dilakukan. Mungkin pada kunjungan pertama cukup dilakukan perawatan pencegahan bukan membahas metode yang akan digunakan. Akhirnya, beberapa petunjuk perlu diberikan pada orang tua mengenai kemungkinan lamanya perawatan, karena orang tua dapat kecewa jika mereka diminta untuk membawa anaknya dua kali kunjungan atau tiga kali kunjungan padahal prosedur perawatan memerlukan beberapa kali kunjungan. Oleh karena itu rencana perawatan harus betul-betul dijelaskan kepada orang tua. 6
II.8 Ringkasan Kunjungan Pertama
Prosedur yang dianjurkan untuk kunjungan pertama dapat diringkas sebagi berikut: 6
1. Catat riwayat
a. Sosial
b. Dental
c. Medis
2. Periksa anak
a. Ekstraoral
b. Intraoral
3. Ambil radiografi jika diperlukan
a. Untuk lihat karies gigi-bite wing
b. Untuk lihat pertumbuhan gigi geligi
c. Untuk menemukan gangguan spesifik
4. Lakukan prosedur operatif sederhana
5. Jelaskan tujuan perawatan pada orang tua.
Seharusnya pemeriksaan gigi dimulai sejak anak berusia 6 bulan, yaitu pada saat gigi tumbuh untuk pertama kalinya. Kemudian pemerikasaan dilakukan lagi pada saat anak berusia 9 atau 10 bulan. Kemudian berlanjut saat usia anak menginjak 2 tahun. Pada usia ini gigi anak sudah tumbuh lengkap. Masalah yang harus ditanyakan adalah mengenai munculnya carries gigi serta cara menggosok gigi yang benar agar tidak berakibat buruk dikemudian hari. Selanjutnya, lakukan pemerikasaan gigi anak secara rutin yaitu tiap 6 bulan sekali. Jadi jangan tunggu anak mengeluh sakit gigi kemudian baru dibawa ke dokter gigi. 7
Gambar 3. Anak-anak sedang menyikat gigi
Sumber :http://www.preventionindonesia.com/article.php?name=/investasi-senyum- sejak-kecil&channel=lifelong_beauty/teeth_and_smile&print=1
III.1 Anamnesis
Anamnesis adalah hasil tanya jawab antara dokter kepada pasien secara professional.
Gambar 4. Pemeriksaan pada anak
Sumber : http ://www.conectique.com
Pada pasien anak pertanyaan tersebut lebih di ajukan kepada orang tua pasien. Pertanyaan yang dapat diajukan adalah sebagai berikut:
Penderita dengan umur 0 - 3 tahun
1. Apakah ibu pernah mendapat pengobatan antibiotic sewaktu mengandung anak tersebut?
2. Apakah sewaktu mengandung anak tersebut ibu pernah memakan vitamin atau mineral?
3. Berapa lama anak ibu minum susu botol?
4. Apakan anak itu menghisap pacifier atau dot?
5. Berapa lama anak menghisap pacifier atau dot?
6. Apakah ia mudah terluka?
7. Bila terluka apakah ada pendarahan sukar berhenti?
8. Apakah anak ini sedang menerima perawatan medis?
9. Kapan kunjungan terakhir pada anaknya?
10. Tujuan kunjungannya?
11. Apakah pernah dirawat di rumah sakit?
12. Penyakit sebelumnya
a. Jantung
b. Alergi
c. Measles
d. Nephritis
e. Diabetes
f. Diare
g. Gangguan pendarahan
h. Cacar air
i. Rheumatic fever
j. Asma
k. Epilepshi
l. Gangguan endocrine
13. Berangkat ke dokter dengan mudah atau sulit
14. Nafsu makan
15. Makan waktu tidur
16. Kesehatan anak saat ini sehat atau sakit
17. Keadaan tidur anak tadi malam nyenyak, gelisah, menangis
18. Apakah pernah mengunjungi dokter gigi
Penderita dengan umur 3,1 - 6 tahun
1. Apakah anak ini sedang menerima perawatan medis?
2. Kesehatan anak saat ini sehat atau sakit
3. Kapan kunjungan terakhir pada dokternya
4. Tujuan kunjungannya
5. Apakah pernah dirawat di rumah sakit
6. Apakah ia mudah terluka
7. Bila terluka apakah pendarahan sukar berhenti
8. Penyakit sebelumnya
a. Jantung
b. Alergi
c. MeasLes
d. Nephritis
e. Diabetes
f. DiarE
g. Gangguan pendarahan
h. Cacar air
i. Rheumatic fever
j. Asma
k. Epilepsy
l. Gangguan endocrine
9. Temperatur
10. Nafsu makan
11. Makan permen
12. Makan kue-kue kering basah
13. Makan waktu tidur
14. Apakaah pernah mengunjungi dokter gigi
15. Perawatan gigi sebelumnya
16. Kebiasaan jelek
a. Bernapas melalui mulut
b. Menghisap jempol
c. Menggigit pipi, kuku dan bibir
Penderita dengan umur 6,1 - 12 tahun
1. Apakaah anak ini sedang menerima perawatan medis
2. Kesehatan kunjungan terakhir pada dokternya
3. Tujuan kunjungannya
4. Apakah pernah dirawat di rumah sakit
5. Penyakit sebelumnya
a. Jantung
b. Alergi
c. Measles
d. Neprithis
e. Diabetes
f. Coeliae
g. Gangguan pendarahan
h. Cacar air
i. Rheumatic fever
j. Astma
k. Epilepsy
l. Gangguan nendoerine
6. Temperature
7. Nafsu makan
8. Makan permen
9. Makan kue kering atau basah
10. Makan waktu tidur
11. Apakah pernah mengunjungi dokter gigi
12. Perawatan gigi sebelumnya
13. Kebiasaan jelek
a. Bernafas melalui mulut
b. Menghisap jempol jari
c. Menggigit bibir,kuku,pipi
d. Tongue thrusting
e. Bruxism
14. Keadaan anak datang dalam keadaan sehat atau sakit
15. Dapat berkomunikasi atau tidak
Selain itu anamnesis untuk pemeriksaan ekstra oral, intraoral dan radiografi adalah sebagai berikut:
1. Pemeriksaan ekstra oral
1.1. Muka symetris/Asymetris
1.2. Pipi
1.3. Pembengkakan region
1.4. Kelenjar limfe kiri,kanan
2. Pemeriksaan intra oral
2.1. Mukosa mulut
2.2. Bibir
2.3. Gingiva
2.4. Palatum
2.5. Lidah
2.6. Dasar mulut
2.7. Tonsil
2.8. Frenulum
3. Status oklusi
3.1. Hubungan M RA dan RB
- Kiri : net/mes/dis
- Kanan : net/mes/dis
3.2. Garis median
3.3. Bentuk gigi depan
3.4. Crowding RA dan RB
3.5. Malposisi RA dan RB
3.6. Klasifikasi angle
3.7. Cross bite
3.8. Open/deep bite
4. Hygiene mulut
4.1. Baik/sedang/kurang
4.2. Karang gigi
4.3. Sikat gigi
III. 2 Pemeriksaan Klinis
III.2.1. Pemeriksaan Ekstraoral
Setiap kelainan ekstraoral yang nampak yang dicatat selama pencatatan riwayat dapat diperiksa lebih lanjut. Garis besar pokok-pokok yang perlu dicatat sebagai berikut :
Adapun garis besar pemeriksaan klinik, yaitu:
- Penampilan umum-besar dan berat.
- Cara berjalan.
- Kulit, corak.
- Mata, bibir.
- Simetrisitas wajah.
- Kelenjar limfa.
Pemeriksaan klinis ekstraoral
Pembengkakan ekstraoral terjadi sebagai selulitis, tempatnya bergantung pada penyebaran infeksi sepanjang bidang fasial. Di mandibula, biasanya melibatkan daerah submandibular sebagai akibat radang pada gigi molar sulung kedua atau gigi molar permanen pertama. Di maksila, akibat radang pada gigi kaninus an gigi molar sulung pertama dapat sedemikian hebat sehingga menutupi mata. Drainase ekstraoral akhirnya dapat terjadi melalui tempat lemah resistensinya yaitu kulit. Biasanya orangtua pasien akan mencari pertolongan sebelum terjadi drainase ekstraoral karena adanya panas dan abnormalitas yang jelas.
III.3 Pemeriksaan Intraoral
Pemeriksaan radiografi ekstraoral yang umum dilakukan akan memberikan gambaran periapikal tertentu yang dapat memperlihatkan keadaan periapikal, misalnya gigi dengan pulpa yang terbuka, atau gigi yang mengalami trauma atau dirawat saluran akar.
Jika ditemukan sebuah gigi tidak erupsi atau odontoma pada pemeriksaan radiografi, mungkin perlu ditentukan letaknya, apakah di labial, atau palatal dari akar gigi yang tidak erupsi, penjelasan ini biasanya diperlukan bagi gigi supernumerari yang tidak erupsi. Posisi labio-palatal dapat ditentukan dengan menerapkan prinsip parallax dari dua radiografi periapikal yang diambil dari daerah yang sama tetapi pada sudut yang berbeda; sebagai gantinya dapat digunakan nasal-oklusal atau off centre periapical.
Sebuah radiografi oklusal dari mandibula dapat digunakan dalam menentukan posisi buko-lingual dari gigi mandibula yang tidak erupsi.
Diharapkan agar kecemasan yang dirasakan oleh anak pada kedatangannya dapat dikurangi atau dihilangkan selama periode pencatatan riwayat. Kemudian, anak juga harus duduk tenang pada kursi perawatan.
Pada anak yang sangat muda, pendekatan sebaiknya dilakukan oleh dokter gigi dengan menanyakan “berapa banyak gigimu?” dan menganjurkan “mari kita hitung”; hal ini tentunya kurang menakutkan bagi anak dari pada “saya ingin lihat gigi-gigimu”. Jika anak masih tidak mau duduk pada kursi perawatan, orangtua harus diminta untuk memangku anak dengan kepala ditahan dengan lengan kanan orangtua. Pada posisi ini, anak akan merasa aman, orangtua dapat membantu menahan gerakan-gerakan yang tidak diinginkan bila perlu, dan dokter gigi dapat melakukan pemeriksaan mulut dengan baik. Jika anak menangis, pemeriksaan tetap dapat dilanjutkan, dokter gigi harus mengabaikan tangisan sambil menghitung gigi-gigi dengan keras, setelah itu anak diperolehkan duduk kembali. Ia akan belajar bahwa tidak ada yang sakit waktu diperiksa dan menangis tidak akan mengganggu dokter gigi. Dengan pelajaran ini, perawatan pendahuluan dapat dilanjutkan dengan cara biasa.
Pemeriksaan awal yang dilakukan pada keadaan seperti ini tidak perlu mendetail. Jika digunakan sonde, harus diingat bahwa terlihatnya alat yang tajam atau runcing dapat menyebabkan kecemasan dan kecerobohan dalam mempergunakan alat tersebut dapat menyebabkan timbulnya rasa sakit. Perawatan sederhana dapat dimulai dengan anak dipangku orangtua, bila anak sudah percaya diri, ia akan dengan senang hati duduk sendiri.
Pendekatan yang dijelaskan di atas jelas tidak praktis pada anak yang lebih dewasa yang terlalu besar untuk dipangku. Jika anak sudah besar dan tidak kooperatif setelah pencatatan riwayat dan tidak mau duduk pada kusi perawatan, lebih baik menunda pemeriksaan mulut dan mulai dengan proses pembentukan tingkah laku dengan cara yang berbeda, misalnya penjelasan kesehatan mulut. Walaupun situasi ini tidak sering terjadi, situasi ini sering dijumpai pada anak dengan cacat mental. Jelas, jika anakdibawa karena gangguan tertentu yang mungkin memerlukan perawatan segera, harus segera dicari jalan untuk memeriksa anak, tetapi jika alasannya hanya untuk melakukan pemeriksaan rutin, penundaan pemeriksaan mulut sampai diperoleh kerja sama dari anak sering merupakan keputusan yang benar dan paling berhasil untuk jangka panjang.
Adapun pemeriksaan garis besar Intraoral, yaitu:
a. Jaringan lunak
- Pipi
- Bibir
- Lidah
- Tonsil
- Palatum lunak dan keras
- Gingiva
b. Gigi
- Kebersihan mulut.
- Keadaan gigi-gigi.
- Posisi crowding, spasing, drifting.
- Oklusi.
Molar pertama tetap dan kaninus.
Insisivus-overjet, overbite.
- Mobilitas-eksfoliasi gigi susu, abses, periodontitis.
- Warna gigi non-vital, staining intrinsik, karies.
- Struktur hipoplasia, hipomineralisasi.
c. Karies
Pemeriksaan Klinis
1. Pembengkakan
Pembengkakan dapat timbul intraoral, terlokalisasi pada gigi yang ifeksi atau ekstraoral, dlam bentuk selulitis. Pembengkakan ini disebebkan oleh eksudat pradangan yang berhubungan dengan gigi nonovital. Karena pembengkakan mungkin tidak terlihat pada saat pemeriksaan, perlu diajukan pertanyaaan dengan cermat kepada anak maupun orangtuanya untuk menemukan adanya riwayat pembengkakan.
Pembengkakan intraoral biasanya terlihat di sebelah bukal, walaupun dalam keadan jarang, dapat terlihat di lingual atau platal. Di daerah bukal, tulangnya lebih tipis daripada di palatal atau lingual, sehingga produk peradangan dari periapikal atau inter radikuler menembus melalui tempat yang resistensinya. Tekanan pembengkakan akhirnya akan menyebabkan drainase spontan, bila tidak dilakukan perawatan. Drainase yang paling sering terjadi ialah intraoral, baik melalui tepi gingival ataupun melalui fistula. Fistula ini biasanya terlihat dekat atau pada pertemuan antara gingival cekat dan mukosa alveolar karena tempat ini berdekatan dengan daerah interradikuler, yang biasanya merupakan tempat berkumpulnya hasil peradangan pada gigi molar sulung nonvital. Sekali terjadi fistula, radang jarang menjadi akut karena telah terjadi drainase.
Pulpa gigi dengan pembengkakan umumnya non vital. Namun, dapat saja terjadi bahwa masih terdapat jaringan pulpa yang vital, walaupun meradang, di salah satu saluran akar, sedangkan saluran akar sebelahnya nonvital. Untuk tujuan perawatan pulpa, seluruh pulpa harus dianggap nonvital.
2. Mobilitas
Mobilitas gigi sulung dapat terjadi sebagai akibat proses fisiologis maupun patologis. Penilaian radiografis pada akar gigi sulung, kedudukan mahkota, dan jumlah pembentukan akar gigi permanen pengganti di bawahnya membantu menentukan apakah mobilitas itu fisiologis atau patologis. Resorpsi fisiologis lebih dari setengah panjang akar merupakan kontraindikasi untuk perawatan pulpa dan pencabutan perlu untuk dipertimbangkan.
Mobilitas patologis disebabkan oleh resorpsi akar atau tulang atau keduanya, dan keadaan ini menjadikan gigi nonvital. Resorpsi tulang ditandai oleh radiolusensi periapikal atau inerradikuler atau keduanya pada radiogram. Radiolusensi paling sering terlihat di daerah interradikuler atau furkasio.
3. Perkusi
Kepekaan terhadap perkusi menunjukkan bahwa peradangan telah meluas melewati gigi ke dalam jaringan pperiodontal. Pasien akan mengatakan bahwa giginya terasa sakit bila menggigit keras. Gejala ini dapat diperiksakan secara klinis dengan menyuruh anak menggigit gagang kaca mulut atau tekanan jari. Rasa sakit disebabkan oleh tekanan eksudat di dalam jaringan periodontal. Kadang radiogram periapikal menunjukkan bahwa eksudat telah mendorong gigi dari soketnya. Bila ini terjadi, gigi akan mengalami oklusi premature dan hal ini dapat juga menjelaskan adanya gejala sakit waktu mengunyah.
Rasa sakit waktu perkusi menunjkkan bahwa radang pulpa telah meluas paling sedikit ke filament radikulr dan kemungkinan besar gigi sudah mengalami nekrosis. Nilai diagnosis tes perkusi pada gigi sulung kurang dapat diandalkan kaena adanya faktor psikologis. Pada gigi permanen muda, tes perkusi mempunyai nilai lebih berarti, karena diterapkan pada anak yang lebih besar yang mampu memberikan reaksi yang dapat dipercaya. Kepekaan terhadap perkusi dapat juga terjadi pada gigi dengan pulpa vital yang meradang. Jadi, gigi dengan reaksi positif pada perksi tidak serta merta menunjukkan bahwa gigi tersebut nonvital.
4. Tes vitalitas
Tes vitalitas, baik seca termal maupun elektrik sangat sedikit kegunaanna pada gigi sulung. Walaupun tes tersebut kadang memberikan indikasi pulpa vital, reaksi tesebut tidak menunjukkan derajat kelainan yang ada. Ketakutan terhadap sesuatu yang tidak ikenal dapat membuat anak takut akan vitalotester elektrik, sehingga anak memberikan reaksi yang ia pikir benar tetapi bukan sebenarnya. Demikian pula, gigi sulung normal yang sehat mungkin tidak memberikan reaksi pada pemeriksaan vitalitas.
Nilai nyata tes vitalitas, baik termal maupun elekrik ialah pada gigi permanen, yaitu pada waktu membndingkan sebuah gigi dengan pasangannya pada waktu.
III.4 Pemeriksaan Radiografi
Kadang-kadang pemeriksaan klinis dapat memberikan semua keterangan yang diperlukan mengenai pasien, disini mungkin tidak diperlukan radiografi. Bagaimanapun juga, radiografi biasanya diperlukan untuk satu atau alasan-alasan berikut :
1. Untuk mendiagnosa karies gigi pada permukaan gigi yang tidak bisa dilihat pada pemeriksaan klinis.
2. untuk mendeteksi kelainan pada perkembangan gigi.
3. untuk menemukan gangguan khusus, misalnya kondisi jharingan periapikal yang berhubungan dengan gigi-gigi non-vital atau yang mengalami trauma.
Karies Gigi
Radigrafi bite wing penting untuk diagnosis karies pada permukaan aproksimal. Studi yang dilakukan pada anak-anak berumur 5-7 tahun menunjukkan bahwa sekitar 2/3 lesi permukaan aproksimal tidak akan terdeteksi jika tidak digunakan radiografi. (Murray dan Majid, 1978). Lesi aproksimal dapat berkembang membentuk kavitas-kavitas yang besar, yang mungkin dapat melibatkan pulpa, sebelum dapat dideteksi secara klinis.
Dengan meningkatnya penggunaan fissure sealant dalam tahun-tahun belakangan, radiografi bite wing menjadi penting untuk diagnosis karies oklusal yang mungkin terjadi jika sealant rusak (walaupun karies oklusal yang dini tidak mudah didiagnosa pada radiografi).
Kelaianan Perkembangan Gigi
Tujuan ilmu kedokteran gigi pada anak adalah mengamati perkembangan gigi dan jika mungkin mencegah atau menghilangkan akibat-akibat yang tidak diinginkan yang mungkin disebabkan oleh kelainan pada struktur gigi. Deteksi kelainan yang dini memerlukan penyelidikan radiografi yang lengkap.
Walaupun menarik untuk mengetahui adanya kelainan selama tahap pertumbuhan gigi susu, cara ini tidak praktis dilakukan pada usia semuda itu, oleh karena itu, biasanya lebih disukai menunggu sampai tahap awal gigi geligi campuran sebelum melakukan radiografi yang diperlukan
Pemeriksaan radiografi yang lengkap dari pasien anak umur 7-8 tahun seharusnya merupakan pemeriksaan yang rutin, dan ini dapat diperoleh melalui salah satu kombinasi radiografi berikut ini :
1 a). lateral oblik kanan dan kiri (bimolar) untuk melihat gigi-gigi maksila dan mandibula yang berada di distal kaninus.
b). nasal oklusal standar untuk memprlihatkan daerah anterior maksila.
c) Mandibula anterior oklusal untuk melihat daerah anterior mandibula. Kelainan pada daerah ini jarang terjadi, dan hal ini biasanya tidak dilakuakn, kecuali terdapat alasan yang pasti untuk melakukannya.
2. a) radiografi periapikal untuk melihat gigi-gigi posterior.
b) nasal oklusal dan mungkin mandibular anterior oklusal.
Biasanya diperlukan 4 film periapikal (satu untuk tiap segmen posterior), tetapi untuk anak yang lebih besar diperlukan 8 film. Dan karena teknik intraoral membutuhkan kerja sama yang besar dari anak dibandingkan teknik ekstraoral, cara tersebut tentunya lebih tidak enak dibandingkan radiografi bimolar. Akan tetapi beberapa dokter gigi secara rutin membuat radiografi periapikal gigi molar dan lebih menyukai kaninus dan insisivus dibandingkan gambaran oklusal (Kennedy, 1979).
3. a) radiografi panoramik untuk melihat gigi geligi lengkap.
b) nasal oklusal untuk melihat daerah anterior maksila dengan lebih jelas.]
Radiogram panoramic berguna untuk menilai keadaan mulut secara keseluruhan dan perkembangan oklusi. Walaupun kurang memberikan gambaran yang rinci, radiogram tersebut dapat menunjukkan dengan cepat, gigi yang karies dan keadaan gigi yang telah dirawat.
Penilaian yang diperoleh dari radiogram periapikal dengan kualitas yang baik dan radiogram sayap gigit dapat mencakup seluruh aspek, baik anatomis, patologis, maupun perkembangan. Dari aspek anatomis, akan terungkap adanya akar yang sangat divergen, saluran akar yang bengkok, adanya saluran akar tambahan, lokasi tanduk pulpa, bentuk, ukuran, panjang, dan jumlah akar.
Dari aspek patologis, akan terungkap kedalaman dan kedekatan karies ke pulpa, derajat dan keterlibatan pulpa pada karies atau trauma, jumlah dentin reparatif, ketebalan membrane periodontal, massa yang mengalami pengapuran dalam pulpa, keterlibatan periapikal atau furkasi, resorbsi interna, dan fraktur akar. Dari aspek perkembangan akan terungkap tahap perkembangan (pembengkakan akar dan penutupan apeks, resorbsi fisiologis dan jumlah tulang penyangga, tahap erupsi gigi pengganti), derajat kematangan pulpa (ukuran ruang pulpa, lebar saluran akar, jumlah penutupan akar) dan sejumlah anomaly seperti (dens in dente, traurodonsia, makrodonsia, dan tidak adanya gigi pengganti secara kongenital. Radiogram juga bermanfaat untuk mengevaluasi keberhasilan dan kegagalan perawatan polpotomi atau pulpektomi.
Walaupun nilai diagnostiknya besar, pemeriksaan radiografis dapat mengelabui untuk berpikir, bahwa tidak ada kelainan periapikal atau kelainan interradikuler, sesangkan kenyataaannya mungkin terdapat kelainan histologist. Ini disebabkan oleh lesi mikroskopisharus mencapai suatu taraf tertentu sebelum terlihat pada pemeriksaan radiografis. Selanjutnya, tumpang tindih gigi sulung dengan gigi permanen pengganti dapat menutupi keadaan yang sebenarnya, terutama pada gigi sulung rahang atas.
Setelah pemeriksaan didelesaikan dengan saksama, hasil pemeriksaan perlu ditinjau secara sistematis. Pertama tama ditentukan apakah gigi vital atau nonvital, kemudian ditentukan kemungkinan perawatan. Apakah gigi diperlukan dalam lengkung rahang dan tidak akan dicabut untuk perawatan ortodontik, dan apakah gigi dapat direstorasi. Jangka waktu yang diramalkan sebelum eksfoliasi akan menentukan tipe atau jenis perawatan dan restorasi yang akan dilakukan. Pada gigi sulung yang akan mengalami eksfoliasi dalam waktu 2-3 bulan, sebaiknya tidak dilakukan perawatan pulpa. Perlu ditentukan pula apakah tidak ada kontraindikasi sistemik untuk perawatan pulpa. Potensi penyembuhan pulpa ditentukan atas dasar derajat kematangan pulpa. Pulpa yang sangat muda dengan foramen apical berbentuk corong, mempunyai potensi penyembuhan yang baik, sedeangkan pulpa yang tua dengan apeks yang tertutup atau saluran akar yang tersumbat, mempunyai potensi penyembuhan yang kurang baik. Selanjutnya dievaluasi jarak dari infeksi atau trauma ke pulpa, apakah terdapat dentin sehat yang cukup tebal, apakah diduga terdapat perforasi yang kecil sekali kedalam pulpa dan apakah pulpa betul-betul terlibat. Keterlibatan jaringan periapikal dan periodontal juga dievaluasi. Selanjutnya dibuat diagnosis sementara.
III.5 Diagnosa
Diagnosis adalah ilmu pengetahuan tentang mengenai suatu penyakit melalui tanda, gejala klinis dan pengujian klinis.
Langkah dasar dalam proses diagnostic :
- Keluhan utama (chief complaint)
- Health history (medical and dental)
- Pemeriksaan mulut (oral examination)
- Analisa data untuk DD (Differential Diagnosis)
- Rencana perawatan (treatment plan)
Pemeriksaan subyektif meliputi:
- Keadaan pada saat itu : keadaan umum, emosional, kecemasan.
- Adanya nyeri : intensitas, spontanitas, kontinuitas
- Riwayat medis
Riwayat dental
Keterangan yang dikumpulkan dari pemeriksaan klinis dan radiografis biasanya dapat digunakan untuk penegakkan diagnosis. Kadang-kadang diperlukan bantuan diagnostik lain, misalnya tes vitalitas pulpa untuk gigi yang mengalami trauma atau studi model untuk pemeriksaan ortodonsi. Diagnosis adalah penentuan tiap penyakit yang mempengaruhi kelainan yang mempengaruhi perkembangan gigi. Diagnosis mempengaruhi rencana perawatan terhadap gangguan yang ada.
Sekali gigi dibuka, diagnosis sementara akan diperkuat atau diubah. Sebaiknya dipilih prosedur yang kuat tetapi kurang radikal, karena hal ini akan memberikan kesempatan untuk membuat alternative perawatan yang lebih radikal bila kelak diperlukan. Contoh
• Daerah dentin sensitive yang kecil yang menutupi pulpa normal hanya membutuhkan restorasi yang sederhana, sedangkan dentin yang terkena karies luas membutuhkan pengobatan dan tumpatan sementara untuk memberikan kesempatan bagi pulpa agar sembuh kembali.
• Pulpa normal yang sedikit mengalami hyperemia di bawah karies yang dalam membutuhkan perlindungan pulpa indirek (indirect pulp capping)
• Pulpa normal dan sehat yang terbuka merupakan indikasi perlindungan pulpa direk (direct pulp capping)
• Karies dalam yang menyebabkan pulpa terbuka atau infeksi superficial pulpa bagian korona pada gigi sulung, merupakan indikasi perawatan pulpotomi.
• Karies dalam yang melibatkan pulpa atau terdapat tanda-tanda degenerasi pulpa yang ekstensif merupakan indikasi untuk perawatan pulpektomi.
• Nekroosis pulpa atau keterlibatan ringan furkasi atau apeks tanda kehilangan jaringan penyangga yang cukup, merupakan indikasi untuk perawatan pulpektomi.
Yang perlu dievalusi adalah :
1. Apakah pasien mengeluhkan rasa tidak enak atau menunjukkan tanda abnormal lain atau gejala yang berhubungan dengan gigi yang dirawat. Hal ini akan merupakan kesempatan untuk menilai masalahnya dan mengadakan perawatan sebelum terjadi kerusakan lebih lanjut.
2. Diajurkan pula untuk mengikuti kasus tersebut dan mengadakan evalusi ulang terhadap reaksi perawatan. Perkembangan tanda-tanda klinis atau gejala-gejala seperti sakit,pembengkakan atau mobilitas menunjukkan kegagalan perawatan.
3. Prosedur yang kurang radikal memerlukan tindak lanjut yang paling cepat, misalnya menentukan dini bahwa perlindungan pulpa (pulpa capping) tidak berhasil akan memberikan kesempatan untuk melakukan perawatan pulpotomi sebelum prosedur yang lebih radikal diperlukan. Periode kritis untuk melakukan evaluasi ulang pada perawatan perlindungan pulpa (pulpa capping) adalah kira-kira 8 minggu, sedangkan evaluasi ulang untuk perawatan pulpotomi paling lama tiga bulan dan perawatan pulpektomi 6-12 bulan.
4. Evaluasi ulang paling penting sekali bagi pasien dan dokter gigi. Sementara hal itu dipertimbangkan sebagai pendekatan preventif untuk pasien, bagi dokter gigi hal tersebut bersifat mendidik. Evaluasi tersebut memberikan pengalaman dalam pemilihan kasus dan mempertajam keputusan klinis.
BAB IV
PENUTUP
IV.1 Simpulan
Dari penjelasan makalah diatas maka dapat ditarik kesimpulan yaitu:
Peran serta orang tua sangat diperlukan di dalam membimbing, memberikan pengertian, mengingatkan, dan menyediakan fasilitas kepada anak agar anak dapat memelihara gigi dan mulutnya.
Ada dua tindakan yang penting dilakukan sejak gigi anak mulai tumbuh, yaitu tindakan preventif atau pencegahan, dan tindakan kuratif atau pengobatan. Tindakan pencegahan bisa berupa banyak hal. Yang paling dasar, memotivasi dan mendorong anak agar bergaya hidup bersih.
Kebanyakan pasien merasa cemas pada kunjungan pertama kedokter gigi dan karena itu merupakan tujuan yang penting bagi dokter gigi dan stafnya untuk menghilangkan rasa cemas ini.
Informasi tentang riwayat pasien dibagi menjadi 3 bagian yaitu riwayat social, dental dan medis.
Catat riwayat
o Social
o Dental
o Medis
Periksa anak
o Ekstraoral
o Intraoral
Ambil radiografi jika diperlukan
o Untuk lihat karies gigi-bite wing
o Untuk lihat pertumbuhan gigi geligi
o Untuk menemukan gangguan spesifik
Lakukan prosedur operatif sederhana
Jelaskan tujuan perawatan pada orang tua.
Anamnesis adalah hasil tanya jawab antara dokter kepada pasien secara professional.
Diagnosis adalah ilmu pengetahuan tentang mengenai suatu penyakit melalui tanda, gejala klinis dan pengujian klinis.
IV.2 Saran
Adapun saran atau masukan kepada paper ini sangat di harapkan, demi bertambah luasnya wawasan yang dapatditerima dari pembelajaran ini. Serta memohon maaf apabila terdapat kekurangan atau kesalahan dalam makalah ini dikarenakan kurangnya referensi yang kelompok kami miliki dan sebagai manusia biasa, kami tidak luput dari kesalahan.
Sumber >>>>
1. Kabul, Tite. Pengelolaan Anak dengan Caries. Available from :http://www.portalkalbe.html
2. T.Hermina Maimun. Perawatan pulpotomi pada molar desidui yang berfistel.
3. Drg. Ibnu Ali, Sp.KGA. pemeriksaan ke dokter gigi. www.tabloid-nakita.com/Khasanah/khasanah09438-07.htm
4. ( Eriska Riyanti, Pengenalan dan Perawatan Kesehatan Gigi Anak Sejak Dini ) Available from : www.akademik.unsri.ac.id. Accessed February, 2010 )
5. Soegiyono. Tingkah Laku Anak Pada Perawatan Gigi Serta Penanggulangannya. M.I. Kedokt. Gigi. 1990;15(5):183-185
6. Albert cahyadi. Kerusakan Gigi pada balita. Available from : http://www.parenting.co.id/forum/forum_detail.asp?catid=&id=38&topicid=6067
7. R.J Andlaw, W.P. Rock. Perawatan Gigi Anak. Jakarta : Widya Medika. 1994
8. Q n A. General Check up untuk si kecil. www, Available From : conectique.com. Accessed February 16, 2010
Gigi susu merupakan penuntun dan menjaga pertumbuhan gigi permanen. Setiap usaha dilakukan untuk melindungi gigi susu. Kita harus teliti dalam memeriksa anak untuk kepastian bahwa mereka memiliki riwayat medis yang negatif dan perkembangan gigi permanen yang berklasifikasi pada titik dimana mereka tidak dapat dipengaruhi lagi oleh kemoterapi yang berasal dari perawatan pulpotomi.2
Istilah pertumbuhan dan perkembangan pada dasarnya merupakan dua peristiwa yang berlainan, akan tetapi keduanya saling keterkaitan. Pertumbuhan (growth) merupakan masalah perubahan dalam ukuran besar, jumlah, ukuran, atau dimensi tingkat sel, organ, maupun individu yang dapat diukur dengan ukuran berat (gram, kilogram), ukuran panjang (cm,meter). Sedangkan perkembangan (development) merupakan bertambahnya kemampuan (skill/keterampilan) dalam struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam pola yang teratur dan dapat diramalkan, sebagai hasil dari proses pematangan. Dari dua pengertian tersebut di atas dapat ditarik benang merah bahwa pertumbuhan mempunyai dampak terhadap aspek fisik, sedangkan perkembangan berkaitan dengan pematangan fungsi sel atau organ tubuh individu, keduanya tidak bisa terpisahkan.2
Memang penting sekali bagi orangtua untuk mengetahui hal ini, semua itu dimaksudkan untuk mengetahui hal yang normal dalam rangka mendeteksi deviasi/penyimpangan dari normal. Dengan mempelajari tubuh kembang akan memberikan efek terhadap bagaimana menilai rata-rata perubahan fisik, intelektual, sosial dan emosional dari yang normal. Jika dalam hal tesebut ditemukan adanya kelainan atau keterlambatan dalam segi perubahan fisik, intelektual, sosial maupun emosional, kita sebagai seorang calon dokter gigi juga dapat menginformasikannya kepada orangtua anak tersebut. Informasi-informasi tersebut dapat diperoleh melalui pemeriksaan lengkap pada pasien anak. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya pemeriksaan lengkap dilakukan oleh seorang dokter gigi. Dengan mengacu pada hasil pemeriksaan lengkap, seorang dokter gigi dapat menentukan diagnosis, rencana perawatan serta upaya pencegahan yang dapat dilakukan oleh pasien.upaya pencegahan.
Sebelum memeriksa, dokter akan melakukan pendekatan khusus supaya anak tidak takut, canggung, ragu-ragu, dan lainnya. Pendekatan biasanya dilakukan dengan menyapa, memperkenalkan diri, mengenalkan peralatan dokter, dan sebagainya. Umumnya dilakukan sambil bermain. Setelah itu dokter akan memeriksa atau menanyakan data riwayat medis sejak masa prenatal, perinatal, dan pascanatal. Selanjutnya, dokter melakukan pemeriksaan rongga mulut si kecil. Dokter juga memeriksa jumlah gigi susu sesuai usia atau tanda-tanda-tanda erupsi, memantau pertumbuhan lengkung rahang, proses erupsi gigi sulung, serta mengobservasi benih gigi dengan cara dirontgen (panoramic photo) bila diperlukan. Namun yang terpenting di sini, dokter tak langsung mengambil tindakan yang radikal, sebab akan membuat anak trauma dengan rasa sakit yang ditimbulkannya, semisal cabut gigi. Untuk mencegah karies, dokter biasanya melakukan fluoridasi atau aplikasi fluor, terutama jika pola makan anak cenderung tinggi karbohidrat. Tapi tanpa fluoridasi pun sebenarnya karies bisa dicegah dengan pasta gigi yang sudah mengandung fluor.3
Pengenalan dan perawatan kesehatan gigi anak sejak dini merupakan sesuatu hal yang kadang-kadang menimbulkan rasa kekhawatiran pada setiap ibu. Para ibu mempunyai kekhawatiran bagaimana cara mempersiapkan anak untuk mempersiapkan anak -anaknya saat menerima perawatan gigi Selain itu para ibu juga merasakan kekhawatiran apabila telah melihat ada kelainan pada gigi anaknya. Rasa khawatir tersebut dapat ditanggulangi dengan cara mempersiapkan para calon ibu, dan para ibu dalam mengambil langkah-langkah apa yang dapat
dilakukan di dalam mengenalkan perawatan gigi pada anaknya serta menambah pengetahuan para ibu mengenai kelainan-kelainan pada gigi dan mulut anak yang sering ditemukan. Mulut merupakan pintu gerbang pertama di dalam sistem pencernaan. Makanan dan minuman akan diproses di dalam mulut dengan bantuan gigi geligi, lidah, dan saliva. Pemeliharaan kebersihan gigi dan mulut merupakan salah satu upaya meningkatkan kesehatan.4
Gambar 1. Balita
Sumber: http://www.conectique.com/tips_s...d%3D6520
Mulut bukan sekedar untuk pintu masuknya makanan dan minuman tetapi fungsi mulut lebih dari itu dan tidak banyak orang menyadari besarnya peranan mulut bagi kesehatan dan kesejahteraan seseorang. Oleh karena itu kesehatan gigi dan mulut sangat berperan dalam menunjang kesehatan seseorang. Instruksi pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut di rumah telah banyak disusun oleh para ahli. Program tersebut menekankan pada pencegahan terjadinya karies. Oleh karena masih banyak para orang tua yang beranggapan bahwa geligi susu hanya sementara dan akan diganti oleh geligi tetap sehingga mereka tidak memperhatikan mengenai kebersihan geligi susu. Penerapan instruksi pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut sebaiknya telah dimulai sejak bayi masih di dalam kandungan, sehingga orang tua akan lebih siap dalam melakukan instruksi tersebut. 4
II.1 Peran Orang Tua dalam Merawat Gigi Anak
Peran serta orang tua sangat diperlukan di dalam membimbing, memberikan pengertian, mengingatkan, dan menyediakan fasilitas kepada anak agar anak dapat memelihara gigi dan mulutnya. Selain itu orang tua juga mempunyai peran yang cukup besar di dalam mencegah terjadinya akumulasi plak dan terjadinya karies pada anak Pengetahuan orang tua sangat penting dalam mendasari terbentuknya perilaku yang mendukung atau tidak mendukung kebersihan gigi dan mulut anak. Pengetahuan tersebut dapat diperoleh secara alami maupun secara terencana yaitu melalui proses pendidikan. orang tua dengan pengetahuan rendah mengenai kesehatan gigi dan mulut merupakan faktor predisposisi dari perilaku yang tidak mendukung kesehatan gigi dan mulut anak. Proses pelaksanaan instruksi kebersihan gigi dan mulut membutuhkan serangkaian proses yang dapat dimulai dengan mengajarkan orangtua atau pengasuh. Teknik penerapan ini sesuai dengan perkembangan kemampuan motorik dan kecerdasan anak. Berbagai sikap dan perilaku anak akan muncul pada saat dimulainya proses ini. Namun demikian anak akan mudah menyesuaikan apabila telah terjalin komunikasi yang interaktif antara anak dengan orang tua atau pengasuh. Perilaku merupakan suatu aktifitas manusia yang sangat mempengaruhi pola hidup yang akan dijalaninya. Proses pembentukan prilaku yang diharapkan memerlukan waktu serta kemampuan dari para orangtua di dalam mengajarkan anak. Oleh karena itu bila pola hidup yang dijalaninya merupakan pola hidup yang sehat maka perilaku yang akan diterapkan di dalam memelihara kesehatan gigi dan mulutpun merupakan pola hidup yang sehat. 4
Menurut ahli psikologi usia anak terdiri dari beberapa tingkatan yaitu usia bayi, anak,
prasekolah, sekolah, dan remaja. Beberapa pendekatan dalam menerapkan suatu perilaku dan
kebiasaan dapat diterapkan pada masing-masing kelompok tersebut. Pengetahuan para dokter gigi mengenai perkembangan perilaku anak merupakan hal penting di dalam melaksanakan program pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut. 4
II.2 Perilaku Anak dalam Pemeriksaan dan Perawatan Gigi dan Mulut
Menurut Frankle Shiere dan Fogels (1962), ada beberapa tingkatan tingkah laku anak, yang selanjutnya disebut “Frankle Behavior Rating Scale”, yang dibedakan atas empat kategori, yang jelas negatif sampai yang jelas positif.5
1. Jelas negatif, ditunjukkan dengan menolak perawatan, menangis, takut, atau bermacam-macam hal yang kesemuanya itu menunjukkan hal yang negatif.
2. Negatif, hal ini ditunjukkan dengan ketidakkooperatifnya anak dengan dokter gigi, seperti sikap bersungut-sungut, tidak mau menjawab pertanyaan, dan sebagainya.
3. Positif, perawatan dapat dilaksanakan, tetapi kadang-kadang agak sukar walau masih mau menuruti kehendak dokternya.
4. Jelas positif, dapat bekerjasama dengan baik, dokternya sangat menarik perhatiannya, segala nasihat dokter gigi diperhatikan, dan menimbulkan situasi yang menyenangkan.
Berdasarkan pengalaman di praktik pribadi, hal-hal berikut ini sering dijumpai dan dapat menyulitkan perawatan gigi pada anak-anak.
1. Tipe yang dapat bekerja sama(kooperatif)
Tipe ini merupakan tipe tingkah laku yang terbuka, tingkah laku yang dapat mengerti tentang dirinya sendiri. Pasien santai dan kunjungan menjadi menyenangkan bagi apsien dan dokter gigi. Prosedur perawatan menjadi sempurna dengan menggunakan metode menceritakan-menunjukkan-melakukan (tell-show-do). Anak juga akan mudah mengikuti apa yang diinstruksikan oleh dokter gigi. Meskipun kooperatif, pasien tipe ini harus tetap ditangani sebagaimana mestinya dengan maksud bahwa dokter gigi menginginkan anak untuk tetap kooperatif dan menikmati pengalaman berkunjung ke dokter gigi.
2. T ipe tidak dapat bekerja sama (tidak kooperatif)
Ada dua kelompok pasien pada kategori ini :5
a. Dokter gigi mungkin akan mendapatkan kesulitan berkomunikasi dengan pasien yang sangat muda.
b. “handicapped children” Pasien yang cacat dimana tidak mampu mengerti dan berkomunikasi akibat cacatnya yang khusus.
Pasien yang tergolong sangat muda adalah 2 tahun ke bawah. Anak usia 2 tahun masih sangat tergantung pada ibunya. Kesulitan dalam menghadapi pasien ini yaitu sukar mengajaknya berbincang untuk meyakinkan seorang anak dikelompok umur ini disebabkan oleh karena kosakatanya masih terbatas.
3. Sangat tidak terkontrol (Histerik)
Anak usia muda antara 3-6 tahun mempunyai sifat tidak terkontrol. Pada anak yang baru pertama kali dibawa ke dokter gigi, kadang-kadang reaksinya sudah terlihat pada waktu masih di kamar tunggu. Reaksinya dapat berupa tangis keras, menyepak-nyepak, menendangkan kakinya ke mana saja, atau memulul-mukul tangan ibunya. Hal ini dapat diperkirakan sebagai pelampiasan rasa takut dan khawatir yang berlebih-lebihan.
Perilaku jenis ini dapat dicegah dengan mengevaluasi pasien sebelum dilakukan perawatan dan maemastikan tingkat kecemasan yang mereka miliki. Pasien dapat ditangani dengan usaha pendekatan dan bersikap lembut dan disertai pemberian penjelasan mengenai prosedur yang akan dijalaninya untuk mengurangi kecemasan.
4. Tipe keras kepala
Pasien yang menentang atau bersikap bodoh dan menjadi anak perusak. Ia melawan orang dewasa(pada kasus ini adalah dokter gigi dengan berkata,”Tidak, saya tidak amu! Kamu tidak bisa brbuat begitu pada saya”). Pasien biasanya berbuat hal itu di ruan praktek. Dengan perilaku demikian penanganan yang terbaik adalah dengan memanggilanak dengan menggertak dan diikuti dengan pendekatan yang tegas.
Bentuk lain dari tipe ini adalah pasien yang bersifat passif dan tidak melawan . Hal ini terlihat pada usia awal remaja dimana mereka melawan pada perampasan kebebasan yang diambil darinya. Pasien ini tidak mau bicara dan tidak merspon terhadap pertanyaan yang diberikan, ia akan sering duduk tanpa emosi dan tidak mau membuka mulutnya. Menangani tipe ini harus dilakukan tanpa melakukan paksaan fisik.
5. Pemalu
Anak pemalu masih lebih dapat diterima daripada anak yang melawan, asalkan dokter menghadapinya harus dengan cara yang tepat. Sifat ini dapat ditunjukkan dengan cara anak berlindung pada ibunya, menarik-narik baju ibunya, mencari-cari alasan, ragu-ragu, dan menangis tapi tidak keras.
Pasien anak yang pemalu sebenarnya memiliki tingkat ketertarikan yang cukup tinggi terhadap perawatan gigi yang akan diperolehnya namun dia tidak dapat langsung mengepresikan wujud ketertarikannya tersebut. Jadi, dokter gigi harus jeli untuk melihat potensi kooperatif yang ada pada pasien gigi anak tersebut. Dalam menangani pasien gigi anak sebaiknya diberikan penjelasan sekali saja mengenai perawatan gigi yang akan diperolehnya, jangan mengulangi penjelasan yang telah diberikan dan dokter gigi sebaiknya jangan banyak bertanya.
6. Tegang
Tingkah laku anak yang tegang, berada dalam batas negatif dan positif. Pada umumnya anak dapat menerima perawatan. Dapat dikenali dengan gerakan-gerakan, suaranya bergetar, matanya selalu mengikuti perubahan sikap dokter atau asistennya. Dahi dan tangannya berkeringat, seringkali badannya gemetar tetapi ia dapat mengatasi emosi.
Dokter gigi harus mampu mengenali pasien anak dengan perilaku tegang. Pasien jenis ini medak dikelola secara baimiliki potensi yang hampir sama dengan pasien pemalu, dimana mereka bias berpotensi untuk kooperatif dengan penanganan yang baik dan sebaliknya bila tidak dikelola secara baik. Pasien ini pada kunjungannya ke dokter gigi mnerima semua perawatan yang diberikan padanya secara tenang. Dokter gigi sebaiknya bersikap tenang, sabar, jangan memperburuk situasi,dan berikan pukian pada pasien gigi anak terhadap perawatan yang diterimanya.
7. Menangis berkepanjangan (Cengeng)
Anak yang menangis berkepanjangan malah dapat menunjukkan sifat dapat diajak kerjasama. Tangisannya menunjukkan manifestasi reaksinya tetapi ia tidak melaman waktu diadakan perawatan. Tetapi penampilannya mempunyai cirri-ciri yang khusus. Biasanya tangannya tidak keras, emosinya konstan, jarang disertai keluarnya airmata dan menimbulkan kesan yang mengesalkan.
Banyak masalah kecil yang menyebabkan anak menangis dalam perawatan gigi misalnya, saat ditinggal sendiri oleh orang tuanya walaupun hanya sebentar, atau saat didekati oleh dokter gigi atau perawat gigi yang merupakan orang yang baru dilihatnya. Hal ini bisa disebabkan orang tua terlalu dekat dan bersikap melindungi anak. Anak kurang dibiasakan untuk berada sendiri tanpa ditemani orangtua. Setiap kemauan anak selalu dituruti, terutama jika menangis. Anak kurang diberi kesempatan untuk berkomunikasi dengan orang lain yang bukan anggota keluarganya.
Pasien jenis ini bersikap cengeng sepanjang prosedur perawatan gigi. Meskipun demikian, mereka tetap bias menerima perawatan yang dilakukan dan juga bisa menerima perhatian dari dokter gigi. Salah satu metode penanganan di klinik gigi terhadap anak yang bersikap cengeng adalah dokter gigi harus bersikap sabar dan tenang. Dokter gigi sebaiknya memberikan pujian terhadp mereka jika bersikap kooperatif selama perawatan gigi dan menyampaikan bahwa tidak akan lama lagi dan mereka bias pulang ke rumah.
Dari beberapa tipe di atas, dalam memahami tingkat kooperatif pasien, Wrigth membaginya dalam tiga kategori yakni :
• Kooperatif : Anak dating dengan santai, rileks dengan rasa takut minimal, antusias terhadap perawatan gigi. Anak terseburt biasanya patuh terhadap instruksi yang diberikan.
• Kurang kooperatif : Ini biasanya terjadi pada anak yang masih muda (dibawah umur 3 tahun), anak-anak dengan cacat mental atau fisik dan anak-anak dengan pengetahuan yang minim.
• Berpotensi koopertaif : Karakteristik dari anak ini adalah adanya masalah prilaku. Tipe tingkah laku ini berbeda dengan anak yang tidak kooperatif karena anak ini memiliki kemampuan untuk menjadi kooperatif.
Usia 6-12 tahun adalah masa yang "kritis" bagi kesehatan gigi anak. di usia inilah setiap anak mengalami masa gigi campuran, yaitu gigi susu mulai tanggal satu-persatu, digantikan dengan gigi sulung. Di masa ini banyak sekali masalah yang timbul. Misalnya, satu gigi mau tumbuh, gigi lain berlubang. Atau salah satu gigi tumbuhnya miring, sedangkan gigi lainnya sulit menembus gusi sehingga menimbulkan pembengkakan, bahkan radang.6
Gambar 2. Merawat gigi Anak.
Sumber : http://nostalgia. nova.com/articles.asp?id=13235.
Ada dua tindakan yang penting dilakukan sejak gigi anak mulai tumbuh, yaitu tindakan preventif atau pencegahan, dan tindakan kuratif atau pengobatan. Tindakan pencegahan bisa berupa banyak hal. Yang paling dasar, memotivasi dan mendorong anak agar bergaya hidup bersih.
II.3 Persiapan Kunjungan Pasien
Pada orang tua biasanya mencoba mempersiapkan anak mereka untuk kunjungan kedokter gigi. Beberapa orang tua lebih banyak melakukan hal-hal yang buruk dari pada yang baik dalam melakukan hal-hal tersebut. Oleh karena itu, perlu menasehati orang tua bagaimana mempersiapkannya.7
Tujuan dari pada kunjungan pertama yaitu:7
a. Untuk menciptakan komunikasi dengan anak dan orang tua
b. Untuk mendapatkan keterangan yang penting yaitu riwayat pasien
c. Memeriksa anak dan untuk mendapatkan rontgen bila perlu
d. Untuk menjelaskan perawatan pada anak dan orang tua
Kebanyakan pasien merasa cemas pada kunjungan pertama kedokter gigi dan karena itu merupakan tujuan yang penting bagi dokter gigi dan stafnya untuk menghilangkan rasa cemas ini. Resepsionis harus menyambut anak dengan bersahabat dan bergembira, ruang tunggu harus diiisi sesuatu tentang anak misalnya poster anak-anak selebaran buku-buku dan mainan-mainan. Jadi, keseluruhan lingkungan tempat penerimaan dan ruang tunggu harus mampu mengkomunikasikan persahabatan dan penyambutan yang hangat. 6
Pada pertemuan dengan anak dan orang tua. Dokter gigi harus menciptakan komunikasi yang bersahabat dengan mereka sambil pada waktu bersamaan mencari informasi mengenai riwayat pasien. Idealnya, pertemuan ini tidak di lakukan dalam ruang perawatan tetapi diruang lain. Jika dalam ruang perawatan sebaiknya menyediakn kursi bagi anak bukan mendudukannya pada kursi perawatan gigi. 6
Pendekatan ini memungkinkan dokter gigi mengenali dan bila perlu menghilangkan kecemasan anak sebelum menempatkan anak pada situasi yang menegangkan. 6
Sebaiknya orang tua diminta untuk menemani anak agar dapat menceritakan riwayat yang lengkap. Dimana hal-hal yang terinci tidak dapat diperoleh dari anak sendiri. Lebih dari itu yang sangat muda atau takut, biasa nya memerlukan bantuan moral pada saat perawatan, setidak-tidaknya pada kunjungan pertama. Pada kunjungan berikutnya, dokter gigi harus memutuskan apakah akan memisahkan rang tua dan anak dengan cara meminta orang tua untuk menunggu di ruang tunggu. Beberapa dokter gigi menuntut agar anak di tinggal sendiri, sedang yang lain lebih fleksibel dan mendasarkan keputusannya pada usia dan kelakuan anak serta pada karakter ora ng tua. Bagaimanapun juga adalah penting utnuk menarik minat dan kerjasama orang tua, sehingga memungkinkan dilakuakn perawatan dirumah yang efektif. 6
Beberapa dokter gigi dapat berkomunikasi dengan anak secra mudah, sedang dokter gigi yang lain merasa sulit. Resep utama keberhasilan komunikasi adalah memperlihatkan rasa senang pada anak dan ini hanya dapat diperoleh dengan menanyakan pertanyaan yang sederhana mengenai rumah, sekolah dan permainan yang disukai dengan santai bersahabat gembira dan serta menggunakan kesempatan yang ada untuk berkomunikasi secara fisik, misalnya dengan bersaaman atau menepuk bahu anak atau dengan santai, atau menyentuh rambut anak untuk anak perempuan atau menggelitik anak kecil banyak kesempatan tergantung pada usia dan jenis kelamin anak. Khususnya pada anak yang sangat muda dan cacat mental, komunikasi visual dan fisik adalah yang sangat penting. 6
II.4 Riwayat Penyakit Anak
Informasi tentang riwayat pasien dibagi menjadi 3 bagian yaitu riwayat social, dental dan medis. Riwayat ini memberikan informasi yang berguna dan merupakan dasar dari rencana perawatan. 5
Hal-hal yang perlu diketahui mengenai riwayat sosial yaitu: 6
a. Nama lengkap/panggilan
b. Saudara laki dan perempuan
c. Binatang peliharaan
d. Hal-hal yang disukai di rumah dan di sekolah
Adapun hal-hal mengenai riwayat dental adalah sebagai berikut: 6
a. Keluhan anak
b. Penyebab kedatangan anak ke klinik
c. Riwayat keluhan yang lalu
Selain itu hal-hal yang mengenai riwayat medis anak yaitu: 6
a. Penyakit jantung congenital
b. Demam treumatik
c. Kelainan darah
d. Penyakit saluran pernapasan
e. Hepatitis
f. Penyakit gastrointestinal
g. Penyakit ginjal atau saluran kencing
h. Penyakit tulang atau sendi
i. Penyakit diabetes atau endokrin lain
j. Penyakit kulit
k. Kelainan congenital
l. Alergi misalnya penisilin
m. Pengobatan belakangan atau yang sedang dilakukan
n. Operasi sebelumnya atau penyakit serius
o. Kelainan subnormal mental epilepsi
p. Penyakit serius dalam keluarga
II.6 Perawatan Pendahuluan
Setelah memeriksa anak harus selalu dijelaskan tentang prosedur operatif sederhana. Idealnya bila anak tidak mempunyai keluhan rasa sakit atau keluhan lainnya. Perawatan berupa pemolesan dengan menggunakan sikat dan rubbercup dengan handpiece kecepatan rendah. Tujuannya adalah untuk memperkenalkan kepada anak bagaimana rasanya perawatan gigi dan untuk memperlihatkan bahwa ini adalah pengalaman yang menyenangkan. Ini penting khususnya pada anak yang baru pertama kali datang. 6
II.7 Menyudahi Perawatan
Sebelum anak diperbolehkan pulang, dokter gigi harus memberi penjelasan kepada orang tua mengenai perawatan yang telah dilakukan. Mungkin pada kunjungan pertama cukup dilakukan perawatan pencegahan bukan membahas metode yang akan digunakan. Akhirnya, beberapa petunjuk perlu diberikan pada orang tua mengenai kemungkinan lamanya perawatan, karena orang tua dapat kecewa jika mereka diminta untuk membawa anaknya dua kali kunjungan atau tiga kali kunjungan padahal prosedur perawatan memerlukan beberapa kali kunjungan. Oleh karena itu rencana perawatan harus betul-betul dijelaskan kepada orang tua. 6
II.8 Ringkasan Kunjungan Pertama
Prosedur yang dianjurkan untuk kunjungan pertama dapat diringkas sebagi berikut: 6
1. Catat riwayat
a. Sosial
b. Dental
c. Medis
2. Periksa anak
a. Ekstraoral
b. Intraoral
3. Ambil radiografi jika diperlukan
a. Untuk lihat karies gigi-bite wing
b. Untuk lihat pertumbuhan gigi geligi
c. Untuk menemukan gangguan spesifik
4. Lakukan prosedur operatif sederhana
5. Jelaskan tujuan perawatan pada orang tua.
Seharusnya pemeriksaan gigi dimulai sejak anak berusia 6 bulan, yaitu pada saat gigi tumbuh untuk pertama kalinya. Kemudian pemerikasaan dilakukan lagi pada saat anak berusia 9 atau 10 bulan. Kemudian berlanjut saat usia anak menginjak 2 tahun. Pada usia ini gigi anak sudah tumbuh lengkap. Masalah yang harus ditanyakan adalah mengenai munculnya carries gigi serta cara menggosok gigi yang benar agar tidak berakibat buruk dikemudian hari. Selanjutnya, lakukan pemerikasaan gigi anak secara rutin yaitu tiap 6 bulan sekali. Jadi jangan tunggu anak mengeluh sakit gigi kemudian baru dibawa ke dokter gigi. 7
Gambar 3. Anak-anak sedang menyikat gigi
Sumber :http://www.preventionindonesia.com/article.php?name=/investasi-senyum- sejak-kecil&channel=lifelong_beauty/teeth_and_smile&print=1
III.1 Anamnesis
Anamnesis adalah hasil tanya jawab antara dokter kepada pasien secara professional.
Gambar 4. Pemeriksaan pada anak
Sumber : http ://www.conectique.com
Pada pasien anak pertanyaan tersebut lebih di ajukan kepada orang tua pasien. Pertanyaan yang dapat diajukan adalah sebagai berikut:
Penderita dengan umur 0 - 3 tahun
1. Apakah ibu pernah mendapat pengobatan antibiotic sewaktu mengandung anak tersebut?
2. Apakah sewaktu mengandung anak tersebut ibu pernah memakan vitamin atau mineral?
3. Berapa lama anak ibu minum susu botol?
4. Apakan anak itu menghisap pacifier atau dot?
5. Berapa lama anak menghisap pacifier atau dot?
6. Apakah ia mudah terluka?
7. Bila terluka apakah ada pendarahan sukar berhenti?
8. Apakah anak ini sedang menerima perawatan medis?
9. Kapan kunjungan terakhir pada anaknya?
10. Tujuan kunjungannya?
11. Apakah pernah dirawat di rumah sakit?
12. Penyakit sebelumnya
a. Jantung
b. Alergi
c. Measles
d. Nephritis
e. Diabetes
f. Diare
g. Gangguan pendarahan
h. Cacar air
i. Rheumatic fever
j. Asma
k. Epilepshi
l. Gangguan endocrine
13. Berangkat ke dokter dengan mudah atau sulit
14. Nafsu makan
15. Makan waktu tidur
16. Kesehatan anak saat ini sehat atau sakit
17. Keadaan tidur anak tadi malam nyenyak, gelisah, menangis
18. Apakah pernah mengunjungi dokter gigi
Penderita dengan umur 3,1 - 6 tahun
1. Apakah anak ini sedang menerima perawatan medis?
2. Kesehatan anak saat ini sehat atau sakit
3. Kapan kunjungan terakhir pada dokternya
4. Tujuan kunjungannya
5. Apakah pernah dirawat di rumah sakit
6. Apakah ia mudah terluka
7. Bila terluka apakah pendarahan sukar berhenti
8. Penyakit sebelumnya
a. Jantung
b. Alergi
c. MeasLes
d. Nephritis
e. Diabetes
f. DiarE
g. Gangguan pendarahan
h. Cacar air
i. Rheumatic fever
j. Asma
k. Epilepsy
l. Gangguan endocrine
9. Temperatur
10. Nafsu makan
11. Makan permen
12. Makan kue-kue kering basah
13. Makan waktu tidur
14. Apakaah pernah mengunjungi dokter gigi
15. Perawatan gigi sebelumnya
16. Kebiasaan jelek
a. Bernapas melalui mulut
b. Menghisap jempol
c. Menggigit pipi, kuku dan bibir
Penderita dengan umur 6,1 - 12 tahun
1. Apakaah anak ini sedang menerima perawatan medis
2. Kesehatan kunjungan terakhir pada dokternya
3. Tujuan kunjungannya
4. Apakah pernah dirawat di rumah sakit
5. Penyakit sebelumnya
a. Jantung
b. Alergi
c. Measles
d. Neprithis
e. Diabetes
f. Coeliae
g. Gangguan pendarahan
h. Cacar air
i. Rheumatic fever
j. Astma
k. Epilepsy
l. Gangguan nendoerine
6. Temperature
7. Nafsu makan
8. Makan permen
9. Makan kue kering atau basah
10. Makan waktu tidur
11. Apakah pernah mengunjungi dokter gigi
12. Perawatan gigi sebelumnya
13. Kebiasaan jelek
a. Bernafas melalui mulut
b. Menghisap jempol jari
c. Menggigit bibir,kuku,pipi
d. Tongue thrusting
e. Bruxism
14. Keadaan anak datang dalam keadaan sehat atau sakit
15. Dapat berkomunikasi atau tidak
Selain itu anamnesis untuk pemeriksaan ekstra oral, intraoral dan radiografi adalah sebagai berikut:
1. Pemeriksaan ekstra oral
1.1. Muka symetris/Asymetris
1.2. Pipi
1.3. Pembengkakan region
1.4. Kelenjar limfe kiri,kanan
2. Pemeriksaan intra oral
2.1. Mukosa mulut
2.2. Bibir
2.3. Gingiva
2.4. Palatum
2.5. Lidah
2.6. Dasar mulut
2.7. Tonsil
2.8. Frenulum
3. Status oklusi
3.1. Hubungan M RA dan RB
- Kiri : net/mes/dis
- Kanan : net/mes/dis
3.2. Garis median
3.3. Bentuk gigi depan
3.4. Crowding RA dan RB
3.5. Malposisi RA dan RB
3.6. Klasifikasi angle
3.7. Cross bite
3.8. Open/deep bite
4. Hygiene mulut
4.1. Baik/sedang/kurang
4.2. Karang gigi
4.3. Sikat gigi
III. 2 Pemeriksaan Klinis
III.2.1. Pemeriksaan Ekstraoral
Setiap kelainan ekstraoral yang nampak yang dicatat selama pencatatan riwayat dapat diperiksa lebih lanjut. Garis besar pokok-pokok yang perlu dicatat sebagai berikut :
Adapun garis besar pemeriksaan klinik, yaitu:
- Penampilan umum-besar dan berat.
- Cara berjalan.
- Kulit, corak.
- Mata, bibir.
- Simetrisitas wajah.
- Kelenjar limfa.
Pemeriksaan klinis ekstraoral
Pembengkakan ekstraoral terjadi sebagai selulitis, tempatnya bergantung pada penyebaran infeksi sepanjang bidang fasial. Di mandibula, biasanya melibatkan daerah submandibular sebagai akibat radang pada gigi molar sulung kedua atau gigi molar permanen pertama. Di maksila, akibat radang pada gigi kaninus an gigi molar sulung pertama dapat sedemikian hebat sehingga menutupi mata. Drainase ekstraoral akhirnya dapat terjadi melalui tempat lemah resistensinya yaitu kulit. Biasanya orangtua pasien akan mencari pertolongan sebelum terjadi drainase ekstraoral karena adanya panas dan abnormalitas yang jelas.
III.3 Pemeriksaan Intraoral
Pemeriksaan radiografi ekstraoral yang umum dilakukan akan memberikan gambaran periapikal tertentu yang dapat memperlihatkan keadaan periapikal, misalnya gigi dengan pulpa yang terbuka, atau gigi yang mengalami trauma atau dirawat saluran akar.
Jika ditemukan sebuah gigi tidak erupsi atau odontoma pada pemeriksaan radiografi, mungkin perlu ditentukan letaknya, apakah di labial, atau palatal dari akar gigi yang tidak erupsi, penjelasan ini biasanya diperlukan bagi gigi supernumerari yang tidak erupsi. Posisi labio-palatal dapat ditentukan dengan menerapkan prinsip parallax dari dua radiografi periapikal yang diambil dari daerah yang sama tetapi pada sudut yang berbeda; sebagai gantinya dapat digunakan nasal-oklusal atau off centre periapical.
Sebuah radiografi oklusal dari mandibula dapat digunakan dalam menentukan posisi buko-lingual dari gigi mandibula yang tidak erupsi.
Diharapkan agar kecemasan yang dirasakan oleh anak pada kedatangannya dapat dikurangi atau dihilangkan selama periode pencatatan riwayat. Kemudian, anak juga harus duduk tenang pada kursi perawatan.
Pada anak yang sangat muda, pendekatan sebaiknya dilakukan oleh dokter gigi dengan menanyakan “berapa banyak gigimu?” dan menganjurkan “mari kita hitung”; hal ini tentunya kurang menakutkan bagi anak dari pada “saya ingin lihat gigi-gigimu”. Jika anak masih tidak mau duduk pada kursi perawatan, orangtua harus diminta untuk memangku anak dengan kepala ditahan dengan lengan kanan orangtua. Pada posisi ini, anak akan merasa aman, orangtua dapat membantu menahan gerakan-gerakan yang tidak diinginkan bila perlu, dan dokter gigi dapat melakukan pemeriksaan mulut dengan baik. Jika anak menangis, pemeriksaan tetap dapat dilanjutkan, dokter gigi harus mengabaikan tangisan sambil menghitung gigi-gigi dengan keras, setelah itu anak diperolehkan duduk kembali. Ia akan belajar bahwa tidak ada yang sakit waktu diperiksa dan menangis tidak akan mengganggu dokter gigi. Dengan pelajaran ini, perawatan pendahuluan dapat dilanjutkan dengan cara biasa.
Pemeriksaan awal yang dilakukan pada keadaan seperti ini tidak perlu mendetail. Jika digunakan sonde, harus diingat bahwa terlihatnya alat yang tajam atau runcing dapat menyebabkan kecemasan dan kecerobohan dalam mempergunakan alat tersebut dapat menyebabkan timbulnya rasa sakit. Perawatan sederhana dapat dimulai dengan anak dipangku orangtua, bila anak sudah percaya diri, ia akan dengan senang hati duduk sendiri.
Pendekatan yang dijelaskan di atas jelas tidak praktis pada anak yang lebih dewasa yang terlalu besar untuk dipangku. Jika anak sudah besar dan tidak kooperatif setelah pencatatan riwayat dan tidak mau duduk pada kusi perawatan, lebih baik menunda pemeriksaan mulut dan mulai dengan proses pembentukan tingkah laku dengan cara yang berbeda, misalnya penjelasan kesehatan mulut. Walaupun situasi ini tidak sering terjadi, situasi ini sering dijumpai pada anak dengan cacat mental. Jelas, jika anakdibawa karena gangguan tertentu yang mungkin memerlukan perawatan segera, harus segera dicari jalan untuk memeriksa anak, tetapi jika alasannya hanya untuk melakukan pemeriksaan rutin, penundaan pemeriksaan mulut sampai diperoleh kerja sama dari anak sering merupakan keputusan yang benar dan paling berhasil untuk jangka panjang.
Adapun pemeriksaan garis besar Intraoral, yaitu:
a. Jaringan lunak
- Pipi
- Bibir
- Lidah
- Tonsil
- Palatum lunak dan keras
- Gingiva
b. Gigi
- Kebersihan mulut.
- Keadaan gigi-gigi.
- Posisi crowding, spasing, drifting.
- Oklusi.
Molar pertama tetap dan kaninus.
Insisivus-overjet, overbite.
- Mobilitas-eksfoliasi gigi susu, abses, periodontitis.
- Warna gigi non-vital, staining intrinsik, karies.
- Struktur hipoplasia, hipomineralisasi.
c. Karies
Pemeriksaan Klinis
1. Pembengkakan
Pembengkakan dapat timbul intraoral, terlokalisasi pada gigi yang ifeksi atau ekstraoral, dlam bentuk selulitis. Pembengkakan ini disebebkan oleh eksudat pradangan yang berhubungan dengan gigi nonovital. Karena pembengkakan mungkin tidak terlihat pada saat pemeriksaan, perlu diajukan pertanyaaan dengan cermat kepada anak maupun orangtuanya untuk menemukan adanya riwayat pembengkakan.
Pembengkakan intraoral biasanya terlihat di sebelah bukal, walaupun dalam keadan jarang, dapat terlihat di lingual atau platal. Di daerah bukal, tulangnya lebih tipis daripada di palatal atau lingual, sehingga produk peradangan dari periapikal atau inter radikuler menembus melalui tempat yang resistensinya. Tekanan pembengkakan akhirnya akan menyebabkan drainase spontan, bila tidak dilakukan perawatan. Drainase yang paling sering terjadi ialah intraoral, baik melalui tepi gingival ataupun melalui fistula. Fistula ini biasanya terlihat dekat atau pada pertemuan antara gingival cekat dan mukosa alveolar karena tempat ini berdekatan dengan daerah interradikuler, yang biasanya merupakan tempat berkumpulnya hasil peradangan pada gigi molar sulung nonvital. Sekali terjadi fistula, radang jarang menjadi akut karena telah terjadi drainase.
Pulpa gigi dengan pembengkakan umumnya non vital. Namun, dapat saja terjadi bahwa masih terdapat jaringan pulpa yang vital, walaupun meradang, di salah satu saluran akar, sedangkan saluran akar sebelahnya nonvital. Untuk tujuan perawatan pulpa, seluruh pulpa harus dianggap nonvital.
2. Mobilitas
Mobilitas gigi sulung dapat terjadi sebagai akibat proses fisiologis maupun patologis. Penilaian radiografis pada akar gigi sulung, kedudukan mahkota, dan jumlah pembentukan akar gigi permanen pengganti di bawahnya membantu menentukan apakah mobilitas itu fisiologis atau patologis. Resorpsi fisiologis lebih dari setengah panjang akar merupakan kontraindikasi untuk perawatan pulpa dan pencabutan perlu untuk dipertimbangkan.
Mobilitas patologis disebabkan oleh resorpsi akar atau tulang atau keduanya, dan keadaan ini menjadikan gigi nonvital. Resorpsi tulang ditandai oleh radiolusensi periapikal atau inerradikuler atau keduanya pada radiogram. Radiolusensi paling sering terlihat di daerah interradikuler atau furkasio.
3. Perkusi
Kepekaan terhadap perkusi menunjukkan bahwa peradangan telah meluas melewati gigi ke dalam jaringan pperiodontal. Pasien akan mengatakan bahwa giginya terasa sakit bila menggigit keras. Gejala ini dapat diperiksakan secara klinis dengan menyuruh anak menggigit gagang kaca mulut atau tekanan jari. Rasa sakit disebabkan oleh tekanan eksudat di dalam jaringan periodontal. Kadang radiogram periapikal menunjukkan bahwa eksudat telah mendorong gigi dari soketnya. Bila ini terjadi, gigi akan mengalami oklusi premature dan hal ini dapat juga menjelaskan adanya gejala sakit waktu mengunyah.
Rasa sakit waktu perkusi menunjkkan bahwa radang pulpa telah meluas paling sedikit ke filament radikulr dan kemungkinan besar gigi sudah mengalami nekrosis. Nilai diagnosis tes perkusi pada gigi sulung kurang dapat diandalkan kaena adanya faktor psikologis. Pada gigi permanen muda, tes perkusi mempunyai nilai lebih berarti, karena diterapkan pada anak yang lebih besar yang mampu memberikan reaksi yang dapat dipercaya. Kepekaan terhadap perkusi dapat juga terjadi pada gigi dengan pulpa vital yang meradang. Jadi, gigi dengan reaksi positif pada perksi tidak serta merta menunjukkan bahwa gigi tersebut nonvital.
4. Tes vitalitas
Tes vitalitas, baik seca termal maupun elektrik sangat sedikit kegunaanna pada gigi sulung. Walaupun tes tersebut kadang memberikan indikasi pulpa vital, reaksi tesebut tidak menunjukkan derajat kelainan yang ada. Ketakutan terhadap sesuatu yang tidak ikenal dapat membuat anak takut akan vitalotester elektrik, sehingga anak memberikan reaksi yang ia pikir benar tetapi bukan sebenarnya. Demikian pula, gigi sulung normal yang sehat mungkin tidak memberikan reaksi pada pemeriksaan vitalitas.
Nilai nyata tes vitalitas, baik termal maupun elekrik ialah pada gigi permanen, yaitu pada waktu membndingkan sebuah gigi dengan pasangannya pada waktu.
III.4 Pemeriksaan Radiografi
Kadang-kadang pemeriksaan klinis dapat memberikan semua keterangan yang diperlukan mengenai pasien, disini mungkin tidak diperlukan radiografi. Bagaimanapun juga, radiografi biasanya diperlukan untuk satu atau alasan-alasan berikut :
1. Untuk mendiagnosa karies gigi pada permukaan gigi yang tidak bisa dilihat pada pemeriksaan klinis.
2. untuk mendeteksi kelainan pada perkembangan gigi.
3. untuk menemukan gangguan khusus, misalnya kondisi jharingan periapikal yang berhubungan dengan gigi-gigi non-vital atau yang mengalami trauma.
Karies Gigi
Radigrafi bite wing penting untuk diagnosis karies pada permukaan aproksimal. Studi yang dilakukan pada anak-anak berumur 5-7 tahun menunjukkan bahwa sekitar 2/3 lesi permukaan aproksimal tidak akan terdeteksi jika tidak digunakan radiografi. (Murray dan Majid, 1978). Lesi aproksimal dapat berkembang membentuk kavitas-kavitas yang besar, yang mungkin dapat melibatkan pulpa, sebelum dapat dideteksi secara klinis.
Dengan meningkatnya penggunaan fissure sealant dalam tahun-tahun belakangan, radiografi bite wing menjadi penting untuk diagnosis karies oklusal yang mungkin terjadi jika sealant rusak (walaupun karies oklusal yang dini tidak mudah didiagnosa pada radiografi).
Kelaianan Perkembangan Gigi
Tujuan ilmu kedokteran gigi pada anak adalah mengamati perkembangan gigi dan jika mungkin mencegah atau menghilangkan akibat-akibat yang tidak diinginkan yang mungkin disebabkan oleh kelainan pada struktur gigi. Deteksi kelainan yang dini memerlukan penyelidikan radiografi yang lengkap.
Walaupun menarik untuk mengetahui adanya kelainan selama tahap pertumbuhan gigi susu, cara ini tidak praktis dilakukan pada usia semuda itu, oleh karena itu, biasanya lebih disukai menunggu sampai tahap awal gigi geligi campuran sebelum melakukan radiografi yang diperlukan
Pemeriksaan radiografi yang lengkap dari pasien anak umur 7-8 tahun seharusnya merupakan pemeriksaan yang rutin, dan ini dapat diperoleh melalui salah satu kombinasi radiografi berikut ini :
1 a). lateral oblik kanan dan kiri (bimolar) untuk melihat gigi-gigi maksila dan mandibula yang berada di distal kaninus.
b). nasal oklusal standar untuk memprlihatkan daerah anterior maksila.
c) Mandibula anterior oklusal untuk melihat daerah anterior mandibula. Kelainan pada daerah ini jarang terjadi, dan hal ini biasanya tidak dilakuakn, kecuali terdapat alasan yang pasti untuk melakukannya.
2. a) radiografi periapikal untuk melihat gigi-gigi posterior.
b) nasal oklusal dan mungkin mandibular anterior oklusal.
Biasanya diperlukan 4 film periapikal (satu untuk tiap segmen posterior), tetapi untuk anak yang lebih besar diperlukan 8 film. Dan karena teknik intraoral membutuhkan kerja sama yang besar dari anak dibandingkan teknik ekstraoral, cara tersebut tentunya lebih tidak enak dibandingkan radiografi bimolar. Akan tetapi beberapa dokter gigi secara rutin membuat radiografi periapikal gigi molar dan lebih menyukai kaninus dan insisivus dibandingkan gambaran oklusal (Kennedy, 1979).
3. a) radiografi panoramik untuk melihat gigi geligi lengkap.
b) nasal oklusal untuk melihat daerah anterior maksila dengan lebih jelas.]
Radiogram panoramic berguna untuk menilai keadaan mulut secara keseluruhan dan perkembangan oklusi. Walaupun kurang memberikan gambaran yang rinci, radiogram tersebut dapat menunjukkan dengan cepat, gigi yang karies dan keadaan gigi yang telah dirawat.
Penilaian yang diperoleh dari radiogram periapikal dengan kualitas yang baik dan radiogram sayap gigit dapat mencakup seluruh aspek, baik anatomis, patologis, maupun perkembangan. Dari aspek anatomis, akan terungkap adanya akar yang sangat divergen, saluran akar yang bengkok, adanya saluran akar tambahan, lokasi tanduk pulpa, bentuk, ukuran, panjang, dan jumlah akar.
Dari aspek patologis, akan terungkap kedalaman dan kedekatan karies ke pulpa, derajat dan keterlibatan pulpa pada karies atau trauma, jumlah dentin reparatif, ketebalan membrane periodontal, massa yang mengalami pengapuran dalam pulpa, keterlibatan periapikal atau furkasi, resorbsi interna, dan fraktur akar. Dari aspek perkembangan akan terungkap tahap perkembangan (pembengkakan akar dan penutupan apeks, resorbsi fisiologis dan jumlah tulang penyangga, tahap erupsi gigi pengganti), derajat kematangan pulpa (ukuran ruang pulpa, lebar saluran akar, jumlah penutupan akar) dan sejumlah anomaly seperti (dens in dente, traurodonsia, makrodonsia, dan tidak adanya gigi pengganti secara kongenital. Radiogram juga bermanfaat untuk mengevaluasi keberhasilan dan kegagalan perawatan polpotomi atau pulpektomi.
Walaupun nilai diagnostiknya besar, pemeriksaan radiografis dapat mengelabui untuk berpikir, bahwa tidak ada kelainan periapikal atau kelainan interradikuler, sesangkan kenyataaannya mungkin terdapat kelainan histologist. Ini disebabkan oleh lesi mikroskopisharus mencapai suatu taraf tertentu sebelum terlihat pada pemeriksaan radiografis. Selanjutnya, tumpang tindih gigi sulung dengan gigi permanen pengganti dapat menutupi keadaan yang sebenarnya, terutama pada gigi sulung rahang atas.
Setelah pemeriksaan didelesaikan dengan saksama, hasil pemeriksaan perlu ditinjau secara sistematis. Pertama tama ditentukan apakah gigi vital atau nonvital, kemudian ditentukan kemungkinan perawatan. Apakah gigi diperlukan dalam lengkung rahang dan tidak akan dicabut untuk perawatan ortodontik, dan apakah gigi dapat direstorasi. Jangka waktu yang diramalkan sebelum eksfoliasi akan menentukan tipe atau jenis perawatan dan restorasi yang akan dilakukan. Pada gigi sulung yang akan mengalami eksfoliasi dalam waktu 2-3 bulan, sebaiknya tidak dilakukan perawatan pulpa. Perlu ditentukan pula apakah tidak ada kontraindikasi sistemik untuk perawatan pulpa. Potensi penyembuhan pulpa ditentukan atas dasar derajat kematangan pulpa. Pulpa yang sangat muda dengan foramen apical berbentuk corong, mempunyai potensi penyembuhan yang baik, sedeangkan pulpa yang tua dengan apeks yang tertutup atau saluran akar yang tersumbat, mempunyai potensi penyembuhan yang kurang baik. Selanjutnya dievaluasi jarak dari infeksi atau trauma ke pulpa, apakah terdapat dentin sehat yang cukup tebal, apakah diduga terdapat perforasi yang kecil sekali kedalam pulpa dan apakah pulpa betul-betul terlibat. Keterlibatan jaringan periapikal dan periodontal juga dievaluasi. Selanjutnya dibuat diagnosis sementara.
III.5 Diagnosa
Diagnosis adalah ilmu pengetahuan tentang mengenai suatu penyakit melalui tanda, gejala klinis dan pengujian klinis.
Langkah dasar dalam proses diagnostic :
- Keluhan utama (chief complaint)
- Health history (medical and dental)
- Pemeriksaan mulut (oral examination)
- Analisa data untuk DD (Differential Diagnosis)
- Rencana perawatan (treatment plan)
Pemeriksaan subyektif meliputi:
- Keadaan pada saat itu : keadaan umum, emosional, kecemasan.
- Adanya nyeri : intensitas, spontanitas, kontinuitas
- Riwayat medis
Riwayat dental
Keterangan yang dikumpulkan dari pemeriksaan klinis dan radiografis biasanya dapat digunakan untuk penegakkan diagnosis. Kadang-kadang diperlukan bantuan diagnostik lain, misalnya tes vitalitas pulpa untuk gigi yang mengalami trauma atau studi model untuk pemeriksaan ortodonsi. Diagnosis adalah penentuan tiap penyakit yang mempengaruhi kelainan yang mempengaruhi perkembangan gigi. Diagnosis mempengaruhi rencana perawatan terhadap gangguan yang ada.
Sekali gigi dibuka, diagnosis sementara akan diperkuat atau diubah. Sebaiknya dipilih prosedur yang kuat tetapi kurang radikal, karena hal ini akan memberikan kesempatan untuk membuat alternative perawatan yang lebih radikal bila kelak diperlukan. Contoh
• Daerah dentin sensitive yang kecil yang menutupi pulpa normal hanya membutuhkan restorasi yang sederhana, sedangkan dentin yang terkena karies luas membutuhkan pengobatan dan tumpatan sementara untuk memberikan kesempatan bagi pulpa agar sembuh kembali.
• Pulpa normal yang sedikit mengalami hyperemia di bawah karies yang dalam membutuhkan perlindungan pulpa indirek (indirect pulp capping)
• Pulpa normal dan sehat yang terbuka merupakan indikasi perlindungan pulpa direk (direct pulp capping)
• Karies dalam yang menyebabkan pulpa terbuka atau infeksi superficial pulpa bagian korona pada gigi sulung, merupakan indikasi perawatan pulpotomi.
• Karies dalam yang melibatkan pulpa atau terdapat tanda-tanda degenerasi pulpa yang ekstensif merupakan indikasi untuk perawatan pulpektomi.
• Nekroosis pulpa atau keterlibatan ringan furkasi atau apeks tanda kehilangan jaringan penyangga yang cukup, merupakan indikasi untuk perawatan pulpektomi.
Yang perlu dievalusi adalah :
1. Apakah pasien mengeluhkan rasa tidak enak atau menunjukkan tanda abnormal lain atau gejala yang berhubungan dengan gigi yang dirawat. Hal ini akan merupakan kesempatan untuk menilai masalahnya dan mengadakan perawatan sebelum terjadi kerusakan lebih lanjut.
2. Diajurkan pula untuk mengikuti kasus tersebut dan mengadakan evalusi ulang terhadap reaksi perawatan. Perkembangan tanda-tanda klinis atau gejala-gejala seperti sakit,pembengkakan atau mobilitas menunjukkan kegagalan perawatan.
3. Prosedur yang kurang radikal memerlukan tindak lanjut yang paling cepat, misalnya menentukan dini bahwa perlindungan pulpa (pulpa capping) tidak berhasil akan memberikan kesempatan untuk melakukan perawatan pulpotomi sebelum prosedur yang lebih radikal diperlukan. Periode kritis untuk melakukan evaluasi ulang pada perawatan perlindungan pulpa (pulpa capping) adalah kira-kira 8 minggu, sedangkan evaluasi ulang untuk perawatan pulpotomi paling lama tiga bulan dan perawatan pulpektomi 6-12 bulan.
4. Evaluasi ulang paling penting sekali bagi pasien dan dokter gigi. Sementara hal itu dipertimbangkan sebagai pendekatan preventif untuk pasien, bagi dokter gigi hal tersebut bersifat mendidik. Evaluasi tersebut memberikan pengalaman dalam pemilihan kasus dan mempertajam keputusan klinis.
BAB IV
PENUTUP
IV.1 Simpulan
Dari penjelasan makalah diatas maka dapat ditarik kesimpulan yaitu:
Peran serta orang tua sangat diperlukan di dalam membimbing, memberikan pengertian, mengingatkan, dan menyediakan fasilitas kepada anak agar anak dapat memelihara gigi dan mulutnya.
Ada dua tindakan yang penting dilakukan sejak gigi anak mulai tumbuh, yaitu tindakan preventif atau pencegahan, dan tindakan kuratif atau pengobatan. Tindakan pencegahan bisa berupa banyak hal. Yang paling dasar, memotivasi dan mendorong anak agar bergaya hidup bersih.
Kebanyakan pasien merasa cemas pada kunjungan pertama kedokter gigi dan karena itu merupakan tujuan yang penting bagi dokter gigi dan stafnya untuk menghilangkan rasa cemas ini.
Informasi tentang riwayat pasien dibagi menjadi 3 bagian yaitu riwayat social, dental dan medis.
Catat riwayat
o Social
o Dental
o Medis
Periksa anak
o Ekstraoral
o Intraoral
Ambil radiografi jika diperlukan
o Untuk lihat karies gigi-bite wing
o Untuk lihat pertumbuhan gigi geligi
o Untuk menemukan gangguan spesifik
Lakukan prosedur operatif sederhana
Jelaskan tujuan perawatan pada orang tua.
Anamnesis adalah hasil tanya jawab antara dokter kepada pasien secara professional.
Diagnosis adalah ilmu pengetahuan tentang mengenai suatu penyakit melalui tanda, gejala klinis dan pengujian klinis.
IV.2 Saran
Adapun saran atau masukan kepada paper ini sangat di harapkan, demi bertambah luasnya wawasan yang dapatditerima dari pembelajaran ini. Serta memohon maaf apabila terdapat kekurangan atau kesalahan dalam makalah ini dikarenakan kurangnya referensi yang kelompok kami miliki dan sebagai manusia biasa, kami tidak luput dari kesalahan.
Sumber >>>>
1. Kabul, Tite. Pengelolaan Anak dengan Caries. Available from :http://www.portalkalbe.html
2. T.Hermina Maimun. Perawatan pulpotomi pada molar desidui yang berfistel.
3. Drg. Ibnu Ali, Sp.KGA. pemeriksaan ke dokter gigi. www.tabloid-nakita.com/Khasanah/khasanah09438-07.htm
4. ( Eriska Riyanti, Pengenalan dan Perawatan Kesehatan Gigi Anak Sejak Dini ) Available from : www.akademik.unsri.ac.id. Accessed February, 2010 )
5. Soegiyono. Tingkah Laku Anak Pada Perawatan Gigi Serta Penanggulangannya. M.I. Kedokt. Gigi. 1990;15(5):183-185
6. Albert cahyadi. Kerusakan Gigi pada balita. Available from : http://www.parenting.co.id/forum/forum_detail.asp?catid=&id=38&topicid=6067
7. R.J Andlaw, W.P. Rock. Perawatan Gigi Anak. Jakarta : Widya Medika. 1994
8. Q n A. General Check up untuk si kecil. www, Available From : conectique.com. Accessed February 16, 2010
Sabtu, 26 September 2009
Penanganan Anak Secara Nonfarmakologis
I.1. Latar Belakang
Dokter gigi yang akan melakukan perawatan pada anak – anak, seringkali mendapatkan suatu keadaan dimana anak akan merasa cemas dan takut pada saat bertemu untuk pertama kalinya. Rasa cemas dan takut juga akan dirasakan oleh anak – anak pada kunjungan berikutnya apabila pada kunjungan yang pertama, dia mendapatkan pengalaman yang kurang menyenangkan.
Penatalaksaan tingkah laku pasien merupakan salah satu faktor terpenting dalam ilmu kedokteran gigi anak. Tanpa kerja sama yang baik dari pasien, maka perawatan gigi yang akan dilakukan tidak akan berhasil. Keberhasilan dalam memberikan pelayanan kesehatan gigi bagi anak-anak tergantung pada cara kita dalam menghadapi dan menangani anak-anak tersebut.
Untuk mendapatkan suatu kerjasama yang baik antara pasien anak dan dokter gigi, maka dokter gigi bukan hanya mengadakan hubungan yang baik dengan anak, tetapi juga harus mengetahui beberapa hal penting lainnya. Hal-hal yang perlu diketahui antara lain adalah perkembangan anak, tingkah laku anak menurut kronologis umur dan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku anak, terutama tingkah lakunya pada saat mendapat perawatan gigi. Dengan mengetahui hal-hal tersebut, dokter gigi dapat memilih dan menggunakan teknik-teknik penatalaksanaan tingkah laku yang efektif agar dapat menangani pasien anak dengan baik, mengurangi ketakutannya dan menanggulangi tingkah lakunya yang tidak kooperatif serta
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Tingkatan Kooperatif Pasien
a. Tingkah Laku Anak
Komponen akhir dari kecemasan adalah tingkah laku, yang dapat berwujud dalam beberapa bentuk. Masalah tingkah laku yang di tunjukkan oleh anak-anak (seperti mendorong instrument menjauh, menolak membuka mulut) sering dianggap sebagai manifestasi kecemasan. Suatu metode yang menilai suatu tingkatan tingkah laku anak adalah skala 4 angka yang di kembangkan oleh Frankl dkk (1962). Tingkah laku seorang anak dikategorikan menjadi 4 kategori sesuai criteria berikut:1
1. Sangat Negative : menolak perawatan, meronta-ronta dan membantah, amat takut, menangis kuat-kuat, manarik atau mengisolasi diri atau keduanya.
2. Sedikit Negative : tindakan negative minor, atau mencoba bertahan, menyimpan rasa takut, dari minimal sampai sedang, nervus atau menangis.
3. Sedikit Positive : berhati-hati menerima perawatan, dengan agak segan, dengan taktik bertanya atau menolak, cukup bersedia berkejasama dengan dokter gigi.
4. Sangat Positive : bersikap baik dengan operator, tidak ada tanda-tanda takut, tertarik pada prosedur dan membuat kontak verbal yang baik.
b. Tingkat Kooperatif Pasien
Dari beberapa tipe diatas, dalam memahami tingkat cooperative pasien, Wright membaginya dalam tiga kategori:2
1. Kooperative
Anak datang dengan santai, rileks dengan rasa takut minimal, antusias terhadap perawatan gigi. Anak tersebut biasanya patuh terhadap instruksi yang diberikan.
Tingkah laku anak yang kooperatif di klinik atau tempat praktik dokter gigi yaitu mudah diajak unutk bekerjasama, anak yang kooperatif ini memiliki kepribadian yang santai dan tidak lemas jika sedang berada di ruang tunggu klinik gigi,. Selain itu anak yang kooperatif seperti ini sangat tertarik dengan perawatan yang akan dilakukan kepada dirinya. Kemudian dia bias juga menerima pendekatan yang dilakuakn oleh dokter.
2. Kurang Kooperative
Kurang kooperative ini biasanya terjadi pada anak yang masih muda (di bawah umur 3 tahun), anak-anak dengan cacat mental atau fisik dan anak-anak dengan pengetahuan yang sangat minim.
3. Berpotensi Kooperative:
Adapun kepribadian yang dimiliki oleh anak di klinik atau di tempat praktik dokter gigi yang berpotensi kooperatif atau tingkah laku yang mungkin kooperatif, yaitu:
• Mempunyai kemampuan diajak kerjasama
• Tingkah laku yang terkontrol
Usia3-6 tahun(kadang-kadang)
Tangisan dan jeritan keras(ruangan/ luar)
• Penyimpangan tingkahlaku
Anak-anakSD
• Sikapmalu-malu
Kecemasan luarbiasa(Instruksi ulang)
• Sikapmeratap
Selalu merintih (dokter gigi harus sabar)
Karakteristik dari anak ini adalah adanya masalah prilaku. Tipe tingkah laku ini berbeda dengan anak yang kurang kooperatif karena anak ini memiliki kemampuan untuk menjadi kooperatif. Bila karakter ini muncul, tindakan klinik beruapa modifikasi dan perilaku dapat di lakukan sehingga anak menjadi kooperatif.3
c. Tipe Kepribadian Seorang Anak
Sebagai dokter gigi tentu pantas mengetahui dan paham benar tipe kepribadian dari anak atau pasien anak. Tipe kepribadian itu berbeda-beda yaitu:4
1. Pemarah
Tipe pemarah agak sulit. Anak akan mengekspresikan apa saja yang tidak ia sukai atau ia tidak setujui dengan marah. Hal ini tentu harus dikendalikan, karena hampir semuanya diperlakukan dengan marah. Sebaiknya mengantisipasi apa saja yang bisa membuat ia marah. Saat anak marah lekaslah menengkannya. Anak pemarah biasanya kurang perhatian.
2. Bersahabat
Anak ini lebih unggul dari yang lain. Karena dengan sikap bersahabat, ia dengan sendiri dapat membuka pikiran dan bergaul baik dengan siapa saja. Pikiran sang anak selalu dalam keadaan positif. Ia mampu menyelami banyak permainan.
3. Keras Kepala
Anak Tipe ini memiliki pendapat sendiri dan tidak mau diatur. Selama ia lebih tenang, dengan lebih sabar karena anak keras kepala akan banyak memancing emosi. Lihatlah keinginan anak yang sebenarnya. Jika sudah tahu, jangan turuti keinginannya. Melainkan ajarkan sebuah usaha untuk meraihnya. Temani ia dengan sabar dan hindari pemaksaan. Ingat, anak keras kepala bisa menjadi manja dan tidak mandiri.
4. Egois
Anak egois lebih memiliki ketakutan lebih dari pada yang normal. Ia menjadi tidak peduli pada teman karena takut apa yang dikerjakannya tidak sempurna. Ia juga takut disaingi. Sebaiknya mengajari untuk berbagi dari hal-hal kecil terlebih dahulu. Mintalah anak untuk berbagi barang atau hadiah kepada adik atau kakaknya. Sambil memberitahu bahwa ia tidak akan kehilangan apapun jika berbagi.
5. Pemalas
Anak yang sering dibantu dalam melakukan kegiatannya akan menjadi pemalas. Boleh membantu anak hanya pada awalnya. Biarkan anak menyelesaikan tugas yang ia miliki. Tuangkan waktu untuk mendengar apa yang diinginkannya. Dari cerita sang anak kita bisa tahu apa yang menyebabkannya malas dan segeralah bantu ia memperbaiki itu. Anak malas jangan dimanja.
6. Perfeksionis
Anak-anak tidak bisa menjadi perfeksionis jika bukan karena tuntutan lingkungannya termasuk orangtua. Anak yang dari awal dilatih untuk mengerjakan suatu hal dengan sempurna, jika salah sedikit dihukum. Sifat ini membahayakan dirinya yang masih anak-anak. Anak perfeksionis lebih tertekan secara psikologis dari pada anak biasa. Wajib bagi orangtua memberi penjelasan agar melakukan sesuatu tidak harus menjadi juara. Asal sudah berusaha maksimal itu sudah bagus.
7. Suka Ngambek
Anak suka ngambek cenderung manja. Apa-apa yang ia ingin selalu dituruti. Lambat laun hanya akan menyusahkan saja. Orangtua baik akan menunda memenuhi keinginnanya. Mulailah memberi tekanan-tekanan kecil pada anak yang suka ngambek. Butuh kesabaran ekstra dari orangtua mengatasi anak suka ngambek ini. Jelasnya, jangan asal banyak menuruti anak.
8. Pasif
Anak pasif lebih lamban dan tidak banyak semangat terlihat pada dirinya. Lakukan pendekatan kekeluargaan. Libatkan secara aktif dalam kegiatan keluarga dan permainan yang seru. Buatkan jadwal rutinitas untuknya sehingga bisa memicu pikiran aktif. Selalu memberi dukungan dalam kegiatannya, meskipun sedikit.
d. Tingkah Laku Anak Dalam Perawatan Gigi dan Mulut
Adapun tingkah laku seorang anak jika berada diklinik dokter gigi atau pada saat perawatan gigi dan mulut sebagai berikut: 5
1. Tipe yang bekerja sama (kooperatif)
Tipe ini adalah tingkah laku yang terbuka, tingkah laku yang dapat mengerti tentang dirinya sendiri. Pasien yang santai dan kunjungan menjadi menyenangkan bagi pasien dan dokter gigi. Prosedur perawatan menjadi sempurna dengan menggunakan metode, (tell show do). Anak juga akan mudah mengikuti apa yang diinstruksikan oleh dokter gigi. Meskipun kooperatif, pasien tipe ini harus tetap ditangani sebagaimana mestinya den gan maksud bahwa dokter gigi menginginkan untuk tetap kooperatif dan menikmati pengalaman berkunjung ke dokter gigi.
2. Tipe tidak bekerjasama (Tidak kooperatif)
Ada dua kelompok pada pasien pada kategori ini
• Dokter gigi akan mendapatkan kesulitan berkomunikasi dengan pasien yang sangat muda. Sebagai contoh pada saat dokter gigi menemukan karies pada anak balita seperti anak bayi yang masih berumur 17 bulan.
• Pasien yang cacat, dimana tidak mampu mengerti dan berkomunikasi akibat cacatnya yang khusus, seperti pada beberapa anak yang mengalamai retardasi mental. Kadangkala penanganan dapat diselesaikan dengan penggunan anastesi umum yang telah terbukti menjadi satu-satunya penangan yang paling berhasil bagi pasien tersebut.
3. Tipe histerik (Tidak terkontrol)
Beberapa karakteristik akan apat terlihat pada pasien dengan tingkah lakuyang tidak terkontrol. Pasien biasanya berumur 3-6 tahun dan ini merupakan kunjungan yang pertama kali ke dokter gigi.
pada perawatan tersebut aka nada tangisan yang nyaring, teriakan dan tabiat pemarah. Kesemuanya akan timbul oleh karena tingkat kecemasan dan ketakutan yang tinggi.
Tipe ini dapat diatasi dengan engevaluasi pasien pasien di ruang tunggu dan mengevaluasi kecemasannya pada saat itu sebelum masuk keruang kerja. Jika pasien menunjukkan sikap takut/cemas, pendekatan yang akran dan bersahabat harus dilakukan dengan menjelaskan sejelas mungkin mengenai prosedur yang akan dilakukan ke terhadapnya. Hal ini untuk membantu mengurangi rasa kecemasan terhadap anak tersebut.
4. Tipe keras kepala
Pasien yang menentang atau keras kepala sering bersikap bodoh dan menjadi perusak. Ia melawan orang dewasa baik itu dokter gigi. Terkadang jika dalam perawatan ia lalu berkata”tidak, saya tidak mau! Kamu to=idak bias berbuat begitu kepada saya”. Pasien biasanya berbuat begitu di ruang praktek. Dengan perilaku demikian penanganan yang terbai adalah dengan memanggil anak dengan menggertak dan diikuti dengan perkataan yang tegas.
Bentuk lain dari pasien tipe ini adalah pasien yang bersikap pasif dan tidak melawan. Hal ini terlihat pada usia awal remaja dimana mereka melawan pada perampasan kebebasan yang di ambil dari dirinya, . pasien ini tidak mau berbicara dan ttidak mau menjawab pertanyaan yang diberikan., ia akan sering duduk tanpa emosi dan tidak mau membuka mulutnya. Menangan\i tipe tingkah laku seperti ini harus dilakukan dengan tanpa paksaan fisik. Hal yang terbaik adalah mengerti dan berhubungan pasien, berlaku jujur dan menyetujui apa yang dirasakannya dengan mengatakan “banyak orang yang tidak suka disuntik” atau “banyak sekali ha yang harus kita lakukan tetapi sebenanrnya kita tidak menyukainya” penghargaan harus diberikan untuk tingkah laku yang positif. Dengan tujuan agar dapat menerima perawatan gigi yang akan dilakukan
5. Tipe pemalu
Tingkah laku yang pemalu memerlukan penanganan yang seerius karena tanpa penanganan yang sepatutnya, potensi menjadi pasien yang baik dapat berubah menjadi pasien yang kooperatif.
Tipe dari prilaku ini merupakan refleksi dari proteksi orang tua yang berlebihan yang mengarahkan anak menjadi sangat tergantung pada orang tua. Sebagai hasil dari tindakan tersebut, pasien yang segan atau malu berada dalam kecemasan yang konstan karena anak tersebut tidak mau menunjukkan sikap yang minta dikasihani. Pasien yang pemalu sangat melibatkan diri dengan rasa takutnya sehingga ia tidak mendengarkan sekitarnya. Dengan demikian, seseorang diperlukan untuk mengulangi instruksi yang diberikan dan berulang-ulang menjelaskan kembali.
6. Tipe kooperatif tegang
Pada saat berhadapan dengan anak ini, harus di pastikan bahwa anak tersebut berada pada saat yang tepat. Mungkin akan terlihat tegang dengan suara yang gemetar dan seringkali memandang di sekeliling ruang praktek.
Pasien ini dan menerima tindakan perlakuan/perawatan, namun juga yang penting diperhatikan adalah tidak melakukan hal-hal yang dapat menambah berat situasi yang dialaminya.
Disamping itu dibutuhkan juga kemampuan untuk mengenali tipe pasien ini, menghargai sikap tingkah lakunya dan menjauhkan atau menghindari kemungkinan-kemungkinan adanya kebisingan atau perubahan pada tekanan suara yang menjadi tinggi.
7. Tipe pasien cengeng
Walaupun pasien ini mengeluh selama perawatan dilakukan, namun ia tetap memperkenankan ha tersebut tetap dilakukan.. pasien mengalami hal yang mencemaskan.
Salah satu metode untuk menangani metode ini adalah mengingatkan agar tetap tenang dan sabar. Dapat juga diberikan keyakinan dan pengertian dengan mengatakan kepada pasien bahwa prosedur perawatan akan segera berakhir dan ia dapat pulang kerumah.
II.2. Faktor-Faktor Yang Memperngaruhi Kooperatif Pasien
Adapun Faktor-fakto yang mempengaruhi koopertif seorang anak yaitu:
a. Keadaan Anak
• Umur anak
Umur anak merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkah laku anak. Anak yang berusia diatas 3 tahun tingkah laku negatifnya sudah berkurang dan lebih banyak menunjukkan sikap kooperatif.(6,8)
• Kesadaran anak akan masalah kesehatan gigi
Pada umumnya seorang anak dating ke dkter gigi setelah ada masalah dengan giginya, misalnya sakit gigi, adanya pembengkakan atau lain sebagainya. Sehingga anak akan menunjukkan tingkah laku yang negatif, karena anak tersebut dtang dalam keadaan sakit dan membutuhkan perawatan yang lebuh kompleks. Karena itu penting bagi orang tua untuk membawa anaknya ke dokter gigi lebih awal sebelum adanya masalhadengan gigi anak tersebut. Dan hal ini sekaligus menjadi tahapan pengenalan bagi anak tentang perawatan gigi.
• Pengalaman perawatan sebelumya
Pengalaman pada perawatan sebelumya merupakan pertimbangan lain dalam riyawat penyakit seorang anak.
Adanya rasa sakit atau perasaan tidak menyenangkan yang pernah dialami pada perawatan sebelumnya, merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi dalam perawtan-perawaatn berikutnya. Bila dalam perawtan sebelumnya anak tidak mengalami rasa sakit, maka aanak akan cenderung menjadi kooperatif.(6,8)
b. Orang Tua
Salah satu hal yang paling berpengaruh terhadap prilaku anak dalam menerima perawatan gigi adalah didikan orang tua.(6)
Untuk mengetahui bagaimana orang tua dapat mempengaruhi prilaku anak dalam klinik gigi, maka perlu diketahui beberapa tipe orang tua yang dapat berpengaruh terhadap tingkah laku anak:
• Orang tua yang terlalu memberi hati (6)
Orang tua yang terlalu memberikan hati menunjukkan perhatian yang berlebihan terhadap anaknya. Orang tua semacam ini akan terlihat berhubungan seperti sahabat dengan anaknya. Setiap kebutuhan yang diperlukan anak tersebut pasti akan dipenuhi sehingga hasilnya, anak tersebut tidak mengalami perkembangan dalam reaksinya. Anak akan menunjukkan perlakuan sebagai berikut:
a. Tidak memiliki control diri
b. Bertempramen pemarah
c. Keinginan yang berlebihan
d. Menjadi lengah dan tidak penurut.
Pada kasus ini, berbicara dengan orang tua dan anak sebelum perawatan dilakukan, dibutuhkan sebagai persiapan/berjaga-jaga akan kemungkinan munculnya masalah dalam penanganan.
Anak dengan orang tua seperti ini akan termasuk pada kelompok menentang atau tingkah laku yang tidak terkendali.
• Orang tua yang terlalu melindungi(7)
Orang tua yang terlalu melindungi menunjukkan tingginya tingkat kecemasan. Hal ini dapat berasal dari kurangnya kasih sayang pada masa anak-anak atau mungkin menginginkan anak dalam jangka waktu yang panjang/lama, atau hal ini dapat merupakan hasil peningakatan pengendalian orang tua. Semua hal diatas menimbulkan konsekwensi, anak akan mengalami keterlambatan dalam pematangan social dan aturan-aturan social. Anak menjadi merasa tidak berdaya, malu, cemas dan memiliki perasaan sebagai seorang yang berada dibawah. Karena berlebihan dalam hal ini, orang tua menjadi cemas tentang kesehatan anaknya, maka dokter gigi harus memberikan waktu yang lebih untuk menjelaskan tentang hal-hal yang berhubungan denga perawatan gigi. Berkurangnya kecemasan pada orang tua akan berpengaruh pula dalam mengurangi kecemasan anak.
• Orang tua yang otoriter(6)
Orang tua seperti ini biasanya mempunyai pandangan bahwa apa uang telah ditetapkan atau diputuskan, itulah yang terbaik buat anaknya. Anak denga orang tua seperti ini cenderung patuh, bertingkah laku baik, ramah dan sopan. Pada waktu perawatan anak dapat menjadi kooperatif atau cenderung kooperatif, meskipun demikian dokter gigi seharusnya tidak menambah kecemasan yang mungkin dialami anak tersebut. Pada keadaan ini dokter gigi harus mengingatkan kepada orang tua anak untuk bersikap netral dan tidak menujukkan sikap otoriternya.
• Orang tua yang lalai(6)
Orang tua tipe ini mungkin akan terlihat pada waktu kunjungan pertama anaknya ke dokter gigi. Biasanya akan tampak pada perjanjian kunjungan berikutnya, dimana anak tersebut tidak kembali untuk perawatan selanjutnya. Disini terlihat bahwa orang tua sedikit lalai untuk membawa anaknya kembali ke dokter gigi. Hal lain yaitu berupa motivasi-motivasi dan penyuluhan yang disampaikan oleh dokter gigi tidak dijalankan dengan baik, juga termasuk instruksi-instruksi yang disampaikan olehnya. Hal ini mungkin dikarenakan adanya kesibukan orang tua, yang mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap kesehatan gigi anaknya.
• Kecemasan pada ibu(6)
Tingkat kecemasan ibu akan sangat berpengaruh pada munculnya kecemasan pada anak. Jika tingkat kecemasan anak tinggi, maka kemungkinan akan muncul tingkah laku yang negatif.
Kecemasan pada ibu pada saat anaknya akan mendapatkan perawatan umumnya muncul pada anak saat anak berumur 36-47 bulan dan kecemasan berkurang bersamaan dengan bertambahnya umur.
Seorang anak dapat membaca bahasa tubuh ibunya pada saat ibu tersebut berada dalam tahap kecemasan.
Ketakutan tersebut hanyalah suatu proteksi dan keamanan, namun tidak dapat memberikan kebutuhan akan kenyamanan, malah akan membuat anak menjadi cemas. Ada beberapa cara untuk mengatasi masalah ini. Salah satu cara yang berhasil mengubah kebiasaan dan dampak dari kecemasan pada ibu yaitu dengan mengirimkan surat sebelum pertemuan yang berisikan penjelasan mengenai hal yang akan ditemui pada saat kunjungan pertama. Cara lain adalah berbicara dengan ibu walapun tanpa diketahui oleh anak yang berada di ruang tunggu, dan bicarakan pada ibu tersebut tentang keadaannya. Dengan berbicara kepada ibu tersebut, tentang kunjungan ke dokter gigi, kecemasannya dapat dikurangi. Jika anak kemudian dapat melihat bahwa kekhawatiran ibunya berkurang, maka kecemasan pada anak tersebut juga akan berkurang dibandingkan sebelum ibunya diberi penjelasan di awal kunjungan.
e. Saudara Kandung
Hubungan saudara dibutuhkan tidak untuk member efek negatif. Saudara yang lebih muda sewaktu-waktu dapat diperkenankan untuk mengamati saudaranya yang lebih muda yang menunjukkan sikap kooperatif pada saat dilakukan perawtan di ruang praktek. Pada kunjungan ini dilakukan prosedur yang sederhana seperti pengambilan foto radiografi dan penanganan oral propilaxis (pencegahan). (6)
Melihat pengalaman kakaknya dalam menerima perawatan gigi, akan membuat si adik menerima perawatan pada saat gilirannya untuk berkunjung ke dokter gigi.(6)
f. Status Sosial Ekonomi
Latar belakang sosial akan mempengaruhi seorang anak dalam menerima perawatan gigi. Setiap subkultur memiliki karakteristik masing-masing yang berisikan nilai dan prinsip. Sebagian orang tua menekankan kedisiplinan yang lebih dibandingkan orang tua yang lainnya. (6)
Latar belakang ekonomi merupakan hal penting lainnya yang juga harus disadari. Seorang ibu yang berasal dari kelas menengah, dalam menerapkan kedisiplinan menggunakan cara yang lebih umum dan sedikit kedisiplinan fisik. Sedangkan orang tua kelas bawah, menggunakan hukuman fisik dalam menerapkan kedisiplinan. Hal ini jelas, bahwa anak dengan latar belakang di atas menunjukkan dapat disiplin dan diatur yang biasanya terbukti pada tingkat kesulitan yang kecil saat perawatan dilakukan. (6)
Dari pengalaman yang ada, anak yang berada pada status ekonomi rendah, biasanya kurang memperhatikan OH (Oral Hygine) dan kurang peduli dengan rencana perawatan, tetapi akan mudah diarahkan, sedangkan anak yang berada pada status ekonomi tinggi akan lebih memperhatikan OH namun manja dan sukar diatur. (6)
g. Lingkungan Klinik Gigi
Lingkungan atau situasi klinik gigi termasuk keadaan ruang tunggu, ruang perawatan, maupun dokter gigi beserta asisten juga dapat mempengaruhi tingkah laku anak dalam klinik gigi. (6)
Ruang tunggu yang terpisah dari ruang perawatan dengan gambar-gambar yang cerah dan lucu akan memberikan pengaruh yang lebih baik karena anak yang berada di ruang tunggu tidak terlalu mendengar suara-suara dari dalam ruang perawatan, seperti suara air jet atauapun tangisan dari anak yang sedang dirawat, sehingga anak-anak yang berada di ruang tunggu tidak menjadi takut dan cemas yang akhirnya akan menimbulkan sikap yang kooperatif.
Sikap dokter gigi dan asistennya juga dapat memberikan pengaruh terhadap sikap anak selama kunjungannya ke dokter gigi. Senyuman dan tatapan ramah dari dokter gigi akan memberikan rasa aman pada diri anak. (6)
II.3. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Rasa Tidak Nyaman Di Klinik
a. Factor Instrinsik
b. Factor Ekstrinsik
II.4. Peranan Dokter Gigi Dalam Menangani Tingkah Laku Anak Di Klinik
II.5.Penanganan Praperawatan
Ahli psikologi mempergunakan istilah pembentukan tingkah laku untuk menunjukkan proses memodifikasi tingkah laku pasien ke arah ideal. Bagian utama dari pembentukan tingkah laku adalah mendefinisikan suatu seri langkah-langkah pada jalur menuju tingkah laku yang diinginkan, dan kemudian maju langkah demi langkah ke tujuannya. Dalam hubungannya dengan kedokteran gigi, ini dapat dikatakan bahwa tingkah laku ideal ditunjukkan oleh pasien yang menjaga kebersihan mulutnya dengan sangat baik, melatih pengaturan diet, dan santai serta kooperatif selama perawatan operatif. Adalah tidak realistis untuk mengharapkan setiap pasien menunjukkan macam tingkah laku ini pada kunjungan pertama; tetapi menganggap sebagai tingkah laku yang tidak dapat dirubah pada diri mereka yang belum mempunyai tingkah laku ideal juga salah, atau hanya mengharapkan akan menjadi baik di kemudian hari. Tindakan yang benar adalah merencanakan perawatan sedemikian sehingga tingkah laku anak perlahan-lahan meningkat pada tingkat yang diinginkan. Hanya dengan begitulah tujuan yang mendasar dari kedokteran gigi untuk anak dapat dipenuhi, yaitu memodifikasi sikap dan tingkah laku ke arah positif, selain melaksanakan setiap perawatan yang diperlukan. 2
Pada perawatan gigi operatif, pembentukan tingkah laku didasarkan pada prosedur rencana perawatan pendahuluan yang diinginkan, Sehingga anak perlahan-lahan dilatih untuk menerima perawatan dalam keadaan santai dan kooperatif. Langkah-langkah yang dapat merupakan perawatan pendahuluan pada rata-rata anak usia sekolah adalah 2:
1. Pemeriksaan dan profilaksis.
2. Fissure sealant atau penggunaa flour topikal.
3. Restorasi oklusal yang kecil pada gigi susu tanpa anestesi lokal.
4. Anestesi infiltrasi dan restorasi.
5. Blok pada saraf gigi bawah dan restorasi.
Waktu yang diperlukan pada tiap langkah tergantung pada tingkah laku anak. Jadi beberapa anak mungkin memerlukan beberapa kunjungan singkat pada langkah-langkah awal sebelum menjadi lebih lanjut, sedang yang lain dapat sampai pada langkah 5 dalam satu atau dua kunjungan. Tentu saja, pada beberapa anak dapat dilakukan langkah 5 pada kunjungan pertama, tetapi ini tidak bisa dianggap praktek yang baik walaupun anak dapat menerima perawatan, pendekatan demikian itu berlawanan dengan prinsip-prinsip pembentukan tingkah laku dan kemungkinan keberhasilannya kurang. 2
Untuk anak kecil yang sangat takut, dapat direncanakan langkah-langkah berikut (Hill dan O’Mullane, 1976) 2:
1. Anak menyikat gigi-giginya dengan sikat giginya sendiri pada tempat cuci.
2. Ibu, dan kemudian dokter gigi, menggosok gigi-gigi anak dengan sikatnya sendiri pada tempat cuci.
3. Anak duduk pada kursi perawatan gigi, dilakukan pemeriksaan dan pemakaian brush profilaksis dengan handpiece berkecepatan rendah.
4. Lanjutkan sebagaimana anak normal.
Pendekatan bertahap dalam pembentukan tingkah laku ini dapat menunda kemajuan perawatan, tetapi bila kerja sama yang penuh dari anak dapat diperoleh, penundaan ini tentu lebih bermanfaat karena waktu yang dilewatkan tersebut dapat dianggap sebagai investasi yang nyata. 2
a. Informasi kesehatan gigi dengan gambar
Siapa yang tak senang melihat anaknya tersenyum manis dengan gigi yang putih, bersih dan sehat? Dan orang tua mana yang tahan melihat anaknya menangis kesakitan karena giginya berlubang? Perawatan gigi dan mulut pada masa balita dan anak sangat menentukan kesehatan gigi dan mulut mereka pada tingkatan usia selanjutnya. Beberapa penyakit gigi dan mulut bisa mereka alami bila perawatan tidak dilakukan dengan baik. Diantaranya karies (lubang pada permukaan gigi), ginggivitis (peradangan gusi), dan sariawan. Mencegah kerusakan gigi lebih penting daripada terpaksa berobat ke dokter gigi setelah gigi rusak atau berlubang. Tindakan pencegahan merupakan hal yang terbaik, selain tidak merasakan sakit, seseorangpun tidak perlu mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk mengobati sakit giginya.3
Untuk menjaga kesehatan gigi pada bayi dan anak-anak, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua, yaitu3:
- Siapkan makanan kaya kalsium (ikan & susu), fluor (teh, sayuran hijau), fosfor, serta vitamin A (wortel), vitamin C (buah-buahan), vitamin D (susu), dan vitamin E (kecambah). Mineral dan vitamin tersebut diperlukan untuk pertumbuhan gigi mereka.
- Kurangi konsumsi makanan manis dan mudah melekat pada gigi, seperti permen atau coklat. Gula pada makanan manis bisa merusak gigi anak, tetapi jangan lantas melarang sama sekali untuk makan makanan manis, karena dapat menimbulkan dampak psikis. Untuk menjaga kebersihan giginya, biasakan mereka berkumur-kumur setelah makan makanan manis tersebut.
- Ajari anak menggosok gigi secara teratur dan benar, minimal 2 kali sehari, pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Lebih baik lagi bila dilakukan setiap usai makan. Untuk bayi usia 6-11 bulan, setelah habis menyusu atau makan dibersihkan giginya dengan kapas atau kain kasa steril yang dibasahi air, diusapkan pelan-pelan ke setiap permukaan gigi. Pada anak usia 1-2 tahun mulai diperkenalkan dengan sikat gigi, untuk tahap pengenalan lebih baik tidak memakai pasta gigi, karena tidak semua anak bisa merasa nyaman dengan rasa pasta gigi, pasta gigi bisa-bisa dirasa aneh oleh anak. Jadi, cukup gunakan sikat gigi dibasahi air hangat matang saja. Kemudian anak dilatih memegang sikat gigi dan belajar menggosokannya secara perlahan ke setiap permukaan giginya. Setelah berjalan beberapa minggu dan anak sudah terbiasa menggosok gigi, boleh diberi sedikit demi sedikit pasta gigi khusus anak.
- Upayakan untuk memperkenalkan anak secara dini mengunjungi dokter gigi sejak usia 1 tahun. Hal ini akan bermanfaat dalam membiasakan dan mengatasi rasa asing atau takut pada dokter gigi. Selain itu, hal ini juga penting agar dokter mengetahui sejak dini mengenai gangguan gigi apa saja yang bisa dialami anak tersebut. Selanjutnya ajaklah anak untuk memeriksakan kesehatan giginya secara rutin 6 bulan sekali. Terutama untuk anak-anak usia 6-11 tahun penting untuk memeriksakan kesehatan gigi dan mulutnya secara rutin, karena gigi mereka mengalami pergantian dari gigi susu ke gigi tetap.
- Apabila anak mengeluh sakit giginya, berilah air garam untuk berkumur-kumur, kemudian segeralah bawa ke dokter gigi, karena kalau dibiarkan terlalu lama, akan menimbulkan penyakit gigi yang berlanjut, yang lebih parah.
Anak adalah pribadi yang unik, ia bukanlah seorang dewasa yang bertubuh kecil. Namun ia adalah sosok pribadi yang berada dalam masa pertumbuhan baik secara fisik, mental dan intelektual. 4
Mereka mengalami berbagai fase dalam perkembangannya,dimana pada usia 2 sampai 5 tahun merupakan fase yang paling aktif, terutama pada perkembangan otak anak, oleh karena itu periode tersebut dikenal sebagai masa keemasan anak atau golden age. 4
Dalam memberikan pendidikan kesehatan fisik pada anak seringkali orang tua dan guru hanya membatasi pada kesehatan tubuh saja. Pendidikan kesehatan gigi (Dental Health Education) seringkali menjadi topik yang kurang mendapat perhatian baik dirumah maupun sekolah. 4
Ada beberapa alasan mengapa seringkali orangtua kurang memperhatikan kebersihan dan kesehatan gigi anak. Alasan yang paling banyak ditemukan adalah masih banyak orangtua yang beranggapan bahwa gigi pada anak adalah gigi susu ,jadi tidak usah dirawat karena nanti juga akan berganti dengan gigi tetap. Padahal sebenarnya justru pada masa gigi susu itulah anak harus mulai dajarkan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan giginya. Karena alasan berikut 4:
1. Pada masa gigi susu, sedang terjadi pembentukan gigi tetap didalam tulang. Sehingga jika ada kerusakan gigi susu yang parah dapat mengganggu proses pembentukan gigi tetapnya. Hal ini dapat mengakibatkan gigi tetapnya tumbuh dengan tidak normal.
2. Mulut adalah pintu utama masuknya makanan ke dalam perut. Mulut adalah lokasi pertama yang dilalui makanan dalam proses pencernaan. Jika terjadi gangguan pada mulut maka akan mengganggu kelancaran proses pencernaan.
3. Infeksi yang terjadi pada gigi dan mulut dapat mempengaruhi kesehatan organ di dalam tubuh seperti jantung, paru-paru, ginjal, dll. Karena infeksi dalam mulut dapat menyebar ke dalam organ-organ tersebut yang disebut dengan fokal infeksi.
4. Infeksi gigi dan mulut yang diderita anak akan membuat anak menjadi malas beraktivitas dan akan mengganggu proses belajar mereka.
Melihat alasan-alasan tersebut, maka saat ini beberapa sekolah tertentu gencar memberikan pendidikan kesehatan gigi bagi siswa mereka. Bahkan ada sekolah yang menjadikan pendidikan kesehatan gigi bersama dengan pendidikan kesehatan umum sebagai bagian dari kurikulum sekolah. 4
b. Kontrol Kesehatan Gigi
Bagi para orangtua di rumah pendidikan kesehatan gigi sudah harus dimulai sejak gigi pertama ada dalam mulut anak.Bagaimana caranya?Yaitu dengan selalu membersihkan gigi anak setiap selesai minum susu atau selesai makan. Tidak perlu menggunakan sikat gigi, namun bisa dilakukan dengan menggunakan kain kasa lembut yang dibasahi dengan air hangat. Sepertinya hanya sebuah perlakuan yang biasa saja, namun sesungguhnya hal itu memberikan sebuah pengalaman baru yang luar biasa pada anak. Ketika ibu membersihkan gigi dengan kain lembut yang dibasahi air hangat, anak merasa bahwa kegiatan membersihkan gigi adalah kegiatan yang menyenangkan dan itu akan terekam dalam memori anak.Dampaknya, ketika anak akan diperkenalkan dengan sikat gigi pada usia 1 tahun tidak akan ada lagi keluhan anak tidak mau menyikat gigi karena takut melihat sikat gigi yang akan dimasukkan dalam mulut mereka. 4
Ketika anak berusia dua tahun, jumlah gigi dalam mulut sudah lengkap dua puluh buah. Mulailah anak diajarkan menyikat gigi sendiri dan orangtua tetap mengawasi. Saat mereka sudah bisa berkumur, boleh ditambah dengan pasta gigi. Ajaklah anak untuk biasa mengkonsumsi sayur atau buah dan kontrol makanan manis yang mereka konsumsi. Bukan tidak boleh anak memakan makanan yang manis karena itu makanan kesukaan mereka. Hanya orang tua perlu mengontrol banyaknya atau macam dari makanan manis yang mereka makan. 4
Usia dua tahun merupakan usia yang pas bagi anak untuk belajar mengenal dokter gigi. Ajaklah anak ke klinik gigi untuk memeriksa gigi mereka walaupun belum ada keluhan. Karena bisa saja sudah terjadi lubang kecil pada gigi anak yang tidak dirasakan mereka namun sudah harus dilakukan penanganan oleh dokter gigi. 4
Jadikanlah pendidikan kesehatan gigi sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan bagi anak. Karena dengan demikian kita sebagai orangtua tidak akan berteriak-teriak lagi menyuruh anak menyikat gigi saat mandi pagi dan Insya Allah kita tidak akan mengalami bangun tengah malam karena anak menangis karena giginya sakit. Dan yang lebih penting lagi proses tumbuh kembang anak tidak terganggu akibat anak sakit gigi. 4
Kerusakan gigi pada anak (usia 6-11) dan remaja (12-19) 5 kali lipat lebih banyak dibadingkan kasus asma dan 7 kali lebih banyak dibandingkan kasus demam. 5
Hal ini disebabkan oleh orangtua yang tidak menerapkan perawatan gigi yang baik sejak kecil. Bagaimana perawatan yang tepat? Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa menjadi panduan Anda. 5
Mulai perawatan sejak dini.
Berdasarkan anjuran American Academy of Pediatrics dan the American Academy of Pediatric Dentistry, anak Anda sebaiknya sudah diperiksakan ke dokter gigi saat memasuki usia satu tahun. 5
Pencegahan dini ini, menurut laporan Centers for Disease Control and Prevention, akan menghemat pengeluaran uang dalam jangka panjang. Laporan dari lembaga ini menyebutkan, biaya perawatan gigi selama kisaran waktu 5 tahun sebanyak 40% lebih rendah pada anak yang telah melakukan pemeriksaan di usia 1 tahun dibandingkan mereka yang tidak. 5
Ajarkan kebiasaan menggosok gigi dan flossing.
Selain memeriksakan dini, menggosok gigi sejak usia awal juga merupakan hal yang sangat penting. Kapan harus mulai menggosok gigi anak? “Jika bayi Anda sudah mempunyai satu gigi saja, sudah saatnya mulai menggosok gigi,” tutur Largent, seperti dikutip situs webmd. Jika hanya satu, Anda bisa menggunakan kain kasa. 5
Kebiasaan menyikat, terang Largent, sudah bisa dimulai bahkan saat anak belum memiliki gigi. Anda bisa menggosok gusi anak secara lembut dengan menggunakan air dan sikat gigi bayi yang halus, atau membersihkan gusi dengan kain kasa yang dibasahi. 5
Saat menggosok gigi ini, jangan lupa pula untuk membersihkan permukaan lidah. Tempat ini juga merupakan tempat bersarangnya kuman karena tumbukan lemak-lemak susu yang menebal. Percuma jika gigi bersih namun lidah tetap kotor. Kuman yang ada di lidah juga bisamempengaruhi kerusakan gigi. 5
Bagaimana dengan flossing? Menurut Largent, flossing sudah bisa dimulai saat bayi sudah memiliki dua gigi yang saling berdampingan.”Berkonsultasilah dengan dokter mengenai teknik flossing dan jadwal yang tepat. 5
Selain itu, berkonsultasilah dengan dokter mengenai kapan anak bisa mulai menggunakan mouthwash.”Saya menyarankan orangtua menunggu hingga anak sudah bisa memuntahkan kembali mouthwash,” terang Mary Hayes, seorang dokter gigi dari Chicago. 5
Kapan anak seharusnya mulai bisa bertanggung jawab menggosok giginya sendiri? Idealnya, saat anak sudah mulai bisa mandi sendiri dan belajar bertanggung jawab pada kebersihan tubuhnya. Selama proses mandi sendiri, lengkap dengan sikat gigi, Anda sebaiknya tetap mengawasi tingkat kebersihannya. Beritahu mana yang masih kurang bersih \dan mana yang perlu diperhatikan, sebab kebiasaan ini nantinya akan terbawa hingga dewasa. 5
Dalam menggosok gigi, ada 3 faktor yang harus diperhatikan, yaitu3:
1. Pemilihan sikat gigi:
Untuk anak pilih sikat gigi yang kecil baik tangkai maupun kepala sikatnya, sehingga mudah dipegang dan tidak merusak gusi. Bulu sikat jangan terlalu keras / terlalu lembut terlalu jarang. Pilih yang bulu sikatnya lembut tapi cukup kuat untuk melepas kotoran di gigi. Ujung kepala sikat menyempit hingga mudah menjangkau seluruh bagian mulutnya yang relatif mungil Ujung sikat gigi dan ujung bulu sikat sedekat mungkin, bila tidak ujung sikat gigi sudah mentok ke bagian belakang tapi bulu sikat tidak kena gigi, jadi ada bagian gigi yang tidak tersikat. Ini biasanya pada gigi geraham bungsu.
2. Cara/gerakan sikat gigi:
Pangkulah anak di depan sebuah cermin, dengan posisi membelakangi kita. Dengan begitu anak akan melihat sendiri giginya yang semula kuning setelah disikat jadi lebih putih. Sikatlah gigi pada permukaan luar dan permukaan dalam gigi, lakukan gerakan vertikal dan searah dari bagian gusi ke arah permukaan gigi (lihat gambar. 1 dan gambar. 3). Untuk rahang atas gerakan sikat dari atas ke bawah, untuk rahang bawah dari bawah ke atas. Sedangkan untuk bagian permukaan kunyah, baik gigi atas maupun bawah, teknik penyikatannya adalah gigi disikat dengan gerakan horisontal dari gigi-gigi belakang ke arah gigi depan (menarik sikat ke arah luar mulut, lihat gambar. 2 atas). Kalau teknik ini dilakukan dengan benar, hasilnya bisa lebih maksimal sementara kesehatan gusi pun tetap terjaga. Setiap permukaan gigi disikat dengan teliti, tidak usah terlalu keras, tapi mantap. Gusi harus tersikat agar sisa-sisa makanan lunak yang ada di leher gigi hilang dan selain itu juga berfungsi untuk melakukan massage (pijatan) pada gusi, sehingga gusi sehat, kenyal dan tidak mudah berdarah. Jangan lupa, permukaan lidah juga perlu disikat pelan-pelan, karena permukaan lidah itu tidak rata sehingga mudah terselip sisa-sisa makanan (lihat gambar.2 bawah).
3. Frekuensi sikat gigi:
Minimal 2 kali sehari, pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Idealnya sikat gigi setiap habis makan, tapi yang paling penting malam hari sebelum tidur. Sebaiknya sikat gigi dengan pasta gigi yang mengandung fluor yang dapat menguatkan email. Untuk anak-anak berikan pasta gigi dengan rasa buah, sehingga anak gemar menggosok gigi.
Pada anak usia balita memerlukan peranan orang tua untuk membantu proses pembelajaran menggosok gigi secara rutin dan benar, karena dengan bimbingan dan penanaman kebiasaan menggosok gigi, akan bermanfaat untuk menjaga kesehatan giginya yang putih bak mutiara. Dibutuhkan kesabaran orang tua dalam proses pembelajaran ini, kadang mula-mula anak menutup rapat mulutnya setiap kali giginya mau dibersihkan. Penolakan ini wajar karena anak mengira dirinya akan disakiti. Langkah inovatif diperlukan ketika menggosok gigi si anak. Ajak si kecil melihat kakak, ayah, atau ibunya menggosok gigi. Dengan begitu anak akan melihat langsung contoh/model bagaimana cara menggosok gigi. Selain itu sikat gigi juga bisa dilakukan sambil bermain, tak perlu selalu di kamar mandi. Misalnya sambil bercermin, atau sambil menari-nari dan bernyanyi gembira. Buat acara menggosok gigi menjadi menyenangkan sehingga mereka menikmatinya dan tidak malas melakukannya. Jadikan acara sikat gigi sebagai salah satu kebutuhan yang harus dilakukan minimal dua kali sehari. Selagi membangun kebiasaan ini, sampaikan pengertian kepada anak mengenai manfaat menyikat gigi, paling konkret adalah gigi jadi bersih, putih dan sehat. 3
Hindari kerusakan gigi akibat botol susu.
Jangan pernah biarkan bayi Anda tertidur dengan botol susu, formula atau jus yang masih menempel di bibir. Hal ini, menurut Largent, bisa merusak gigi anak. Cairan bergula dari botol akan menempel di gigi, menyediakan makanan bagi bakteri sehingga tetap bisa bertahan di mulut. Bakteri ini akan menghasilkan asam yang bisa memicu kerusakan gigi. Jika dibiarkan tanpa perawatan, penyakit gigi juga bisa mengganggu proses pertumbuhan dan pembelajaran anak, serta bisa mengganggu kemampuan bicara. 5
Berdasarkan panduan American Academy of Pediatrics, jika anak hanya mau tidur dengan botol di mulut, pastikan botol tersebut hanya berisi air putih. 5
Kontrol kebiasaan minum jus.
Bukan hanya botol susu yang mengganggu kesehatan gigi anak tetapi juga jus dalam gelas yang biasa digunakan orangtua saat anak mulai mengalami peralihan dari botol ke gelas. Anak-anak, terang Largent, seringkali dibiarkan minum jus dan minuman bergula lainnya sepanjang hari. Hal ini bisa merusak bagian belakang gigi depan.”Khususnya jika minuman tersebut bergula.” 5
Menurut American Academy of Pediatrics, konsumsi jus berkaitan dengan obesitas pada anak dan penyebab kerusakan gigi. Sebagai langkah pencegahan, organisasi ini menganjurkan orangtua agar membatasi asupan jus buah tidak lebih dari 4 ons sehari. Minuman dan makanan bergula sebaiknya dibatasi hanya pada saat makan saja. 5
c. Melihat perawatan gigi di klinik
The American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD) dan American Dental Association (ADA) merekomendasikan bahwa seorang anak sebaiknya melakukan kunjungan pertamanya ke dokter gigi tidak lebih dari usia 12 bulan ataupun ketika gigi pertama anak sudah erupsi yaitu sekitar usia 6 bulan, walaupun mungkin tidak ada kelainan atau penyakit sama sekali di dalam rongga mulut anak.6
Tujuan dari rekomendasi ini adalah untuk mendeteksi dan mengendalikan berbagai kondisi patologi yang ada dalam rongga mulut, terutama penyakit gigi yaitu karies atau lubang gigi. Selain itu, rekomendasi ini juga merupakan usaha pemberian pendidikan preventif (pencegahan) dan dasar perawatan gigi anak untuk mendapatkan kesehatan mulut yang optimal. 6
Kunjungan dini ini juga akan memperkenalkan anak dengan lingkungan dokter gigi sehingga akan membantu anak untuk beradaptasi, dan lebih mudah bekerja sama dengan perawatan gigi nantinya. 6
Ada beberapa hal yang dilakukan dokter gigi pada kunjungan pertama anak untuk melakukan pemeriksaan gigi6:
1. Review riwayat penyakit anak.
2. Memberikan respon terhadap pertanyaan dari orang tua atau pengasuh anak.
3. Diskusi mengenai:
• Cara merawat kesehatan rongga mulut anak.
• Penggunaan fluoride yang tepat untuk anak.
• Pengenalan bad oral habit, seperti menghisap jari.
• Apa saja yang diharapkan terjadi di dalam rongga mulut anak selama anak mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan ke depannya.
• Hubungan antara diet dengan kesehatan rongga mulut.
4. Demonstrasikan cara membersihkan rongga mulut anak dan beri kesempatan pada orang tua atau pengasuh untuk mempraktekannya.
5. Memberikan aplikasi topikal fluor apabila anak memiliki resiko tinggi mengalami karies.
6. Memberikan anjuran kapan kunjungan berikutnya.
Biasanya pemeriksaan gigi pada bayi dan balita tidak dilakukan di kursi gigi, melainkan dilakukan di atas pangkuan orang tua dan dokter gigi (lihat gambar). Bagi Anda yang memiliki anak yang sudah agak besar dan sudah bisa berkomunikasi dengan orang lain, berikut ini adalah beberapa tips agar kunjungan ke dokter gigi berhasil6:
1. Jangan ajak anak Anda ketika melakukan perawatan skeling untuk membersihkan karang gigi. Sebagian anak takut apabila melihat darah.
2. Jangan katakan perawatan gigi tidak sakit. Katakan saja kepada anak, bahwa gigi Anda terasa lebih enak dan nyaman setelah dilakukan perawatan.
3. Apabila anak Anda menanyakan Anda bagaimana cara gigi ditambal, katakan bahwa Anda tidak mengerti. Hanya dokter gigi Anda yang tahu caranya. Biasanya dokter gigi akan menceritakan proses penambalan gigi kepada anak dengan bahasa yang menarik sehingga anak tidak merasa takut.
4. Apabila Anda diizinkan menemani anak Anda untuk melakukan perawatan gigi, bersikaplah pasif. Biarkan dokter gigi Anda menciptakan hubungan yang baik dan memperoleh rasa percaya dari anak.
5. Jangan pernah jadikan kunjungan ke dokter gigi sebagai suatu hukuman atau suatu hal yang menakutkan. Misalnya apabila anak suka makan permen, jangan pernah takuti bahwa giginya akan disuntik oleh dokter gigi.
Kunjungan pertama ke dokter gigi dapat Anda lakukan di Balai Pengobatan Gigi di Puskesmas ataupun apabila Anda memiliki anggaran dana lebih dapat dilakukan di klinik dokter gigi spesialis kesehatan gigi anak (Sp. KGA). 6
DAFTAR PUSTAKA
1. Siska Damayanti Heryaman. Pentingnya Kesehatan Gigi dan Mulut Anak. Available at : http://shop.pdgi-online.com/ Accessed on 01 oktober 2009
2. Andlaw RJ, Rock WP. Perawatan Gigi Anak. Penerbit;Widya Medika. P 15-19.
3. Ririn Fitriana, drg. Perawatan Kesehatan Gigi Anak. Available at: http://kharisma.de/d/?q=node/288 Accessed on 01 oktober 2009
4. Tanti Ardiyanti. Melatih anak menjaga kebersihan dan kesehatan gigi sejak usia dini. Available at: http://www.pdgi-online.com/ap/card/ Accessed on 01 oktober 2009
5. Manfaat Kesehatan Gigi Buat Anak. Available at: http://berita21.com/2009/09/15/manfaat-kesehatan-gigi-buat-anak/ Accessed on 01 oktober 2009
6. Kunjungan Pertama Ke Dokter Gigi (First Dental Visit). Available at: http://gigisehatbadansehat.blogspot.com/2009/09/kunjungan-pertama-ke-dokter-gigi-first.html. Accessed on 01 oktober 2009
II.6. Situasi Lingkungan Klinik
II.1. DESAIN RUANGAN PERAWATAN PASIEN UMUM
Mesin bor, tang pencabut gigi, alat suntik, jerit kesakitan, pendarahan, dan sebagainya bagi sebagian besar anak sudah telanjur menjadi unsur yang menempel erat pada sosok menyeramkan seorang dokter gigi, sebelum mereka benar-benar pernah menjumpainya.
Bagi kebanyakan orang, sikat gigi dan minum obat sakit gigi apabila sakitnya mulai terasa itus udah cukup untuk merawat kesehatan gigi. Tapi anggapan seperti itu kurang tepat untuk diterapkan. Hal ini disebabkan karena penyebab penyakit gigi itu bukan hanya satu macam. Tapi ada bermacam macam penyebab sakitnya gigi. Terutama bagi anak-anak yang amat sulit dipisahkan dengan permen dan coklat, padahal gigi di usia dini sangat menentukan keadaan gigi kelak jika nanti sudah dewasa. Oleh karena itu, sangat diperlukan adanya perawatan lebih dan kontrol kesehatan gigi sejak dini. Misalnya ke Puskesmas, Rumah sakit, dan Klinik gigi.
Namun alangkah sangat disayangkan, karena sebuah klinik gigi telah dianggap adalah tempat yang menakutkan oleh sebagian besar anak. Hal ini menjadi kendala utama bagi seorang anak untuk mengontrolkan dan memeriksakan kesehatan giginya secara rutin ke seebuah klinik kesehatan gigi.
Pemahaman bahwa klinik gigi itu adalah tempat yang menakutkan bagi sebagian besar anak adalah pekerjaan rumah bagi para pemilik klinik kesehatan gigi. Seorang pemilik klinik, harus memiliki inovasi tentang bagaimana membuat pengunjung klinik merasa nyaman atau bahkan merasa ketagihan untuk memeriksakan kesehatan gigi ke klinik secara rutin dan teratur sesuai yang dianjurkan. Sehingga secara tidak langsung kesan buruk seorang anak tentang sebuah klinik gigi itu lebur dan malah berbalik menjadi tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi. Hal tersebut juga membawa pengaruh besar pada masyarakat sekitar klinik agar menyadari pentingnya mengontrol kesehatan gigi secara rutin.
Untuk mewujudkan hal tersebut, maka pemilik klinik gigi harus memperhatikan dan mengembangkan beberapa hal.
1. PENATAAN RUANGAN
Dalam penataan ruangan akan sangat tergantung dari rancangan bangunan tempat klinik berada. Hal ini sangat berpengaruh besar bagi kenyamanan pengunjung. Utamanya anak-anak dan remaja.
Tata ruang harus dapat memastikan adanya sirkulasi udara yang baik
Sistem pembuangan limbah yang terjamin keamanannya
Tata letak perlengkapan dan peralatan yang memungkinkan pergerakkan yang leluasa
Penggunaan dental unit, perlengkapan kantor seperti kursi dan meja yang ergonomis
Pengaturan area yang jelas antara area resepsionis, administrasi, ruang tunggu, ruang sterilisasi, ruang alat dan bahan serta ruang perawatan dan lain-lain. Hal ini harus dikembangkan guna menjamin kenyamanan dan keselamatan serta privacy dalam bekerja.
Setiap ruangan klinik hendaknya didesain sebagai ruangan yang dapat memberikan kenyamanan kerja, baik bagi operator maupun bagi pasien khususnya pasien anak, hal ini menyangkut tata warna, dekorasi dinding dan seterusnya tapi tetap disesuaikan dengan target pasien
2. SISTEM PENGELOLAAN PASIEN
Dalam mengelola pasien, perawat gigi harus mampu menempatkan diri sebagai dental asisten dan resepsionis yang mumpuni, seorang perawat gigi harus menguasai teknik-teknik berikut :
Berkomunikasi yang efektif pada waktu menerima dan menangani pasien.Utamanya pasien anak. Dalam hal ini kreatifitas sangat dipelukan.
Mencatat data pasien secara baik.
Mengatur sistem perjanjian dan penjadwalan pasien.
Memelihara hubungan baik dengan pasien / klien .
Memberikan kesan yang nyaman bagi pasien.
3. SISTEM KEUANGAN / PEMBIAYAAN
Perawat gigi mutlak harus menguasai keterampilan sebagai seorang kasir, bendahara, akuntan dan petugas asuransi. Teknik-teknik yang harus dikembangkan adalah :
Tariffing (penentuan tarif yang diperhitungkan secara cermat). Dapat mengkondisikan diri sebagai pesien.
Sistem asuransi dan klaim
Sistem pencatatan pemasukan dan pengeluaran keuangan yang akurat
4. SISTEM INFORMASI
Dewasa ini, sistem informasi sangat identik dengan sistem informasi berbasis komputer, ada banyak keuntungan dari tata cara pengelolaan data, informasi serta dokumen yang didukung oleh perlengkapan keras dan lunak komputer. Sistem informasi komputer di klinik gigi dapat berupa :
Software registrasi pasien
Software keuangan
Software pengelolaan alat, bahan dan barang
Software perjanjian pasien
Kesemua software itu bisa dibangun dalam sebuah sistem yang terintegrasi yang sangat membantu perawat gigi dalam bekerja secara cepat, akurat dan hemat.
5. SISTEM TATA HUBUNGAN KERJA DALAM ORGANISASI
Ada banyak yang dapat dilakukan oleh seorang perawat gigi dalam mengembangkan tata hubungan organisasi guna membangun klinik gigi yang efektif dan efisien, diantaranya adalah :
Selalu menjaga hubungan baik antar petugas (sejawat perawat gigi, dokter gigi, tenaga administrasi dan lain lain)
Selalu bersikap profesional dan menjaga etika di lingkungan kerja
Membangun sistem penjadwalan pekerjaan yang adil (fair)
Senantiasa mentaati peraturan yang berlaku
Memelihara kebersamaan dan saling tolong menolong antara sesama petugas baik lintas program maupun lintas sektor.
II.2. DESAIN RUANGAN KLINIK UNTUK PASIEN ANAK
Terkhusus untuk bentuk klinik bagi pasien anak harus didesain khusus agar bisa terlihat menarik dan membuat pasien anak merasa nyaman setiap mengunjungi klinik untuk mengontrol kesehatan giginya. Setiap penataan dalam setiap sudut ruangan mulai dari halaman sampai ruang periksa dokter.
1. RUANG TUNGGU
Ruang tunggu adalah kesan pertama yang akan dilihat dan akan menjadi icon sebuah klinik kesehatan gigi. Seorang pasien akan melihat puncak kecemasannya di ruang tunggu. Oleh karena itu, ruang tunggu harus betul-betul tertata rapi dan terlihat menarik. Terutama bagi pasien anak.
Gambar-gambar yang menarik dan tertata rapi serta kombinasi warna yang menarik akan membuat pasien, khususnya pasien anak merasa betah dan nyaman di ruang tunggu sebuah klinik. Gambar-gambar dan pamplet yang bisa berkesan menakuti, harus disingkirkan serta penataan alat-alat pemeriksaan gigi yang bias membuat seorang pasien menempati titik cemas harus tertata dengan baik dan menarik.
Ruang Tunggu (www.coralgablewomansclub.com)
Sebuah ruang tunggu harus terasa seperti rumah sendiri bagi seorang pasien anak. Itu akan membuat mereka terkesan bahwa mendatangi dan memeriksakan kesehatan giginya adalah hal yang biasa. Ruang tunggu juga bias diberi nuansa music yang bisa membuat seorang pasien anak merasa nyaman dan rileks. Oleh karena itu, sebuah ruang tunggu, sangat mempengaruhi keadaan psikologi mereka.
2. RUANG PERAWATAN
Ruang perawatan adalah ruangan inti yang harus didesain sedemikian rupa sehingga berkesan menarik dan tidak berkesan menakutkan bagi anak. Setiap sudut ruangan perawatan harus tertata dengan rapi. Desain ruangan perawatan untuk pemeriksaan pasien anak bisa ditata dengan desain tertentu. Misalnya seperti desain taman bermain anak, ruang luar angkasa, atau dipenuhi dengan gambar-gambar super hero yang mereka idolakan. Ini dimaksudkan agar mereka bisa merasa nyaman dan betah serta tidak di bebani dengan rasa takut.
Desain ruangan, letak peralatan, letak kursi, dan bisa juga dihiasi boneka atau hal-hal yang bisa menarik perhatian anak-anak. Contoh gambar ruangan yang efisien adalah seperti ini :
Salah satu yang bisa menarik perhatian anak adalah majalah anak-anak, atau bahkan baju praktek dokter yang bisa di desain khusus dengan model lucu untuk meghilangkan kesan menakutkan dari seorang anak terhadap seorang dokter gigi. Hal ini sangat mempengaruhi minat anak untuk berkunjung ke sebuah klinik gigi.
Gambar diatas adalah sebuah desain klinik gigi yang terlihat teratur, rapid an memberikan kesan yang menyenangkan mulai dari ruang tunggu sampai ruang perawatannya.
DAFTAR PUSTAKA
Febri. 2009. Mengembangkan Klinik Gigi Yang Efektif, http://pebrial.blogspot.com/2009/03/mengembangkan-klinik-gigi-yang-efektif.html, Diakses tanggal 3 Oktober 2009
Dahlan, Zaeni. 2008. Mengembangkan Klinik Gigi Yang Efektif Dan Efisien, http://zaenidahlan.wordpress.com/2008/07/20/mengembangkan-klinik-gigi-yang-efektif-dan-efisien-penutup/, Diakses tanggal 3 Oktober 2009
Suzy, Arlette PP DKK. 2008. Desain Ruang praktek Bagi pasien Anak, Fakultas, Kedokteran Gigi-Universitas Padjadjaran.
II.7. Komunikasi Dokter Gigi Dengan Pasien dan Orang Tua Pasien
II.8. Penanganan Kecemasan Dan Rasa Takut Anak
1. Pembentukan tingkah laku
Ahli psikologi menggunakan istilah pembentukan tingkah laku untuk menunjukkan proses memodifikasi tingkah laku pasien kea rah ideal. Bagian utama dari pembentukan tingkah laku adalah mendefinisikan suatu seri langkah-langkah pada jalur menuju tingkah laku yang diinginkan dan kemujian maju langkah demi langkah ke tujuannya. Dalam hubungannya dengan kedokteran gigi, ini dapat dikatakan bahwa tingkah laku ideal ditunjukkan oleh pasien yang menjaga kebersihan mulutnya dengan sangat baik, melatih pengaruh diet dan santai serta kooperatif selama perawatan operatif.5
Tindakan yang benar adalah merencakan perawatan sedemikian sehingga tingkah laku anak perlahan-lahan meningkat pada tingkat yang diinginkan. Hanya dengan begitulah tujuan yang mendasar dari kedokteran gigi untuk anak dapat dipenuhi, yaitu memodifikasi sikap dan tingkah laku kearah positif, selain melaksanakan setiap perawatan yang diperlukan.5
Pada perawatan gigi operatif, penbentukan tingkah laku didasarkan pada prosedur rencana perawatan pendahuluan yang diinginkan, sehingga anak perlahan-lahan dilatih untuk menerima perawatan dalam keadaan santai dan kooperatif. Langkah-langkah yang dapat merupakan perawatan pendahuluan pada rata-rata anak sekolah adalah5:
a. Pemerikasaan dan profilaksis.
b. Fisuure sealant atau penggunaan flour topikal.
c. Restorasi oklusal yang kecil pada gigi susu tanpa anestesi local.
d. Anestesi infiltrasi dan restorasi.
e. Blok pada saraf gigi bawah dan restorasi.
Waktu yang diperlukan pada tiap langkah tergantung pada tingkah laku anak. Jadi beberapa anak mungkin memerlukan beberapa kunjungan singkat pada langkah-langkah awal sebelum menjadi lebih lanjut. Sedang yang lain dapat sampai pada langkah terakhir dalam satu atau dua kunjungan. Tentu saja pada beberapa anak dapat dilakukan langkah terakhir pada kunjungan pertama, tetapi ini tidak bisa dianggap praktek yang baik, walaupun anak dapat menerima perawatan, pendekatan demikian itu berlawanan dengan prinsip-prinsip pembentukan tingkah laku dan kemungkinan berhasilnya kurang.5
Untuk anal kecil yang sangat takut, daoat direncanakan langkah-langkah berikut (Hill dan O’Mullane, 1976)5:
Anak menyikat giginya dengan sikat giginya pada tempat cuci.
Ibu dan kemudian dokter gigi, menggosok gigi anak dengan sikatnya sendiri pada tempat cuci.
Anak duduk pada kursi perawatan gigi, dilakukan pemeriksaan dan pemakaian brush prokfilaksis dengan handpiece berkecepatan rendah.
Lanjutkan sebagaimana anak normal.
Pendekatan bertahap dalam pembentukan tingkah laku ini dapat menunda kemajuan perawatan, tetapi bila kerja sama yang penuh dari anak dapat diperoleh, penundaan itu tentu lebih bermanfaat karena waktu yang dilewatkan tersebut dianggap sebagai investasi yang nyata.5
2. Tell-show do
Suatu metode yang popular sebagai salah satu cara memperkenalkan peralatan kedokteran gigi beserta prosedurnya kepada anak-anak. Fase tell mencakup penjelasan terhadap prosedur beserta alasan penggunaannya, dengan cara yang sesuai dengan usia anak. Fase show digunakan untuk mendemonstrasikan suatu prosedur sampai saat instrument digunakan. Fase do, dapat dimulai. Sepanjang prosedur ini dokter gigi berusaha membuat anak relaks, dan member pujian atas tingkah laku anak yag tepat dan kooperatif.1
Yang terutama pada TSD adalah menceritakan mengenai perawatan yang akan dilakukan memperlihatkan padanya beberapa bagian perawatan, bagaimana itu akan dikerjakan dan kemudian mengerjakannya. Teknik ini digunakan secara rutin dalam memperkenalkan anak pada perawatan profilaksis yang selalu dipilih sebagai prosedur operatif pertama. Jadi pada anak diceritakan bahwa gigi-giginya disikat, ditunjukkan sikat khusus tersebut dan bagaumana sikat berputar dalam handpiece, kemudian gigi-giginya disikat. Pada tahap TSD perlu ditambahakan pujian karena tingkaj laku yang baik selama perawatan awal ini harus segera diberi penguatan dan juga selama selanjutnya.5
Transisi dari sikat ke bur mudah dilakukan. Bur dapat diperkenalkan sebagai pembersi khusus yang membersihkan sudut-sudut kecil yang tidak bisa dijangkau sikat. Beberapa kompromi perlu dilakukan dalam menerapkan metode ini sampai pada penggunaan analgesia local. Kebanyakan dokter gigi menganggap bahwa jarum tidak perlu diperlihatkan karena kebanyaka anak (orang dewasa juga) takut terhadap jarum. Oleh sebab itu anak perlu diberitahu bahwa gigi-giginya akan dibuat tidur, perlihatkan bahan analgesic permukaan pada kapas dan setelah itu injeksi tanpa demonstrasi lebih lanjut.5
Untuk perawatan apapun yang dilakukan penting untuk mengikuti tahap-tahap TSD. Penjelasan tidak perlu panjang lebar, karena hal ini akan cenderung membingungkan anak dan mungkin membangkitkan kecemasan, penjelasan harus sederhana dan sambil lalu. Demikian pula demonstrasi harus diberikan dengan singkat dan sebenarnya sehingga perawatan yang sesungguhnya dapat dilakukan tanpa di tunda lagi.5
3. Dukungan Emosional
Meski kecemasan yang disertai dengan ketidakpastian dapat dikurangi dengan pemberian informasi, dokter gigi juga memberikan dukungan emosional ketika menjelaskan prosedur dan perawatan. Pesan yang terkandung disini adalah bahwa dokter gigi menyadari kecemasan akibat situasi yang ada dan berusaha menguranginya. Ini memberikan rasa aman dan percaya1.
4. Relaksasi
Ide yang mendasari penggunaan terapi ini adalah bahwa kecemasan berhubungan dengan tanda-tanda fisiologis tertentu -denyut jantung yang cepat,otot tegang dan berkeringat. Bila seorang pasien dapat diajarkan untuk mengendalikan timbulnya tanda-tanda tersebut, komponen penting dari kecemasan dapat dikurangi1.
5. Penguatan
Penguatan dapat diartikan sebagai pengukuhan pola tingkah laku, yang akan meningkatkan kemungkinan tingkah laku tersebut terjadi lagi dikemudian hari. Ahli psikologi yang menganut teori social perkembangan anak percaya bahwa tingkah laku anak merupakan pencerminan respon terhadap penghargaan dan hukuman dari lingkungannya, bentuk hadiah yang penting (merupakan factor motivasi yang sangat penting untuk perubahan tingkah laku) adalah kasih sayang dan pengakuan yang diperoleh dari orangtuanya dan kemudian dari sebayanya. Oleh karena itu, tingkah laku yang baik pada perawtan gigi, apakah itu menggosok giginya dengan baik atau bersikap kooperatif pada perawatan operatif, harus diberikan penghargaan oleh dokter gigi. Pengakuan ini diharapkan memperkuat tingkah laku yang baik dan meningkatkan kemungkinan akan diulangi lagi pada perawatan berikutnya, karena itu akan menjadi pola tingkah laku yang normal bagi anak pada situasi yang demikian.5
Penghargaan dokter gigi harus diperlihatkan sesering mungkin selama perawatan, apabila anak bereaksi positif pada perawatan. Biasanya pengakuan ini diberikan melalui kata-kata tetapi senyuman dan anggukan juga tepat. Kata-katanya sendiri tidak penting dan masing-masing dokter gigi mempunyai ungkapan kesukaannya sendiri misalnya dari yang sederhana ‘baik’, ‘baik sekali’, ‘hebat’ sampai ‘kamu adalah salah satu pasien saya yang terbaik’. Hal yang penting adalah bahwa tingkah laku anak yang baik harus diberi pengutan sesering mungkin.5
Penghargaan harus berhubungan erat dengan tindakan. Misalnya jika anak diminta membuka mulutnya lebar-lebar dan melakukannya dengan baik ia harus segera menerima pengakuan. Pengakuan yang hanya akan diberikan pada waktu akhir kunjungan, misalnya ‘kamu adalah anak yang baik’ tidak efektif lagi. Yang lebih buruk lagi adalah mengabaikan kerjasama anak yang baik selama perawatan, ini tidak saja menyianyiakan kesempatan yang baik untuk mengukuhkan tingkah laku tetapi dapat diartikan sebagai hukuma, mengulangi kemungkinan diulanginya tingkah laku tersebut.5
Bentuk penghargaan lain adalah hadiah dan ini dapat diberikan pada akhir perawatan sebagai penghargaan atas tingkah laku yang baik. Hadiah tidak boleh digunakan untuk menyogok anak. Banyak jenis hadiah yang sesuai misalnya buku-buku dan gambar-gambar.5
Perlu juga dihindari penguatan pada tingkah laku yang buruk. Jika seorang anak tidak mau bekerja sama sehingga rencana perawatan tidak bisa diselesaikan, hentikan perawatan dan kembalikan anak ke orangtua, karena bujukan malah akan mempengaruhi tingkah laku buruk tersebut. Lebih baik berssikap tidak mengacukan tingkah laku tersebut dan bertindak seolah-olah perawatan telah selesai (misalnya menaruh kapas sementara). Ada macam-macam hukuman yang dapat dipakai dokter gigi untuk tingkah laku buruk, yaitu misalnya tidak member pengakuan atau penghargaan. Dokter gigi tidak boleh mencemooh tingkah lakunya yang buruk atau memperlihatkan kemarahan, dokter gigi hanya dapat memperlihatkan kekecewaannya.5
Orang tua dalam ruang praktik, pada prosedur penelitian yang lebih canggih, dimana kecemasan orang tua juga dipertimbangkan, terlihat bahwa keberadaaan orang tua daoat membantu anak apabila ia tenang, tapi tidaklah membantu bila ia sendiri cemas1.
6. Kontrol Suara
Teknik ini dilakukan dengan cara dokter gigi melakukan perintah tiba-tiba dengan suara yang agak keras dan tegas untuk menarik perhatian anak, dan menghentikan anak dari kegiatannya atau untuk meminta anak untuk berhenti menangis6.
7. Komunikasi Non-Verbal
Komunikasi adalah proses dua jalan yaitu anda akan member pasien informasi sebanyak mereka member anda. Komuikasi ini sering dari lubuk hati dan kebih jauh akan lebih akurat disbanding pesan verbal yang kita beri dan terima. Bila tidak berhati-hati mungkin tidak akan member maksud yang diinginkan. Beberapa contoh spesifik komunikasi non-verbal adalah sebagai berikut7:
- Wajah
Saat menggunakan masker yang menyembunyikan muka senyum dapat terdengar ketika berbicara. Senyum adalah alat yang kuat dan menunjukan motivasi. Wajah dapat menambah atau mengurang makssud dari pesan verbal.
- Mata
Kontak mata membuat kepercayaan pada permulaan janji.
- Sikap dan sikap badan
Menyilangkan tangan saat berbicara mungkin menyataka secara tidak langsung penolakan, terkhusus bila mengetukan kaki.
- Kontak tubuh
Berjabat tangan mungkin meningkatkan kepercayaan beberapa orangtua. Menyentuh bahu pada waktu kehadiran orang tua dan pearwat gigi yang dikombinasikan dengan nada simpati mungkin akan membantu mengurangi kecemasan.
MITHA
II.1 Systemic Desensitization (Desensitasi)
Desensitasi adalah salah satu teknik yang paling sering digunakan oleh ahli psikologi untuk melawan rasa takut, merupakan teknik gabungan antara gradual exposure dan tell-show-do yang berfokus untuk melawan rasa takut yang spesifik (specific phobia). Teknik ini meliputi tiga tahapan : pertama, melatih pasien untuk relaks; kedua, membangun hirarki stimulus; ketiga, memperkenalkan tiap stimulus dalam hirarki untuk membuat pasien rileks, dimulai dengan stimulus yang paling sedikit menyebabkan rasa takut dan maju pada tahap selanjutnya hanya bila pasien tidak takut lagi dengan stimulus tersebut. Perlu diketahui bahwa pasien harus dibantu untuk relaks sebelum rasa takutnya teratasi; dengan mengulang-ulang stimulus beberapa kali akan meningkatkan rasa takut bukan menguranginya.2,3,4,5
Teknik – teknik yang telah digunakan untuk mengatasi banyak macam rasa takut, misalnya takut pada tempat yang tinggi, tempat yang penuh sesak, tempat terpencil maupun rasa takut pada perawatan gigi.5
Untuk menerapkan teknik – teknik tersebut diperlukan suatu seri kunjungan pendahuluan untuk mengajar pasien agar dapat relaks. Walaupun beberapa dokter gigi (khususnya mereka yang memahami hypnosis) memang disiapkan untuk melakukan hal ini, ada di antaranya yang merujuk pasien pada ahli psikologi, konsep dasar teknik tersebut dapat diterapkan dalam kedokteran gigi tanpa kunjungan pendahuluan. Penting untuk mengetahui bahwa rasa takut anak, dapat berupa rasa takut terhadap dokter gigi, dokter, rumah sakit atau klinik, atau rasa takut yang lebih spesifik terhadap “jarum”, “bur” atau hal lain pada perawatan gigi. Bila hal ini diketahui, suatu hirarki stimuli penyebab rasa sakit dapat disusun dan dilaksanakan. Misalnya, jika anak takut terhadap lingkungan perawatab gigi secara umum, desensitasi dapat meliputi pengenalan anak terhadap stimuli berikut :
1. Ruang penerimaan dan ruang tunggu
2. Dokter gigi dan perawat
3. Bedah gigi
4. Kursi perawatan gigi
5. Pemeriksaan mulut
6. Profilaksis.5
Di lain pihak jika anak takut takut terhadap pemburan, stimuli berikut dapat dilakukan :
1. Menggosok gigi – gigi anak dengan ikat profilaksis menggunakan tangaan.
2. Menggosok dengan sikat profilaksiss menggunakan handpiece kecepatan rendah.
3. Menggunakan finishing bur atau stone dengan handpiece kecepatan rendah, diputar dalam mulut tetapi tidak menyentuh gigi.
4. Menggunakan finishing bur atau stone secara perlahan – lahan pada tambalan atau permukaan gigi.
5. Memperkenalkan handpiece kecepatan tinggi seperti pada no.3 dab 4. di atas.5
Desensitasi rasa takut terhadap jarum lebih sulit; jika rasa takut ini tetap terjadi walaupun telah dilakukan modifikasi tingkah laku selama kinjungan pendahuluan, beberapa cara sedas dapat dipertimbangkan.5
Pada setiap tahap, rasa takut anak dapat ditenangkan oleh tindakan dokter gigi dan stafnya yang baik, bersahabat dan memberi keyakinan, tingkah laku positif yang diperlihakan anak akan sangat diperkuat. Sewaktu anak sudah terlihat relaks dan senang, dapat dilakukan tahap perawatan berikutnya. Beberapa bentuk rasa takut anak akan cepat teratasi dengan cara ini, selain itu cara ini memungkinkan dilakukan perawatan tahap berikut dengan cepat. Akan tetapi di lain pihak ia akan menjadi lebih melawan, dan hal ini tentu saja dapat melemahkan semangat dokter gigi dalam mempergunakan metode ini.5
II.2 Modelling (Percontohan)
Modeling adalah teknik lain yang digunakan oleh ahli psikologi dalam menghilangkan rasa takut; misalnya, anak takut terhadap anjing dibantu menghilangkan rasa takutnya dengan melihatkan anak lain bermain gembira dengan anjing, anak yang gembira tadi merupakan model yang kemudian akan ditiru oleh anak yang takut. Teknik ini didasarkan pada prinsip psikologi bahwa manusia belajar tentang lingkungan mereka dengan mengamati tingkah laku satu sama lain, dapat menggunakan aktor, dapat secara langsung ataupun melalui video.2,3,5,6
Teknik yang sederhana ini dapat diterapkan pada berbagai situasi perawatan gigi, tetapi penggunaannya yang paling sering mungkin adalah pada anak yang cemas terhadap pemeriksaan mulut pada kursi perawatan gigi.5
Orang tua, atau lebih baik anak lain diminta untuk bertindak sebagai model untuk dilakukan pemeriksaan dan profilaksis; diharapkan tingkah laku yang kooperatif dan relaks dari model, dikemudian hari akan ditiru oleh anak yang cemas tadi. Tidak selamanya model dalam bentuk langsung, tetapi model dapat juga berupa film atau video yang menunjukkan pemeriksaan kesehatan mulut. Tell-Show-Do dan penguatan harus digunakan untuk melengkapi prosedur modelling, bersama dengan desensitasi, ini adalah pendekatan yang efektif terhadap masalah memperkenalkan perawatan sederhana pada anak yang takut. Teknik ini sangat membantu apabila ada model yang sesuai.2,3,5,6
II.3 Hand Over Mouth
Tekmik hand-over-mouth adalah suatu teknik yang diakui untuk menghentikan dan mengelola tingkah laku yang tidak dapat dikelola dengan teknik penatalaksanaan tingkah laku lainnya. Teknik hand-over-mouth biasanya dianggap sebagai cara yang ekstrem dalam menangani anak yang tidak kooperatif. Hal ini jarang digunakan di Inggris, tetapi dilakukan di Amerika Serikat. Teknik ini bertujuan untuk mengembalikan anak yang histeris menjadi lebih dapat mengontrol dirinya sehingga komunikasi antar dokter gigi dan anak menjadi lebih efektif. Teknik seperti ini telah digunakan lebih dari 35 tahun. Teknik ini diindikasikan untuk anak yang sehat dan dapat bekerja sama tetapi tidak dapat mengontrol emosionalnya. Teknik ini kontraindikasi untuk anak yang belum mengerti komunikasi secara verbal, tidak mau bekerja sama dan mempunyai ketidakmampuan (disability) dan untuk anak yang mempunyai gangguan/obstruksi saluran pernapasan.1,5
Teknik ini dilakukan dengan cara menahan kursi anak yang melawan dengan pelan tetapi kuat pada kursi perawatan gigi, dengan meletakkan tangan (atau handuk) di atas mulutnya untuk menahan perlawanannya dan berbicara dengan perlahan tetapi jelas ke dalam telinganya, dengan mengatakan bahwa tangan akan diangkat segera setelah ia berhenti menangis. Bila anak menanggapi dengan baik, tangan segera diangkat dan ia diberikan pujian, jika melawan, ulangi lagi prosedur ini.1,5
Teknik tersebut tidak popular pada dokter gigi yang menyukai anak-anak, dan mempunyai tujuan mendapat sikap positif dari anak, selain melakukan perawatan. Ini hanya dibenarkan sewaktu menangani anak yang manja yang telah belajar memanipulasi orang tua yang terlalu memanjakan dengan perangai yang menjengkelkan atau dengan anak yang suka menantang yang mendapati bahwa diam tetapi tetap melawan selalu berhasil.5,6
Anak seperti itu tidak takut, mereka hanya tidak ingin bekerjasama dan mengetahui bagaimana cara menghindari. Tingkah lakunya biasanya segera terlihat pada kunjungan pertama dan dipertegas oleh cara penolakannya terhadap pemeriksaan. Jika anak seperti itu diambil dan diletakkan di kursi atatu pada pangkuan orang tua, mungkin terjadi perlawanan keras. Dokter gigi harus mengabaikan perlawanan keras ini sewaktu meemriksa anak. Kadang – kadang sikap menunjukkan kekuasaan dari dokter gigi dapat menciptakan kerja sama dikemudian hari. Aan tetapi, jika anak berkelakuan yang sama pada kunjungan berikutnya, harus diambil tindakan lebih lanjut. Dalam hal inilah teknik hand-over-mouth dapat dibenarkan sampai anak belajar bahwa dokter gigi tidak terpengaruh atau jera oleh tingkah laku dan perlawanan, dan sikapnya yang jelek tersebut tidak mungkin dilakukan selama perawatan berlangsung. Namun, jika kelakuan anak tersebut didukung oleh orang tua, kelakuan tersebut akan lebih diperkuat.5
Dalam penggunaan teknik hand-over-mouth perlu dipertimbangkan tentang :
1. Teknik alternatif penatalaksanaan tingkah laku lainnya
2. Kebutuhan pasien
3. Pengaruh terhadap kualitas perawatan gigi
4. Perkembangan emosional pasien
5. Psikis pasien.1
Teknik ini sebaiknya jangan dipergunakan pada anak yang takut, bagi anak seperti ini desensitasi atau metode – metode lainnya lebih tepat. Karena itu, pemeriksaan yang benar terhadap alasan mengapa anak bertingkah laku tidak kooperatif penting sebelum mempergunakan teknik hand-over-mouth.1,5
Daftar Pustaka
1. Clinical Affairs Committee – Behaviour Management Subcommittee. Guideline on behavior management. American Academy of Pediatric dentistry [Internet]. 2000; [cited 2009 Sept 15]. Available from: http://www.aadp.org
2. Non – pharmacological behavior management [Internet]. [cited 2009 Sept 15]. Available from: www.rcseng.ac.uk
3. Chadwick Barbara L,Hosey Marie Therese eds. Behavioural Management Techniques. How to Manage Children in Dental Practice. London: Quintessence Publishing Co. Ltd. p.37-46
4. Klingberg G, Freeman R, Berge M ten, Veerkamp J. EAPD Guidelines on behavior Management in Paediatric Dentistry. [Internet]. [cited 20009 Sept 15]. Available from: www.pedodonti.dk
5. Rock WP, Andlaw RJ eds. Teknik Pelaksanaan Tingkah Laku. Perawatan Gigi Anak (A Manual of Paedodontics) edisi 2. Jakarta: Widya Medika. p.15-27
6. Mathewson Richard J, Primosch Robert E eds. Chapter 9 Behavior Management. Fundamentals of Pediatric Dentistry third edition. London: Quintessence Publishing Co. Ltd. p.137-144
7. Wright Gerald Z. Nonpharmacological Management of Children’s Behaviors. In McDonald Ralph E, Avery David R, Dean Heffrey A eds. Dentistry for the Child and Adolescent eight edition. Philadelphia: Elsevier Saunders. p.33-49
8. Klingberg Gunilla, Raadal Magne. Chapter 4 Behavior management problems in children and adolescent. In Koch Goran, Poulsen Sven eds. Pediatric Dentistry A Clinical Approach. Munich: Munksgaard. p. 53-70
1. Hipnosis
Hipnosis diartikan sebagai “suatu keadaan tertentu dari pikiran yang biasanya dilakukan oleh satu orang pada orang lain…” suatu keadaan pikiran di mana anjuran-anjuran tidak hanya akan lebih mudah diterima daripada dalam keadaan terjaga tetapi juga akan bekerja lebih baik daripada yang mungkin terjadi pada keadaan normal.1
Hinopsis telah lama menjadi pusat perdebatan dan disalah mengertikan, diselubungi oleh bau mistik yang telah diperkenalkan oleh para penghibur masyarakat. Akan tetapi, telah terjadi banyak kemajuan selama 20-30 tahun belakangan dalam penyelidikan ilmiah terhadap hypnosis, yang makin sekarang dapat tempat dalam praktek kedokteran dan kedokteran gigi.1
Diperkirakan bahwa 90% individu dapat dibawa ke dalam alam hipnotik ringan, yang ditandai oleh relaksasi dan berkurangnya kecemasan 70% hipnotik pada individu ini dapat diperdalam menjadi tingkat sedang, di mana dapat terjadi analgesia dan 20% dari individu ini dapat mencapai tingkat yang dalam, di mana dapat terjadi analgesia yang besar. Hipnosis hanya dapat dilakukan pada individu-individu yang dapat bekerja sama. Walaupun diperkirakan tidak cocok untuk anak, kenyataannya adalah sebaliknya. Paradoks yang terbukti ini dapat dijelaskan oleh kenyataan adalah bahwa anak-anak umumnya lebih mudah menurut terhadap bujukan dan anjuran daripada orang dewasa dan lebih biasa menerima instruksi-instruksi tanpa bertanya. Bagaimanapun juga perlu diperoleh rasa percaya dan perhatian dari mereka dan ini mungkin tidak sesuai pada anak-anak yang sangat kecil, anak-anak yang ketakutan atau pemalu.1
Hipnosis paling sering digunakan dalam kedokteran gigi sebagai suatu metode untuk membantu pasien yang cemas supaya rilaks. Tingkat yang ringan biasanya cukup untuk mencapai tujuan ini; pasien yang relaks akan dapat menerima prosedur perawatan yang sebelumnya tidak dapat diterima. Beberapa pasien dapat dibawa pada tingkat yang lebih dalam di mana dapat dihasilkan analgesia yang cukup untuk gigi-gigi atau jaringan mulut tanpa perlu injeksi analgesic local. Indikasi lain untuk hypnosis meliputi membantu pasien yang mual sewaktu sebuah benda masuk ke dalam mulutnya; mendorong anak untuk memakai peralatan orthodonti; dan memperkenalkan anak pada sedasi inhlasi atau anastesia umum.1
Sebelum melakukan hypnosis, dokter gigi harus mempersiapkan pasien dengan menjelaskan apa yang akan dilakukan. Orang dewasa memerlukan persiapan yang cermat untuk memperbaiki salah pengertian dan menghilangkan kecurigaan serta rasa takut terhadap hypnosis, pada anak-anak hanya memerlukan persiapan minimal. Kata-kata ‘hipnosis” tidak perlu digunakan pada anak-anak. Anak-anak kecil dapat diberitahu bahwa mereka akan merasa seperti tidur, dengan mata tertutup walaupun ada sedikit perbedaan, mereka masih dapat mendengar segala sesuatu yang dikatakan oleh dokter gigi dan mampu berbicara. Anak yang lebih besar hanya perlu diberitahu bahwa tujuannya adalah membantu mereka terhadap perawatan gigi dapat diatasi. Orangtua dapat diberitahu bahwa bentuk relaksasi yang dalam ini disebut hypnosis, tetapi informasi ini tidak perlu disampaikan. Jelas bahwa baik anak maupun orangtua harus percaya pada dokter gigi.1
1. Physical restrain
Merupakan suatu penahan gerakan mulut dan fisik anak selama perawatan gigi. Hal ini dapat dilakukan dengan tangan, ikat pinggang, pita, tali, dan beberapa bentuk alat yang berfungsi sebagai sebagai stabilisasi pasien (parental restraint, seet and ties, papoose board)2
2. Pengalihan Perhatian
Banyak cara untuk menghilangkan atau menurunkan nyeri, baik secara farmakologis, misal obat-obatan analgesik ataupun menghilangkan cara dengan intervensi keperawatan yang bersifat non farmakologis dan independent. Manajemen nyeri non farmakologis lebih aman digunakan karena tidak menimbulkan efek samping yang seperti obat-obatan karena terapi non farmakologis menggunakan proses fisiologis. Oleh karena itu, untuk mengatasi nyeri tingkat ringan atau sedang lebih baik menggunakan manajemen nyeri non farmakologis. 3
Salah satu intervensi keperawatan untuk menurunkan nyeri adalah pengalihan perhatian. Dimana tehnik ini dengan memfokuskan diri kepada lingkungan. Lingkungan yang sangat tenang dan sedikit membangkitkan input sensori. Perhatian harus cukup kuat untuk melibatkan seluruh perhatian yang tidak menjemukan. Nyeri yang diderita sangat luas memerlukan berbagai penarik perhatian yang berarti. Metode menarik perhatian yang digunakan yaitu tehnik nafas dalam dan terapi musik,
musik dapat membuat para pasien menjadi rileks, sehingga hanya memerlukan obat-obatan yang lebih sedikit.3
BAB III
PEMBAHASAN
Rasa taku dan rasa cemas dari anak sering menyeababkan anak tersebut menjadi pasien yang tidak kooperatif pada saat dilakukan perawatan gigi. Penanganan rasa takut dan kecemasan dapat dilakukan dengan pendekatan secara non-farmakologi maupun secara farmakologi. Banyak teknik-teknik penanganan anak rasa takut dan kecemasan anak yang dilakukan di klinik secara non-farmakologi. Teknik-teknik yang sering digunakan adalah, pembentukan tingkah laku, tell-show-do, modeling, desensitas dan masih banyak lainnya.
Sebelum perawatan dilakukan sebaiknya orang tua dan anak diperkenalkan dengan lingkungan ruang perawatan. Dokter gigi perlu untuk berkonsultasi dengan orang tua mengenai teknik untuk melatih anak di rumah sebelum dilakukan perawatan. Oleh karena itu, alat bantu visual seperti gambar, dan alat elektronik lainnya dapat dipergunakan dalam konsultasi tersebut.
Komunikasi penting dilakukan dengan anak pada saat dimulai dan selama dilakukan perawatan. Dokter gigi dapat mendapatkan rasa percaya dari anak apabila bisa menjalin komunikasi yang baik dengan anak. Apabila dokter gigi telah mendapatkan rasa percaya dari anak tentu saja untuk penggunaan teknik maupun penangana selanjuatnya akan mudah dijalani.
Rasa takut dan kecemasan dari anak juga dapat dikurangi dengan memberikan musik selama proses perawatan. Karena seperti yang kita ketahui musik yang disukai anak-anak bisa memberikan ketenangan pada anak. Tentu saja pilihan jenis music sangat penting karena dapat mempengaruhi perasaan anak tersebut. Musik yang sebaiknya dipilih adalah yang menenangkan.
Perwatan pada anak sebaiknya dilakukan pada pagi hari pada saat pasien dan dokter gigi belum merasa letih. Orang tua dapat disertakan dalam perawatan tersebut untuk lebih membantu menangani kecemasan dan rasa takut anak, namun dengan syarat orang tua bersikap tenang
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
Tingkah laku seorang anak dikategorikan menjadi 4 kategori sesuai criteria berikut:
Sangat Negative
Sedikit Negative
Sedikit Positive
Sangat Positive
Dari beberapa tipe diatas, dalam memahami tingkat cooperative pasien, Wright membaginya dalam tiga kategori:
Kooperative
Kurang Kooperative
Berpotensi Kooperative:
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kooperatif pasien anak, yaitu keadaan anak, orang tua, saudara kandung, status sosial ekonomi, lingkungan klinik gigi.
Penanganan non farmakologis yang dapat dilakukan secara hypnosis merupakan cara untuk membantu pasien menhilangkan rasa cemasnya. Teknik ini dapat dilakukan apabila pasien merasakan kecemasan yang berlebihan, teknik dilakukan dimulai dengan komunikasi yang baik antara pasien dan operator.
Penanganan non farmakologis secara physical restrain, yang memiliki aspek mulai dari manajemen rahang dan cara untuk menjaga mulut anak tetap terbuka (merupakan alat bantu pada pasien yang sulit membuka mulut)
Penanganan non farmakologis secara pengalihan perhatian dimana teknik ini sangat bergantung pada peran lingkungan agar pasien dapat merasa nyaman dan tenang
Tujuan dari penatalaksanaan tingkah laku adalah menumbuhkan suatu tingkah laku jangka panjang yang positif terhadap pemerikasaan kesehatan gigi pada anak.
Penatalaksanaan tingkah laku adalah suatu proses yang dinamis yang melibatkan tim dokter gigi, anak dan orang tua anak, dimana semuanya harus terlibat aktif di dalamnya.
Desensitasi adalah salah satu teknik penatalaksanaan tingkah laku non farmakologis yang bertujuan untuk mengurangi rasa takut spesifik (specific phobia)pasien dengan cara memberikan stimulus – stimulus dimulai dengan stimulus yang paling sedikit menyebabkan rasa takut dan maju pada tahap selanjutnya hanya bila pasien tidak takut lagi dengan stimulus tersebut
Modeling (percontohan) merupakan teknik penatalaksanaan tingkah laku non-famakologis yang didasarkan pada prinsip psikologi bahwa manusia belajar tentang lingkungan mereka dengan mengamati tingkah laku satu sama lain, dapat menggunakan aktor, dapat secara langsung ataupun melalui video. Akan lebih baik bila yang menjadi model adalah anak yang seusia dengan pasien.
Hand-Over-Mouth adalah teknik penatalaksanaan tingkah laku non-farmakologis yang sudah jarang dipakai dan merupakan teknik terakhir yang digunakan apabila teknik penatalaksanaan tingkah laku non-farmakologis lainnya tidak berhasil. Teknik ini diindikasikan untuk anak yang sehat dan dapat bekerja sama tetapi tidak dapat mengontrol emosionalnya.
Mencegah kerusakan gigi lebih penting daripada terpaksa berobat ke dokter gigi setelah gigi rusak atau berlubang. Tindakan pencegahan merupakan hal yang terbaik, selain tidak merasakan sakit, seseorangpun tidak perlu mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk mengobati sakit giginya.
Ada 3 macam teknik penanganan tingkah laku anak, diantaranya teknik Desensitisasi, teknik Modeling, dan teknik Hand-Over-Mouth.
Untuk mengontrol kesehatan gigi anak salah satu caranya adalah mengajarkan cara menggosok gigi, 3 faktor yang harus diperhatikan diantaranya; Pemilihan sikat gigi, cara/gerakan sikat gigi, dan Frekuensi sikat gigi.
Sumber >>>>
1. GG Kent; A.S Binkhorn; Pengelolaan Tingkah Laku Pasien Pada Praktik Dokter Gigi. Penerbit Buku Kedokteran EGC; Jakarta; 2005. p.72-73.
2. Soengeng Wahluyo. Pengelolaan Penderita Anak Dan Orang Tua Dalam Praktek Dokter Gigi. Available at : http://www.FKG_airlangga univ...org/wiki/gigi. Acessed Oktober, 5, 2009.
3. Ralph E. McDonald, David R Avery, Jeffery A. Dean; Dentistry For The Child And Adolescent;8th edition; Mosby; Indiana; 2004; p.-
4. Panis Surfer.Kenali Tipe Kepribadian Anak Anda. Available at : http://id.shvoong.com/social-sciences/1914724-kenali-tipe-kepribadian-anak-anda/ . Acessed Oktober, 5, 2009.
5. Imha Fadhil. Tingkah Laku Anak Dalam Perawatan Gigi Dan Mulut. Available at www.meimhablogspotcom. Acessed Oktober, 8, 2009.
6. White, George E. Clinical Oral Pediatrics. Tokyo: Guintessence Publishing Co. Incv; 1981.
7. Soetjningsih. Tumbuh Kembang Anak. Editor IG. N. Gde Ranuh. Lab. Ilmu Kesehatan Anak UNAIR: EGC; 1995.
8. Andlaw RJ dan Rock WP. Perawatan Gigi Anak (a Manual of Pedodontics). Alih bahasa Agus Djaya. Ed.2. Jakarta: Widya Medika; 1992.
Dokter gigi yang akan melakukan perawatan pada anak – anak, seringkali mendapatkan suatu keadaan dimana anak akan merasa cemas dan takut pada saat bertemu untuk pertama kalinya. Rasa cemas dan takut juga akan dirasakan oleh anak – anak pada kunjungan berikutnya apabila pada kunjungan yang pertama, dia mendapatkan pengalaman yang kurang menyenangkan.
Penatalaksaan tingkah laku pasien merupakan salah satu faktor terpenting dalam ilmu kedokteran gigi anak. Tanpa kerja sama yang baik dari pasien, maka perawatan gigi yang akan dilakukan tidak akan berhasil. Keberhasilan dalam memberikan pelayanan kesehatan gigi bagi anak-anak tergantung pada cara kita dalam menghadapi dan menangani anak-anak tersebut.
Untuk mendapatkan suatu kerjasama yang baik antara pasien anak dan dokter gigi, maka dokter gigi bukan hanya mengadakan hubungan yang baik dengan anak, tetapi juga harus mengetahui beberapa hal penting lainnya. Hal-hal yang perlu diketahui antara lain adalah perkembangan anak, tingkah laku anak menurut kronologis umur dan faktor-faktor yang mempengaruhi tingkah laku anak, terutama tingkah lakunya pada saat mendapat perawatan gigi. Dengan mengetahui hal-hal tersebut, dokter gigi dapat memilih dan menggunakan teknik-teknik penatalaksanaan tingkah laku yang efektif agar dapat menangani pasien anak dengan baik, mengurangi ketakutannya dan menanggulangi tingkah lakunya yang tidak kooperatif serta
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Tingkatan Kooperatif Pasien
a. Tingkah Laku Anak
Komponen akhir dari kecemasan adalah tingkah laku, yang dapat berwujud dalam beberapa bentuk. Masalah tingkah laku yang di tunjukkan oleh anak-anak (seperti mendorong instrument menjauh, menolak membuka mulut) sering dianggap sebagai manifestasi kecemasan. Suatu metode yang menilai suatu tingkatan tingkah laku anak adalah skala 4 angka yang di kembangkan oleh Frankl dkk (1962). Tingkah laku seorang anak dikategorikan menjadi 4 kategori sesuai criteria berikut:1
1. Sangat Negative : menolak perawatan, meronta-ronta dan membantah, amat takut, menangis kuat-kuat, manarik atau mengisolasi diri atau keduanya.
2. Sedikit Negative : tindakan negative minor, atau mencoba bertahan, menyimpan rasa takut, dari minimal sampai sedang, nervus atau menangis.
3. Sedikit Positive : berhati-hati menerima perawatan, dengan agak segan, dengan taktik bertanya atau menolak, cukup bersedia berkejasama dengan dokter gigi.
4. Sangat Positive : bersikap baik dengan operator, tidak ada tanda-tanda takut, tertarik pada prosedur dan membuat kontak verbal yang baik.
b. Tingkat Kooperatif Pasien
Dari beberapa tipe diatas, dalam memahami tingkat cooperative pasien, Wright membaginya dalam tiga kategori:2
1. Kooperative
Anak datang dengan santai, rileks dengan rasa takut minimal, antusias terhadap perawatan gigi. Anak tersebut biasanya patuh terhadap instruksi yang diberikan.
Tingkah laku anak yang kooperatif di klinik atau tempat praktik dokter gigi yaitu mudah diajak unutk bekerjasama, anak yang kooperatif ini memiliki kepribadian yang santai dan tidak lemas jika sedang berada di ruang tunggu klinik gigi,. Selain itu anak yang kooperatif seperti ini sangat tertarik dengan perawatan yang akan dilakukan kepada dirinya. Kemudian dia bias juga menerima pendekatan yang dilakuakn oleh dokter.
2. Kurang Kooperative
Kurang kooperative ini biasanya terjadi pada anak yang masih muda (di bawah umur 3 tahun), anak-anak dengan cacat mental atau fisik dan anak-anak dengan pengetahuan yang sangat minim.
3. Berpotensi Kooperative:
Adapun kepribadian yang dimiliki oleh anak di klinik atau di tempat praktik dokter gigi yang berpotensi kooperatif atau tingkah laku yang mungkin kooperatif, yaitu:
• Mempunyai kemampuan diajak kerjasama
• Tingkah laku yang terkontrol
Usia3-6 tahun(kadang-kadang)
Tangisan dan jeritan keras(ruangan/ luar)
• Penyimpangan tingkahlaku
Anak-anakSD
• Sikapmalu-malu
Kecemasan luarbiasa(Instruksi ulang)
• Sikapmeratap
Selalu merintih (dokter gigi harus sabar)
Karakteristik dari anak ini adalah adanya masalah prilaku. Tipe tingkah laku ini berbeda dengan anak yang kurang kooperatif karena anak ini memiliki kemampuan untuk menjadi kooperatif. Bila karakter ini muncul, tindakan klinik beruapa modifikasi dan perilaku dapat di lakukan sehingga anak menjadi kooperatif.3
c. Tipe Kepribadian Seorang Anak
Sebagai dokter gigi tentu pantas mengetahui dan paham benar tipe kepribadian dari anak atau pasien anak. Tipe kepribadian itu berbeda-beda yaitu:4
1. Pemarah
Tipe pemarah agak sulit. Anak akan mengekspresikan apa saja yang tidak ia sukai atau ia tidak setujui dengan marah. Hal ini tentu harus dikendalikan, karena hampir semuanya diperlakukan dengan marah. Sebaiknya mengantisipasi apa saja yang bisa membuat ia marah. Saat anak marah lekaslah menengkannya. Anak pemarah biasanya kurang perhatian.
2. Bersahabat
Anak ini lebih unggul dari yang lain. Karena dengan sikap bersahabat, ia dengan sendiri dapat membuka pikiran dan bergaul baik dengan siapa saja. Pikiran sang anak selalu dalam keadaan positif. Ia mampu menyelami banyak permainan.
3. Keras Kepala
Anak Tipe ini memiliki pendapat sendiri dan tidak mau diatur. Selama ia lebih tenang, dengan lebih sabar karena anak keras kepala akan banyak memancing emosi. Lihatlah keinginan anak yang sebenarnya. Jika sudah tahu, jangan turuti keinginannya. Melainkan ajarkan sebuah usaha untuk meraihnya. Temani ia dengan sabar dan hindari pemaksaan. Ingat, anak keras kepala bisa menjadi manja dan tidak mandiri.
4. Egois
Anak egois lebih memiliki ketakutan lebih dari pada yang normal. Ia menjadi tidak peduli pada teman karena takut apa yang dikerjakannya tidak sempurna. Ia juga takut disaingi. Sebaiknya mengajari untuk berbagi dari hal-hal kecil terlebih dahulu. Mintalah anak untuk berbagi barang atau hadiah kepada adik atau kakaknya. Sambil memberitahu bahwa ia tidak akan kehilangan apapun jika berbagi.
5. Pemalas
Anak yang sering dibantu dalam melakukan kegiatannya akan menjadi pemalas. Boleh membantu anak hanya pada awalnya. Biarkan anak menyelesaikan tugas yang ia miliki. Tuangkan waktu untuk mendengar apa yang diinginkannya. Dari cerita sang anak kita bisa tahu apa yang menyebabkannya malas dan segeralah bantu ia memperbaiki itu. Anak malas jangan dimanja.
6. Perfeksionis
Anak-anak tidak bisa menjadi perfeksionis jika bukan karena tuntutan lingkungannya termasuk orangtua. Anak yang dari awal dilatih untuk mengerjakan suatu hal dengan sempurna, jika salah sedikit dihukum. Sifat ini membahayakan dirinya yang masih anak-anak. Anak perfeksionis lebih tertekan secara psikologis dari pada anak biasa. Wajib bagi orangtua memberi penjelasan agar melakukan sesuatu tidak harus menjadi juara. Asal sudah berusaha maksimal itu sudah bagus.
7. Suka Ngambek
Anak suka ngambek cenderung manja. Apa-apa yang ia ingin selalu dituruti. Lambat laun hanya akan menyusahkan saja. Orangtua baik akan menunda memenuhi keinginnanya. Mulailah memberi tekanan-tekanan kecil pada anak yang suka ngambek. Butuh kesabaran ekstra dari orangtua mengatasi anak suka ngambek ini. Jelasnya, jangan asal banyak menuruti anak.
8. Pasif
Anak pasif lebih lamban dan tidak banyak semangat terlihat pada dirinya. Lakukan pendekatan kekeluargaan. Libatkan secara aktif dalam kegiatan keluarga dan permainan yang seru. Buatkan jadwal rutinitas untuknya sehingga bisa memicu pikiran aktif. Selalu memberi dukungan dalam kegiatannya, meskipun sedikit.
d. Tingkah Laku Anak Dalam Perawatan Gigi dan Mulut
Adapun tingkah laku seorang anak jika berada diklinik dokter gigi atau pada saat perawatan gigi dan mulut sebagai berikut: 5
1. Tipe yang bekerja sama (kooperatif)
Tipe ini adalah tingkah laku yang terbuka, tingkah laku yang dapat mengerti tentang dirinya sendiri. Pasien yang santai dan kunjungan menjadi menyenangkan bagi pasien dan dokter gigi. Prosedur perawatan menjadi sempurna dengan menggunakan metode, (tell show do). Anak juga akan mudah mengikuti apa yang diinstruksikan oleh dokter gigi. Meskipun kooperatif, pasien tipe ini harus tetap ditangani sebagaimana mestinya den gan maksud bahwa dokter gigi menginginkan untuk tetap kooperatif dan menikmati pengalaman berkunjung ke dokter gigi.
2. Tipe tidak bekerjasama (Tidak kooperatif)
Ada dua kelompok pada pasien pada kategori ini
• Dokter gigi akan mendapatkan kesulitan berkomunikasi dengan pasien yang sangat muda. Sebagai contoh pada saat dokter gigi menemukan karies pada anak balita seperti anak bayi yang masih berumur 17 bulan.
• Pasien yang cacat, dimana tidak mampu mengerti dan berkomunikasi akibat cacatnya yang khusus, seperti pada beberapa anak yang mengalamai retardasi mental. Kadangkala penanganan dapat diselesaikan dengan penggunan anastesi umum yang telah terbukti menjadi satu-satunya penangan yang paling berhasil bagi pasien tersebut.
3. Tipe histerik (Tidak terkontrol)
Beberapa karakteristik akan apat terlihat pada pasien dengan tingkah lakuyang tidak terkontrol. Pasien biasanya berumur 3-6 tahun dan ini merupakan kunjungan yang pertama kali ke dokter gigi.
pada perawatan tersebut aka nada tangisan yang nyaring, teriakan dan tabiat pemarah. Kesemuanya akan timbul oleh karena tingkat kecemasan dan ketakutan yang tinggi.
Tipe ini dapat diatasi dengan engevaluasi pasien pasien di ruang tunggu dan mengevaluasi kecemasannya pada saat itu sebelum masuk keruang kerja. Jika pasien menunjukkan sikap takut/cemas, pendekatan yang akran dan bersahabat harus dilakukan dengan menjelaskan sejelas mungkin mengenai prosedur yang akan dilakukan ke terhadapnya. Hal ini untuk membantu mengurangi rasa kecemasan terhadap anak tersebut.
4. Tipe keras kepala
Pasien yang menentang atau keras kepala sering bersikap bodoh dan menjadi perusak. Ia melawan orang dewasa baik itu dokter gigi. Terkadang jika dalam perawatan ia lalu berkata”tidak, saya tidak mau! Kamu to=idak bias berbuat begitu kepada saya”. Pasien biasanya berbuat begitu di ruang praktek. Dengan perilaku demikian penanganan yang terbai adalah dengan memanggil anak dengan menggertak dan diikuti dengan perkataan yang tegas.
Bentuk lain dari pasien tipe ini adalah pasien yang bersikap pasif dan tidak melawan. Hal ini terlihat pada usia awal remaja dimana mereka melawan pada perampasan kebebasan yang di ambil dari dirinya, . pasien ini tidak mau berbicara dan ttidak mau menjawab pertanyaan yang diberikan., ia akan sering duduk tanpa emosi dan tidak mau membuka mulutnya. Menangan\i tipe tingkah laku seperti ini harus dilakukan dengan tanpa paksaan fisik. Hal yang terbaik adalah mengerti dan berhubungan pasien, berlaku jujur dan menyetujui apa yang dirasakannya dengan mengatakan “banyak orang yang tidak suka disuntik” atau “banyak sekali ha yang harus kita lakukan tetapi sebenanrnya kita tidak menyukainya” penghargaan harus diberikan untuk tingkah laku yang positif. Dengan tujuan agar dapat menerima perawatan gigi yang akan dilakukan
5. Tipe pemalu
Tingkah laku yang pemalu memerlukan penanganan yang seerius karena tanpa penanganan yang sepatutnya, potensi menjadi pasien yang baik dapat berubah menjadi pasien yang kooperatif.
Tipe dari prilaku ini merupakan refleksi dari proteksi orang tua yang berlebihan yang mengarahkan anak menjadi sangat tergantung pada orang tua. Sebagai hasil dari tindakan tersebut, pasien yang segan atau malu berada dalam kecemasan yang konstan karena anak tersebut tidak mau menunjukkan sikap yang minta dikasihani. Pasien yang pemalu sangat melibatkan diri dengan rasa takutnya sehingga ia tidak mendengarkan sekitarnya. Dengan demikian, seseorang diperlukan untuk mengulangi instruksi yang diberikan dan berulang-ulang menjelaskan kembali.
6. Tipe kooperatif tegang
Pada saat berhadapan dengan anak ini, harus di pastikan bahwa anak tersebut berada pada saat yang tepat. Mungkin akan terlihat tegang dengan suara yang gemetar dan seringkali memandang di sekeliling ruang praktek.
Pasien ini dan menerima tindakan perlakuan/perawatan, namun juga yang penting diperhatikan adalah tidak melakukan hal-hal yang dapat menambah berat situasi yang dialaminya.
Disamping itu dibutuhkan juga kemampuan untuk mengenali tipe pasien ini, menghargai sikap tingkah lakunya dan menjauhkan atau menghindari kemungkinan-kemungkinan adanya kebisingan atau perubahan pada tekanan suara yang menjadi tinggi.
7. Tipe pasien cengeng
Walaupun pasien ini mengeluh selama perawatan dilakukan, namun ia tetap memperkenankan ha tersebut tetap dilakukan.. pasien mengalami hal yang mencemaskan.
Salah satu metode untuk menangani metode ini adalah mengingatkan agar tetap tenang dan sabar. Dapat juga diberikan keyakinan dan pengertian dengan mengatakan kepada pasien bahwa prosedur perawatan akan segera berakhir dan ia dapat pulang kerumah.
II.2. Faktor-Faktor Yang Memperngaruhi Kooperatif Pasien
Adapun Faktor-fakto yang mempengaruhi koopertif seorang anak yaitu:
a. Keadaan Anak
• Umur anak
Umur anak merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi tingkah laku anak. Anak yang berusia diatas 3 tahun tingkah laku negatifnya sudah berkurang dan lebih banyak menunjukkan sikap kooperatif.(6,8)
• Kesadaran anak akan masalah kesehatan gigi
Pada umumnya seorang anak dating ke dkter gigi setelah ada masalah dengan giginya, misalnya sakit gigi, adanya pembengkakan atau lain sebagainya. Sehingga anak akan menunjukkan tingkah laku yang negatif, karena anak tersebut dtang dalam keadaan sakit dan membutuhkan perawatan yang lebuh kompleks. Karena itu penting bagi orang tua untuk membawa anaknya ke dokter gigi lebih awal sebelum adanya masalhadengan gigi anak tersebut. Dan hal ini sekaligus menjadi tahapan pengenalan bagi anak tentang perawatan gigi.
• Pengalaman perawatan sebelumya
Pengalaman pada perawatan sebelumya merupakan pertimbangan lain dalam riyawat penyakit seorang anak.
Adanya rasa sakit atau perasaan tidak menyenangkan yang pernah dialami pada perawatan sebelumnya, merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi dalam perawtan-perawaatn berikutnya. Bila dalam perawtan sebelumnya anak tidak mengalami rasa sakit, maka aanak akan cenderung menjadi kooperatif.(6,8)
b. Orang Tua
Salah satu hal yang paling berpengaruh terhadap prilaku anak dalam menerima perawatan gigi adalah didikan orang tua.(6)
Untuk mengetahui bagaimana orang tua dapat mempengaruhi prilaku anak dalam klinik gigi, maka perlu diketahui beberapa tipe orang tua yang dapat berpengaruh terhadap tingkah laku anak:
• Orang tua yang terlalu memberi hati (6)
Orang tua yang terlalu memberikan hati menunjukkan perhatian yang berlebihan terhadap anaknya. Orang tua semacam ini akan terlihat berhubungan seperti sahabat dengan anaknya. Setiap kebutuhan yang diperlukan anak tersebut pasti akan dipenuhi sehingga hasilnya, anak tersebut tidak mengalami perkembangan dalam reaksinya. Anak akan menunjukkan perlakuan sebagai berikut:
a. Tidak memiliki control diri
b. Bertempramen pemarah
c. Keinginan yang berlebihan
d. Menjadi lengah dan tidak penurut.
Pada kasus ini, berbicara dengan orang tua dan anak sebelum perawatan dilakukan, dibutuhkan sebagai persiapan/berjaga-jaga akan kemungkinan munculnya masalah dalam penanganan.
Anak dengan orang tua seperti ini akan termasuk pada kelompok menentang atau tingkah laku yang tidak terkendali.
• Orang tua yang terlalu melindungi(7)
Orang tua yang terlalu melindungi menunjukkan tingginya tingkat kecemasan. Hal ini dapat berasal dari kurangnya kasih sayang pada masa anak-anak atau mungkin menginginkan anak dalam jangka waktu yang panjang/lama, atau hal ini dapat merupakan hasil peningakatan pengendalian orang tua. Semua hal diatas menimbulkan konsekwensi, anak akan mengalami keterlambatan dalam pematangan social dan aturan-aturan social. Anak menjadi merasa tidak berdaya, malu, cemas dan memiliki perasaan sebagai seorang yang berada dibawah. Karena berlebihan dalam hal ini, orang tua menjadi cemas tentang kesehatan anaknya, maka dokter gigi harus memberikan waktu yang lebih untuk menjelaskan tentang hal-hal yang berhubungan denga perawatan gigi. Berkurangnya kecemasan pada orang tua akan berpengaruh pula dalam mengurangi kecemasan anak.
• Orang tua yang otoriter(6)
Orang tua seperti ini biasanya mempunyai pandangan bahwa apa uang telah ditetapkan atau diputuskan, itulah yang terbaik buat anaknya. Anak denga orang tua seperti ini cenderung patuh, bertingkah laku baik, ramah dan sopan. Pada waktu perawatan anak dapat menjadi kooperatif atau cenderung kooperatif, meskipun demikian dokter gigi seharusnya tidak menambah kecemasan yang mungkin dialami anak tersebut. Pada keadaan ini dokter gigi harus mengingatkan kepada orang tua anak untuk bersikap netral dan tidak menujukkan sikap otoriternya.
• Orang tua yang lalai(6)
Orang tua tipe ini mungkin akan terlihat pada waktu kunjungan pertama anaknya ke dokter gigi. Biasanya akan tampak pada perjanjian kunjungan berikutnya, dimana anak tersebut tidak kembali untuk perawatan selanjutnya. Disini terlihat bahwa orang tua sedikit lalai untuk membawa anaknya kembali ke dokter gigi. Hal lain yaitu berupa motivasi-motivasi dan penyuluhan yang disampaikan oleh dokter gigi tidak dijalankan dengan baik, juga termasuk instruksi-instruksi yang disampaikan olehnya. Hal ini mungkin dikarenakan adanya kesibukan orang tua, yang mengakibatkan kurangnya perhatian terhadap kesehatan gigi anaknya.
• Kecemasan pada ibu(6)
Tingkat kecemasan ibu akan sangat berpengaruh pada munculnya kecemasan pada anak. Jika tingkat kecemasan anak tinggi, maka kemungkinan akan muncul tingkah laku yang negatif.
Kecemasan pada ibu pada saat anaknya akan mendapatkan perawatan umumnya muncul pada anak saat anak berumur 36-47 bulan dan kecemasan berkurang bersamaan dengan bertambahnya umur.
Seorang anak dapat membaca bahasa tubuh ibunya pada saat ibu tersebut berada dalam tahap kecemasan.
Ketakutan tersebut hanyalah suatu proteksi dan keamanan, namun tidak dapat memberikan kebutuhan akan kenyamanan, malah akan membuat anak menjadi cemas. Ada beberapa cara untuk mengatasi masalah ini. Salah satu cara yang berhasil mengubah kebiasaan dan dampak dari kecemasan pada ibu yaitu dengan mengirimkan surat sebelum pertemuan yang berisikan penjelasan mengenai hal yang akan ditemui pada saat kunjungan pertama. Cara lain adalah berbicara dengan ibu walapun tanpa diketahui oleh anak yang berada di ruang tunggu, dan bicarakan pada ibu tersebut tentang keadaannya. Dengan berbicara kepada ibu tersebut, tentang kunjungan ke dokter gigi, kecemasannya dapat dikurangi. Jika anak kemudian dapat melihat bahwa kekhawatiran ibunya berkurang, maka kecemasan pada anak tersebut juga akan berkurang dibandingkan sebelum ibunya diberi penjelasan di awal kunjungan.
e. Saudara Kandung
Hubungan saudara dibutuhkan tidak untuk member efek negatif. Saudara yang lebih muda sewaktu-waktu dapat diperkenankan untuk mengamati saudaranya yang lebih muda yang menunjukkan sikap kooperatif pada saat dilakukan perawtan di ruang praktek. Pada kunjungan ini dilakukan prosedur yang sederhana seperti pengambilan foto radiografi dan penanganan oral propilaxis (pencegahan). (6)
Melihat pengalaman kakaknya dalam menerima perawatan gigi, akan membuat si adik menerima perawatan pada saat gilirannya untuk berkunjung ke dokter gigi.(6)
f. Status Sosial Ekonomi
Latar belakang sosial akan mempengaruhi seorang anak dalam menerima perawatan gigi. Setiap subkultur memiliki karakteristik masing-masing yang berisikan nilai dan prinsip. Sebagian orang tua menekankan kedisiplinan yang lebih dibandingkan orang tua yang lainnya. (6)
Latar belakang ekonomi merupakan hal penting lainnya yang juga harus disadari. Seorang ibu yang berasal dari kelas menengah, dalam menerapkan kedisiplinan menggunakan cara yang lebih umum dan sedikit kedisiplinan fisik. Sedangkan orang tua kelas bawah, menggunakan hukuman fisik dalam menerapkan kedisiplinan. Hal ini jelas, bahwa anak dengan latar belakang di atas menunjukkan dapat disiplin dan diatur yang biasanya terbukti pada tingkat kesulitan yang kecil saat perawatan dilakukan. (6)
Dari pengalaman yang ada, anak yang berada pada status ekonomi rendah, biasanya kurang memperhatikan OH (Oral Hygine) dan kurang peduli dengan rencana perawatan, tetapi akan mudah diarahkan, sedangkan anak yang berada pada status ekonomi tinggi akan lebih memperhatikan OH namun manja dan sukar diatur. (6)
g. Lingkungan Klinik Gigi
Lingkungan atau situasi klinik gigi termasuk keadaan ruang tunggu, ruang perawatan, maupun dokter gigi beserta asisten juga dapat mempengaruhi tingkah laku anak dalam klinik gigi. (6)
Ruang tunggu yang terpisah dari ruang perawatan dengan gambar-gambar yang cerah dan lucu akan memberikan pengaruh yang lebih baik karena anak yang berada di ruang tunggu tidak terlalu mendengar suara-suara dari dalam ruang perawatan, seperti suara air jet atauapun tangisan dari anak yang sedang dirawat, sehingga anak-anak yang berada di ruang tunggu tidak menjadi takut dan cemas yang akhirnya akan menimbulkan sikap yang kooperatif.
Sikap dokter gigi dan asistennya juga dapat memberikan pengaruh terhadap sikap anak selama kunjungannya ke dokter gigi. Senyuman dan tatapan ramah dari dokter gigi akan memberikan rasa aman pada diri anak. (6)
II.3. Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Rasa Tidak Nyaman Di Klinik
a. Factor Instrinsik
b. Factor Ekstrinsik
II.4. Peranan Dokter Gigi Dalam Menangani Tingkah Laku Anak Di Klinik
II.5.Penanganan Praperawatan
Ahli psikologi mempergunakan istilah pembentukan tingkah laku untuk menunjukkan proses memodifikasi tingkah laku pasien ke arah ideal. Bagian utama dari pembentukan tingkah laku adalah mendefinisikan suatu seri langkah-langkah pada jalur menuju tingkah laku yang diinginkan, dan kemudian maju langkah demi langkah ke tujuannya. Dalam hubungannya dengan kedokteran gigi, ini dapat dikatakan bahwa tingkah laku ideal ditunjukkan oleh pasien yang menjaga kebersihan mulutnya dengan sangat baik, melatih pengaturan diet, dan santai serta kooperatif selama perawatan operatif. Adalah tidak realistis untuk mengharapkan setiap pasien menunjukkan macam tingkah laku ini pada kunjungan pertama; tetapi menganggap sebagai tingkah laku yang tidak dapat dirubah pada diri mereka yang belum mempunyai tingkah laku ideal juga salah, atau hanya mengharapkan akan menjadi baik di kemudian hari. Tindakan yang benar adalah merencanakan perawatan sedemikian sehingga tingkah laku anak perlahan-lahan meningkat pada tingkat yang diinginkan. Hanya dengan begitulah tujuan yang mendasar dari kedokteran gigi untuk anak dapat dipenuhi, yaitu memodifikasi sikap dan tingkah laku ke arah positif, selain melaksanakan setiap perawatan yang diperlukan. 2
Pada perawatan gigi operatif, pembentukan tingkah laku didasarkan pada prosedur rencana perawatan pendahuluan yang diinginkan, Sehingga anak perlahan-lahan dilatih untuk menerima perawatan dalam keadaan santai dan kooperatif. Langkah-langkah yang dapat merupakan perawatan pendahuluan pada rata-rata anak usia sekolah adalah 2:
1. Pemeriksaan dan profilaksis.
2. Fissure sealant atau penggunaa flour topikal.
3. Restorasi oklusal yang kecil pada gigi susu tanpa anestesi lokal.
4. Anestesi infiltrasi dan restorasi.
5. Blok pada saraf gigi bawah dan restorasi.
Waktu yang diperlukan pada tiap langkah tergantung pada tingkah laku anak. Jadi beberapa anak mungkin memerlukan beberapa kunjungan singkat pada langkah-langkah awal sebelum menjadi lebih lanjut, sedang yang lain dapat sampai pada langkah 5 dalam satu atau dua kunjungan. Tentu saja, pada beberapa anak dapat dilakukan langkah 5 pada kunjungan pertama, tetapi ini tidak bisa dianggap praktek yang baik walaupun anak dapat menerima perawatan, pendekatan demikian itu berlawanan dengan prinsip-prinsip pembentukan tingkah laku dan kemungkinan keberhasilannya kurang. 2
Untuk anak kecil yang sangat takut, dapat direncanakan langkah-langkah berikut (Hill dan O’Mullane, 1976) 2:
1. Anak menyikat gigi-giginya dengan sikat giginya sendiri pada tempat cuci.
2. Ibu, dan kemudian dokter gigi, menggosok gigi-gigi anak dengan sikatnya sendiri pada tempat cuci.
3. Anak duduk pada kursi perawatan gigi, dilakukan pemeriksaan dan pemakaian brush profilaksis dengan handpiece berkecepatan rendah.
4. Lanjutkan sebagaimana anak normal.
Pendekatan bertahap dalam pembentukan tingkah laku ini dapat menunda kemajuan perawatan, tetapi bila kerja sama yang penuh dari anak dapat diperoleh, penundaan ini tentu lebih bermanfaat karena waktu yang dilewatkan tersebut dapat dianggap sebagai investasi yang nyata. 2
a. Informasi kesehatan gigi dengan gambar
Siapa yang tak senang melihat anaknya tersenyum manis dengan gigi yang putih, bersih dan sehat? Dan orang tua mana yang tahan melihat anaknya menangis kesakitan karena giginya berlubang? Perawatan gigi dan mulut pada masa balita dan anak sangat menentukan kesehatan gigi dan mulut mereka pada tingkatan usia selanjutnya. Beberapa penyakit gigi dan mulut bisa mereka alami bila perawatan tidak dilakukan dengan baik. Diantaranya karies (lubang pada permukaan gigi), ginggivitis (peradangan gusi), dan sariawan. Mencegah kerusakan gigi lebih penting daripada terpaksa berobat ke dokter gigi setelah gigi rusak atau berlubang. Tindakan pencegahan merupakan hal yang terbaik, selain tidak merasakan sakit, seseorangpun tidak perlu mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk mengobati sakit giginya.3
Untuk menjaga kesehatan gigi pada bayi dan anak-anak, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua, yaitu3:
- Siapkan makanan kaya kalsium (ikan & susu), fluor (teh, sayuran hijau), fosfor, serta vitamin A (wortel), vitamin C (buah-buahan), vitamin D (susu), dan vitamin E (kecambah). Mineral dan vitamin tersebut diperlukan untuk pertumbuhan gigi mereka.
- Kurangi konsumsi makanan manis dan mudah melekat pada gigi, seperti permen atau coklat. Gula pada makanan manis bisa merusak gigi anak, tetapi jangan lantas melarang sama sekali untuk makan makanan manis, karena dapat menimbulkan dampak psikis. Untuk menjaga kebersihan giginya, biasakan mereka berkumur-kumur setelah makan makanan manis tersebut.
- Ajari anak menggosok gigi secara teratur dan benar, minimal 2 kali sehari, pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Lebih baik lagi bila dilakukan setiap usai makan. Untuk bayi usia 6-11 bulan, setelah habis menyusu atau makan dibersihkan giginya dengan kapas atau kain kasa steril yang dibasahi air, diusapkan pelan-pelan ke setiap permukaan gigi. Pada anak usia 1-2 tahun mulai diperkenalkan dengan sikat gigi, untuk tahap pengenalan lebih baik tidak memakai pasta gigi, karena tidak semua anak bisa merasa nyaman dengan rasa pasta gigi, pasta gigi bisa-bisa dirasa aneh oleh anak. Jadi, cukup gunakan sikat gigi dibasahi air hangat matang saja. Kemudian anak dilatih memegang sikat gigi dan belajar menggosokannya secara perlahan ke setiap permukaan giginya. Setelah berjalan beberapa minggu dan anak sudah terbiasa menggosok gigi, boleh diberi sedikit demi sedikit pasta gigi khusus anak.
- Upayakan untuk memperkenalkan anak secara dini mengunjungi dokter gigi sejak usia 1 tahun. Hal ini akan bermanfaat dalam membiasakan dan mengatasi rasa asing atau takut pada dokter gigi. Selain itu, hal ini juga penting agar dokter mengetahui sejak dini mengenai gangguan gigi apa saja yang bisa dialami anak tersebut. Selanjutnya ajaklah anak untuk memeriksakan kesehatan giginya secara rutin 6 bulan sekali. Terutama untuk anak-anak usia 6-11 tahun penting untuk memeriksakan kesehatan gigi dan mulutnya secara rutin, karena gigi mereka mengalami pergantian dari gigi susu ke gigi tetap.
- Apabila anak mengeluh sakit giginya, berilah air garam untuk berkumur-kumur, kemudian segeralah bawa ke dokter gigi, karena kalau dibiarkan terlalu lama, akan menimbulkan penyakit gigi yang berlanjut, yang lebih parah.
Anak adalah pribadi yang unik, ia bukanlah seorang dewasa yang bertubuh kecil. Namun ia adalah sosok pribadi yang berada dalam masa pertumbuhan baik secara fisik, mental dan intelektual. 4
Mereka mengalami berbagai fase dalam perkembangannya,dimana pada usia 2 sampai 5 tahun merupakan fase yang paling aktif, terutama pada perkembangan otak anak, oleh karena itu periode tersebut dikenal sebagai masa keemasan anak atau golden age. 4
Dalam memberikan pendidikan kesehatan fisik pada anak seringkali orang tua dan guru hanya membatasi pada kesehatan tubuh saja. Pendidikan kesehatan gigi (Dental Health Education) seringkali menjadi topik yang kurang mendapat perhatian baik dirumah maupun sekolah. 4
Ada beberapa alasan mengapa seringkali orangtua kurang memperhatikan kebersihan dan kesehatan gigi anak. Alasan yang paling banyak ditemukan adalah masih banyak orangtua yang beranggapan bahwa gigi pada anak adalah gigi susu ,jadi tidak usah dirawat karena nanti juga akan berganti dengan gigi tetap. Padahal sebenarnya justru pada masa gigi susu itulah anak harus mulai dajarkan untuk menjaga kebersihan dan kesehatan giginya. Karena alasan berikut 4:
1. Pada masa gigi susu, sedang terjadi pembentukan gigi tetap didalam tulang. Sehingga jika ada kerusakan gigi susu yang parah dapat mengganggu proses pembentukan gigi tetapnya. Hal ini dapat mengakibatkan gigi tetapnya tumbuh dengan tidak normal.
2. Mulut adalah pintu utama masuknya makanan ke dalam perut. Mulut adalah lokasi pertama yang dilalui makanan dalam proses pencernaan. Jika terjadi gangguan pada mulut maka akan mengganggu kelancaran proses pencernaan.
3. Infeksi yang terjadi pada gigi dan mulut dapat mempengaruhi kesehatan organ di dalam tubuh seperti jantung, paru-paru, ginjal, dll. Karena infeksi dalam mulut dapat menyebar ke dalam organ-organ tersebut yang disebut dengan fokal infeksi.
4. Infeksi gigi dan mulut yang diderita anak akan membuat anak menjadi malas beraktivitas dan akan mengganggu proses belajar mereka.
Melihat alasan-alasan tersebut, maka saat ini beberapa sekolah tertentu gencar memberikan pendidikan kesehatan gigi bagi siswa mereka. Bahkan ada sekolah yang menjadikan pendidikan kesehatan gigi bersama dengan pendidikan kesehatan umum sebagai bagian dari kurikulum sekolah. 4
b. Kontrol Kesehatan Gigi
Bagi para orangtua di rumah pendidikan kesehatan gigi sudah harus dimulai sejak gigi pertama ada dalam mulut anak.Bagaimana caranya?Yaitu dengan selalu membersihkan gigi anak setiap selesai minum susu atau selesai makan. Tidak perlu menggunakan sikat gigi, namun bisa dilakukan dengan menggunakan kain kasa lembut yang dibasahi dengan air hangat. Sepertinya hanya sebuah perlakuan yang biasa saja, namun sesungguhnya hal itu memberikan sebuah pengalaman baru yang luar biasa pada anak. Ketika ibu membersihkan gigi dengan kain lembut yang dibasahi air hangat, anak merasa bahwa kegiatan membersihkan gigi adalah kegiatan yang menyenangkan dan itu akan terekam dalam memori anak.Dampaknya, ketika anak akan diperkenalkan dengan sikat gigi pada usia 1 tahun tidak akan ada lagi keluhan anak tidak mau menyikat gigi karena takut melihat sikat gigi yang akan dimasukkan dalam mulut mereka. 4
Ketika anak berusia dua tahun, jumlah gigi dalam mulut sudah lengkap dua puluh buah. Mulailah anak diajarkan menyikat gigi sendiri dan orangtua tetap mengawasi. Saat mereka sudah bisa berkumur, boleh ditambah dengan pasta gigi. Ajaklah anak untuk biasa mengkonsumsi sayur atau buah dan kontrol makanan manis yang mereka konsumsi. Bukan tidak boleh anak memakan makanan yang manis karena itu makanan kesukaan mereka. Hanya orang tua perlu mengontrol banyaknya atau macam dari makanan manis yang mereka makan. 4
Usia dua tahun merupakan usia yang pas bagi anak untuk belajar mengenal dokter gigi. Ajaklah anak ke klinik gigi untuk memeriksa gigi mereka walaupun belum ada keluhan. Karena bisa saja sudah terjadi lubang kecil pada gigi anak yang tidak dirasakan mereka namun sudah harus dilakukan penanganan oleh dokter gigi. 4
Jadikanlah pendidikan kesehatan gigi sebagai sebuah pengalaman yang menyenangkan bagi anak. Karena dengan demikian kita sebagai orangtua tidak akan berteriak-teriak lagi menyuruh anak menyikat gigi saat mandi pagi dan Insya Allah kita tidak akan mengalami bangun tengah malam karena anak menangis karena giginya sakit. Dan yang lebih penting lagi proses tumbuh kembang anak tidak terganggu akibat anak sakit gigi. 4
Kerusakan gigi pada anak (usia 6-11) dan remaja (12-19) 5 kali lipat lebih banyak dibadingkan kasus asma dan 7 kali lebih banyak dibandingkan kasus demam. 5
Hal ini disebabkan oleh orangtua yang tidak menerapkan perawatan gigi yang baik sejak kecil. Bagaimana perawatan yang tepat? Berikut beberapa langkah sederhana yang bisa menjadi panduan Anda. 5
Mulai perawatan sejak dini.
Berdasarkan anjuran American Academy of Pediatrics dan the American Academy of Pediatric Dentistry, anak Anda sebaiknya sudah diperiksakan ke dokter gigi saat memasuki usia satu tahun. 5
Pencegahan dini ini, menurut laporan Centers for Disease Control and Prevention, akan menghemat pengeluaran uang dalam jangka panjang. Laporan dari lembaga ini menyebutkan, biaya perawatan gigi selama kisaran waktu 5 tahun sebanyak 40% lebih rendah pada anak yang telah melakukan pemeriksaan di usia 1 tahun dibandingkan mereka yang tidak. 5
Ajarkan kebiasaan menggosok gigi dan flossing.
Selain memeriksakan dini, menggosok gigi sejak usia awal juga merupakan hal yang sangat penting. Kapan harus mulai menggosok gigi anak? “Jika bayi Anda sudah mempunyai satu gigi saja, sudah saatnya mulai menggosok gigi,” tutur Largent, seperti dikutip situs webmd. Jika hanya satu, Anda bisa menggunakan kain kasa. 5
Kebiasaan menyikat, terang Largent, sudah bisa dimulai bahkan saat anak belum memiliki gigi. Anda bisa menggosok gusi anak secara lembut dengan menggunakan air dan sikat gigi bayi yang halus, atau membersihkan gusi dengan kain kasa yang dibasahi. 5
Saat menggosok gigi ini, jangan lupa pula untuk membersihkan permukaan lidah. Tempat ini juga merupakan tempat bersarangnya kuman karena tumbukan lemak-lemak susu yang menebal. Percuma jika gigi bersih namun lidah tetap kotor. Kuman yang ada di lidah juga bisamempengaruhi kerusakan gigi. 5
Bagaimana dengan flossing? Menurut Largent, flossing sudah bisa dimulai saat bayi sudah memiliki dua gigi yang saling berdampingan.”Berkonsultasilah dengan dokter mengenai teknik flossing dan jadwal yang tepat. 5
Selain itu, berkonsultasilah dengan dokter mengenai kapan anak bisa mulai menggunakan mouthwash.”Saya menyarankan orangtua menunggu hingga anak sudah bisa memuntahkan kembali mouthwash,” terang Mary Hayes, seorang dokter gigi dari Chicago. 5
Kapan anak seharusnya mulai bisa bertanggung jawab menggosok giginya sendiri? Idealnya, saat anak sudah mulai bisa mandi sendiri dan belajar bertanggung jawab pada kebersihan tubuhnya. Selama proses mandi sendiri, lengkap dengan sikat gigi, Anda sebaiknya tetap mengawasi tingkat kebersihannya. Beritahu mana yang masih kurang bersih \dan mana yang perlu diperhatikan, sebab kebiasaan ini nantinya akan terbawa hingga dewasa. 5
Dalam menggosok gigi, ada 3 faktor yang harus diperhatikan, yaitu3:
1. Pemilihan sikat gigi:
Untuk anak pilih sikat gigi yang kecil baik tangkai maupun kepala sikatnya, sehingga mudah dipegang dan tidak merusak gusi. Bulu sikat jangan terlalu keras / terlalu lembut terlalu jarang. Pilih yang bulu sikatnya lembut tapi cukup kuat untuk melepas kotoran di gigi. Ujung kepala sikat menyempit hingga mudah menjangkau seluruh bagian mulutnya yang relatif mungil Ujung sikat gigi dan ujung bulu sikat sedekat mungkin, bila tidak ujung sikat gigi sudah mentok ke bagian belakang tapi bulu sikat tidak kena gigi, jadi ada bagian gigi yang tidak tersikat. Ini biasanya pada gigi geraham bungsu.
2. Cara/gerakan sikat gigi:
Pangkulah anak di depan sebuah cermin, dengan posisi membelakangi kita. Dengan begitu anak akan melihat sendiri giginya yang semula kuning setelah disikat jadi lebih putih. Sikatlah gigi pada permukaan luar dan permukaan dalam gigi, lakukan gerakan vertikal dan searah dari bagian gusi ke arah permukaan gigi (lihat gambar. 1 dan gambar. 3). Untuk rahang atas gerakan sikat dari atas ke bawah, untuk rahang bawah dari bawah ke atas. Sedangkan untuk bagian permukaan kunyah, baik gigi atas maupun bawah, teknik penyikatannya adalah gigi disikat dengan gerakan horisontal dari gigi-gigi belakang ke arah gigi depan (menarik sikat ke arah luar mulut, lihat gambar. 2 atas). Kalau teknik ini dilakukan dengan benar, hasilnya bisa lebih maksimal sementara kesehatan gusi pun tetap terjaga. Setiap permukaan gigi disikat dengan teliti, tidak usah terlalu keras, tapi mantap. Gusi harus tersikat agar sisa-sisa makanan lunak yang ada di leher gigi hilang dan selain itu juga berfungsi untuk melakukan massage (pijatan) pada gusi, sehingga gusi sehat, kenyal dan tidak mudah berdarah. Jangan lupa, permukaan lidah juga perlu disikat pelan-pelan, karena permukaan lidah itu tidak rata sehingga mudah terselip sisa-sisa makanan (lihat gambar.2 bawah).
3. Frekuensi sikat gigi:
Minimal 2 kali sehari, pagi setelah sarapan dan malam sebelum tidur. Idealnya sikat gigi setiap habis makan, tapi yang paling penting malam hari sebelum tidur. Sebaiknya sikat gigi dengan pasta gigi yang mengandung fluor yang dapat menguatkan email. Untuk anak-anak berikan pasta gigi dengan rasa buah, sehingga anak gemar menggosok gigi.
Pada anak usia balita memerlukan peranan orang tua untuk membantu proses pembelajaran menggosok gigi secara rutin dan benar, karena dengan bimbingan dan penanaman kebiasaan menggosok gigi, akan bermanfaat untuk menjaga kesehatan giginya yang putih bak mutiara. Dibutuhkan kesabaran orang tua dalam proses pembelajaran ini, kadang mula-mula anak menutup rapat mulutnya setiap kali giginya mau dibersihkan. Penolakan ini wajar karena anak mengira dirinya akan disakiti. Langkah inovatif diperlukan ketika menggosok gigi si anak. Ajak si kecil melihat kakak, ayah, atau ibunya menggosok gigi. Dengan begitu anak akan melihat langsung contoh/model bagaimana cara menggosok gigi. Selain itu sikat gigi juga bisa dilakukan sambil bermain, tak perlu selalu di kamar mandi. Misalnya sambil bercermin, atau sambil menari-nari dan bernyanyi gembira. Buat acara menggosok gigi menjadi menyenangkan sehingga mereka menikmatinya dan tidak malas melakukannya. Jadikan acara sikat gigi sebagai salah satu kebutuhan yang harus dilakukan minimal dua kali sehari. Selagi membangun kebiasaan ini, sampaikan pengertian kepada anak mengenai manfaat menyikat gigi, paling konkret adalah gigi jadi bersih, putih dan sehat. 3
Hindari kerusakan gigi akibat botol susu.
Jangan pernah biarkan bayi Anda tertidur dengan botol susu, formula atau jus yang masih menempel di bibir. Hal ini, menurut Largent, bisa merusak gigi anak. Cairan bergula dari botol akan menempel di gigi, menyediakan makanan bagi bakteri sehingga tetap bisa bertahan di mulut. Bakteri ini akan menghasilkan asam yang bisa memicu kerusakan gigi. Jika dibiarkan tanpa perawatan, penyakit gigi juga bisa mengganggu proses pertumbuhan dan pembelajaran anak, serta bisa mengganggu kemampuan bicara. 5
Berdasarkan panduan American Academy of Pediatrics, jika anak hanya mau tidur dengan botol di mulut, pastikan botol tersebut hanya berisi air putih. 5
Kontrol kebiasaan minum jus.
Bukan hanya botol susu yang mengganggu kesehatan gigi anak tetapi juga jus dalam gelas yang biasa digunakan orangtua saat anak mulai mengalami peralihan dari botol ke gelas. Anak-anak, terang Largent, seringkali dibiarkan minum jus dan minuman bergula lainnya sepanjang hari. Hal ini bisa merusak bagian belakang gigi depan.”Khususnya jika minuman tersebut bergula.” 5
Menurut American Academy of Pediatrics, konsumsi jus berkaitan dengan obesitas pada anak dan penyebab kerusakan gigi. Sebagai langkah pencegahan, organisasi ini menganjurkan orangtua agar membatasi asupan jus buah tidak lebih dari 4 ons sehari. Minuman dan makanan bergula sebaiknya dibatasi hanya pada saat makan saja. 5
c. Melihat perawatan gigi di klinik
The American Academy of Pediatric Dentistry (AAPD) dan American Dental Association (ADA) merekomendasikan bahwa seorang anak sebaiknya melakukan kunjungan pertamanya ke dokter gigi tidak lebih dari usia 12 bulan ataupun ketika gigi pertama anak sudah erupsi yaitu sekitar usia 6 bulan, walaupun mungkin tidak ada kelainan atau penyakit sama sekali di dalam rongga mulut anak.6
Tujuan dari rekomendasi ini adalah untuk mendeteksi dan mengendalikan berbagai kondisi patologi yang ada dalam rongga mulut, terutama penyakit gigi yaitu karies atau lubang gigi. Selain itu, rekomendasi ini juga merupakan usaha pemberian pendidikan preventif (pencegahan) dan dasar perawatan gigi anak untuk mendapatkan kesehatan mulut yang optimal. 6
Kunjungan dini ini juga akan memperkenalkan anak dengan lingkungan dokter gigi sehingga akan membantu anak untuk beradaptasi, dan lebih mudah bekerja sama dengan perawatan gigi nantinya. 6
Ada beberapa hal yang dilakukan dokter gigi pada kunjungan pertama anak untuk melakukan pemeriksaan gigi6:
1. Review riwayat penyakit anak.
2. Memberikan respon terhadap pertanyaan dari orang tua atau pengasuh anak.
3. Diskusi mengenai:
• Cara merawat kesehatan rongga mulut anak.
• Penggunaan fluoride yang tepat untuk anak.
• Pengenalan bad oral habit, seperti menghisap jari.
• Apa saja yang diharapkan terjadi di dalam rongga mulut anak selama anak mengalami masa pertumbuhan dan perkembangan ke depannya.
• Hubungan antara diet dengan kesehatan rongga mulut.
4. Demonstrasikan cara membersihkan rongga mulut anak dan beri kesempatan pada orang tua atau pengasuh untuk mempraktekannya.
5. Memberikan aplikasi topikal fluor apabila anak memiliki resiko tinggi mengalami karies.
6. Memberikan anjuran kapan kunjungan berikutnya.
Biasanya pemeriksaan gigi pada bayi dan balita tidak dilakukan di kursi gigi, melainkan dilakukan di atas pangkuan orang tua dan dokter gigi (lihat gambar). Bagi Anda yang memiliki anak yang sudah agak besar dan sudah bisa berkomunikasi dengan orang lain, berikut ini adalah beberapa tips agar kunjungan ke dokter gigi berhasil6:
1. Jangan ajak anak Anda ketika melakukan perawatan skeling untuk membersihkan karang gigi. Sebagian anak takut apabila melihat darah.
2. Jangan katakan perawatan gigi tidak sakit. Katakan saja kepada anak, bahwa gigi Anda terasa lebih enak dan nyaman setelah dilakukan perawatan.
3. Apabila anak Anda menanyakan Anda bagaimana cara gigi ditambal, katakan bahwa Anda tidak mengerti. Hanya dokter gigi Anda yang tahu caranya. Biasanya dokter gigi akan menceritakan proses penambalan gigi kepada anak dengan bahasa yang menarik sehingga anak tidak merasa takut.
4. Apabila Anda diizinkan menemani anak Anda untuk melakukan perawatan gigi, bersikaplah pasif. Biarkan dokter gigi Anda menciptakan hubungan yang baik dan memperoleh rasa percaya dari anak.
5. Jangan pernah jadikan kunjungan ke dokter gigi sebagai suatu hukuman atau suatu hal yang menakutkan. Misalnya apabila anak suka makan permen, jangan pernah takuti bahwa giginya akan disuntik oleh dokter gigi.
Kunjungan pertama ke dokter gigi dapat Anda lakukan di Balai Pengobatan Gigi di Puskesmas ataupun apabila Anda memiliki anggaran dana lebih dapat dilakukan di klinik dokter gigi spesialis kesehatan gigi anak (Sp. KGA). 6
DAFTAR PUSTAKA
1. Siska Damayanti Heryaman. Pentingnya Kesehatan Gigi dan Mulut Anak. Available at : http://shop.pdgi-online.com/ Accessed on 01 oktober 2009
2. Andlaw RJ, Rock WP. Perawatan Gigi Anak. Penerbit;Widya Medika. P 15-19.
3. Ririn Fitriana, drg. Perawatan Kesehatan Gigi Anak. Available at: http://kharisma.de/d/?q=node/288 Accessed on 01 oktober 2009
4. Tanti Ardiyanti. Melatih anak menjaga kebersihan dan kesehatan gigi sejak usia dini. Available at: http://www.pdgi-online.com/ap/card/ Accessed on 01 oktober 2009
5. Manfaat Kesehatan Gigi Buat Anak. Available at: http://berita21.com/2009/09/15/manfaat-kesehatan-gigi-buat-anak/ Accessed on 01 oktober 2009
6. Kunjungan Pertama Ke Dokter Gigi (First Dental Visit). Available at: http://gigisehatbadansehat.blogspot.com/2009/09/kunjungan-pertama-ke-dokter-gigi-first.html. Accessed on 01 oktober 2009
II.6. Situasi Lingkungan Klinik
II.1. DESAIN RUANGAN PERAWATAN PASIEN UMUM
Mesin bor, tang pencabut gigi, alat suntik, jerit kesakitan, pendarahan, dan sebagainya bagi sebagian besar anak sudah telanjur menjadi unsur yang menempel erat pada sosok menyeramkan seorang dokter gigi, sebelum mereka benar-benar pernah menjumpainya.
Bagi kebanyakan orang, sikat gigi dan minum obat sakit gigi apabila sakitnya mulai terasa itus udah cukup untuk merawat kesehatan gigi. Tapi anggapan seperti itu kurang tepat untuk diterapkan. Hal ini disebabkan karena penyebab penyakit gigi itu bukan hanya satu macam. Tapi ada bermacam macam penyebab sakitnya gigi. Terutama bagi anak-anak yang amat sulit dipisahkan dengan permen dan coklat, padahal gigi di usia dini sangat menentukan keadaan gigi kelak jika nanti sudah dewasa. Oleh karena itu, sangat diperlukan adanya perawatan lebih dan kontrol kesehatan gigi sejak dini. Misalnya ke Puskesmas, Rumah sakit, dan Klinik gigi.
Namun alangkah sangat disayangkan, karena sebuah klinik gigi telah dianggap adalah tempat yang menakutkan oleh sebagian besar anak. Hal ini menjadi kendala utama bagi seorang anak untuk mengontrolkan dan memeriksakan kesehatan giginya secara rutin ke seebuah klinik kesehatan gigi.
Pemahaman bahwa klinik gigi itu adalah tempat yang menakutkan bagi sebagian besar anak adalah pekerjaan rumah bagi para pemilik klinik kesehatan gigi. Seorang pemilik klinik, harus memiliki inovasi tentang bagaimana membuat pengunjung klinik merasa nyaman atau bahkan merasa ketagihan untuk memeriksakan kesehatan gigi ke klinik secara rutin dan teratur sesuai yang dianjurkan. Sehingga secara tidak langsung kesan buruk seorang anak tentang sebuah klinik gigi itu lebur dan malah berbalik menjadi tempat yang menyenangkan untuk dikunjungi. Hal tersebut juga membawa pengaruh besar pada masyarakat sekitar klinik agar menyadari pentingnya mengontrol kesehatan gigi secara rutin.
Untuk mewujudkan hal tersebut, maka pemilik klinik gigi harus memperhatikan dan mengembangkan beberapa hal.
1. PENATAAN RUANGAN
Dalam penataan ruangan akan sangat tergantung dari rancangan bangunan tempat klinik berada. Hal ini sangat berpengaruh besar bagi kenyamanan pengunjung. Utamanya anak-anak dan remaja.
Tata ruang harus dapat memastikan adanya sirkulasi udara yang baik
Sistem pembuangan limbah yang terjamin keamanannya
Tata letak perlengkapan dan peralatan yang memungkinkan pergerakkan yang leluasa
Penggunaan dental unit, perlengkapan kantor seperti kursi dan meja yang ergonomis
Pengaturan area yang jelas antara area resepsionis, administrasi, ruang tunggu, ruang sterilisasi, ruang alat dan bahan serta ruang perawatan dan lain-lain. Hal ini harus dikembangkan guna menjamin kenyamanan dan keselamatan serta privacy dalam bekerja.
Setiap ruangan klinik hendaknya didesain sebagai ruangan yang dapat memberikan kenyamanan kerja, baik bagi operator maupun bagi pasien khususnya pasien anak, hal ini menyangkut tata warna, dekorasi dinding dan seterusnya tapi tetap disesuaikan dengan target pasien
2. SISTEM PENGELOLAAN PASIEN
Dalam mengelola pasien, perawat gigi harus mampu menempatkan diri sebagai dental asisten dan resepsionis yang mumpuni, seorang perawat gigi harus menguasai teknik-teknik berikut :
Berkomunikasi yang efektif pada waktu menerima dan menangani pasien.Utamanya pasien anak. Dalam hal ini kreatifitas sangat dipelukan.
Mencatat data pasien secara baik.
Mengatur sistem perjanjian dan penjadwalan pasien.
Memelihara hubungan baik dengan pasien / klien .
Memberikan kesan yang nyaman bagi pasien.
3. SISTEM KEUANGAN / PEMBIAYAAN
Perawat gigi mutlak harus menguasai keterampilan sebagai seorang kasir, bendahara, akuntan dan petugas asuransi. Teknik-teknik yang harus dikembangkan adalah :
Tariffing (penentuan tarif yang diperhitungkan secara cermat). Dapat mengkondisikan diri sebagai pesien.
Sistem asuransi dan klaim
Sistem pencatatan pemasukan dan pengeluaran keuangan yang akurat
4. SISTEM INFORMASI
Dewasa ini, sistem informasi sangat identik dengan sistem informasi berbasis komputer, ada banyak keuntungan dari tata cara pengelolaan data, informasi serta dokumen yang didukung oleh perlengkapan keras dan lunak komputer. Sistem informasi komputer di klinik gigi dapat berupa :
Software registrasi pasien
Software keuangan
Software pengelolaan alat, bahan dan barang
Software perjanjian pasien
Kesemua software itu bisa dibangun dalam sebuah sistem yang terintegrasi yang sangat membantu perawat gigi dalam bekerja secara cepat, akurat dan hemat.
5. SISTEM TATA HUBUNGAN KERJA DALAM ORGANISASI
Ada banyak yang dapat dilakukan oleh seorang perawat gigi dalam mengembangkan tata hubungan organisasi guna membangun klinik gigi yang efektif dan efisien, diantaranya adalah :
Selalu menjaga hubungan baik antar petugas (sejawat perawat gigi, dokter gigi, tenaga administrasi dan lain lain)
Selalu bersikap profesional dan menjaga etika di lingkungan kerja
Membangun sistem penjadwalan pekerjaan yang adil (fair)
Senantiasa mentaati peraturan yang berlaku
Memelihara kebersamaan dan saling tolong menolong antara sesama petugas baik lintas program maupun lintas sektor.
II.2. DESAIN RUANGAN KLINIK UNTUK PASIEN ANAK
Terkhusus untuk bentuk klinik bagi pasien anak harus didesain khusus agar bisa terlihat menarik dan membuat pasien anak merasa nyaman setiap mengunjungi klinik untuk mengontrol kesehatan giginya. Setiap penataan dalam setiap sudut ruangan mulai dari halaman sampai ruang periksa dokter.
1. RUANG TUNGGU
Ruang tunggu adalah kesan pertama yang akan dilihat dan akan menjadi icon sebuah klinik kesehatan gigi. Seorang pasien akan melihat puncak kecemasannya di ruang tunggu. Oleh karena itu, ruang tunggu harus betul-betul tertata rapi dan terlihat menarik. Terutama bagi pasien anak.
Gambar-gambar yang menarik dan tertata rapi serta kombinasi warna yang menarik akan membuat pasien, khususnya pasien anak merasa betah dan nyaman di ruang tunggu sebuah klinik. Gambar-gambar dan pamplet yang bisa berkesan menakuti, harus disingkirkan serta penataan alat-alat pemeriksaan gigi yang bias membuat seorang pasien menempati titik cemas harus tertata dengan baik dan menarik.
Ruang Tunggu (www.coralgablewomansclub.com)
Sebuah ruang tunggu harus terasa seperti rumah sendiri bagi seorang pasien anak. Itu akan membuat mereka terkesan bahwa mendatangi dan memeriksakan kesehatan giginya adalah hal yang biasa. Ruang tunggu juga bias diberi nuansa music yang bisa membuat seorang pasien anak merasa nyaman dan rileks. Oleh karena itu, sebuah ruang tunggu, sangat mempengaruhi keadaan psikologi mereka.
2. RUANG PERAWATAN
Ruang perawatan adalah ruangan inti yang harus didesain sedemikian rupa sehingga berkesan menarik dan tidak berkesan menakutkan bagi anak. Setiap sudut ruangan perawatan harus tertata dengan rapi. Desain ruangan perawatan untuk pemeriksaan pasien anak bisa ditata dengan desain tertentu. Misalnya seperti desain taman bermain anak, ruang luar angkasa, atau dipenuhi dengan gambar-gambar super hero yang mereka idolakan. Ini dimaksudkan agar mereka bisa merasa nyaman dan betah serta tidak di bebani dengan rasa takut.
Desain ruangan, letak peralatan, letak kursi, dan bisa juga dihiasi boneka atau hal-hal yang bisa menarik perhatian anak-anak. Contoh gambar ruangan yang efisien adalah seperti ini :
Salah satu yang bisa menarik perhatian anak adalah majalah anak-anak, atau bahkan baju praktek dokter yang bisa di desain khusus dengan model lucu untuk meghilangkan kesan menakutkan dari seorang anak terhadap seorang dokter gigi. Hal ini sangat mempengaruhi minat anak untuk berkunjung ke sebuah klinik gigi.
Gambar diatas adalah sebuah desain klinik gigi yang terlihat teratur, rapid an memberikan kesan yang menyenangkan mulai dari ruang tunggu sampai ruang perawatannya.
DAFTAR PUSTAKA
Febri. 2009. Mengembangkan Klinik Gigi Yang Efektif, http://pebrial.blogspot.com/2009/03/mengembangkan-klinik-gigi-yang-efektif.html, Diakses tanggal 3 Oktober 2009
Dahlan, Zaeni. 2008. Mengembangkan Klinik Gigi Yang Efektif Dan Efisien, http://zaenidahlan.wordpress.com/2008/07/20/mengembangkan-klinik-gigi-yang-efektif-dan-efisien-penutup/, Diakses tanggal 3 Oktober 2009
Suzy, Arlette PP DKK. 2008. Desain Ruang praktek Bagi pasien Anak, Fakultas, Kedokteran Gigi-Universitas Padjadjaran.
II.7. Komunikasi Dokter Gigi Dengan Pasien dan Orang Tua Pasien
II.8. Penanganan Kecemasan Dan Rasa Takut Anak
1. Pembentukan tingkah laku
Ahli psikologi menggunakan istilah pembentukan tingkah laku untuk menunjukkan proses memodifikasi tingkah laku pasien kea rah ideal. Bagian utama dari pembentukan tingkah laku adalah mendefinisikan suatu seri langkah-langkah pada jalur menuju tingkah laku yang diinginkan dan kemujian maju langkah demi langkah ke tujuannya. Dalam hubungannya dengan kedokteran gigi, ini dapat dikatakan bahwa tingkah laku ideal ditunjukkan oleh pasien yang menjaga kebersihan mulutnya dengan sangat baik, melatih pengaruh diet dan santai serta kooperatif selama perawatan operatif.5
Tindakan yang benar adalah merencakan perawatan sedemikian sehingga tingkah laku anak perlahan-lahan meningkat pada tingkat yang diinginkan. Hanya dengan begitulah tujuan yang mendasar dari kedokteran gigi untuk anak dapat dipenuhi, yaitu memodifikasi sikap dan tingkah laku kearah positif, selain melaksanakan setiap perawatan yang diperlukan.5
Pada perawatan gigi operatif, penbentukan tingkah laku didasarkan pada prosedur rencana perawatan pendahuluan yang diinginkan, sehingga anak perlahan-lahan dilatih untuk menerima perawatan dalam keadaan santai dan kooperatif. Langkah-langkah yang dapat merupakan perawatan pendahuluan pada rata-rata anak sekolah adalah5:
a. Pemerikasaan dan profilaksis.
b. Fisuure sealant atau penggunaan flour topikal.
c. Restorasi oklusal yang kecil pada gigi susu tanpa anestesi local.
d. Anestesi infiltrasi dan restorasi.
e. Blok pada saraf gigi bawah dan restorasi.
Waktu yang diperlukan pada tiap langkah tergantung pada tingkah laku anak. Jadi beberapa anak mungkin memerlukan beberapa kunjungan singkat pada langkah-langkah awal sebelum menjadi lebih lanjut. Sedang yang lain dapat sampai pada langkah terakhir dalam satu atau dua kunjungan. Tentu saja pada beberapa anak dapat dilakukan langkah terakhir pada kunjungan pertama, tetapi ini tidak bisa dianggap praktek yang baik, walaupun anak dapat menerima perawatan, pendekatan demikian itu berlawanan dengan prinsip-prinsip pembentukan tingkah laku dan kemungkinan berhasilnya kurang.5
Untuk anal kecil yang sangat takut, daoat direncanakan langkah-langkah berikut (Hill dan O’Mullane, 1976)5:
Anak menyikat giginya dengan sikat giginya pada tempat cuci.
Ibu dan kemudian dokter gigi, menggosok gigi anak dengan sikatnya sendiri pada tempat cuci.
Anak duduk pada kursi perawatan gigi, dilakukan pemeriksaan dan pemakaian brush prokfilaksis dengan handpiece berkecepatan rendah.
Lanjutkan sebagaimana anak normal.
Pendekatan bertahap dalam pembentukan tingkah laku ini dapat menunda kemajuan perawatan, tetapi bila kerja sama yang penuh dari anak dapat diperoleh, penundaan itu tentu lebih bermanfaat karena waktu yang dilewatkan tersebut dianggap sebagai investasi yang nyata.5
2. Tell-show do
Suatu metode yang popular sebagai salah satu cara memperkenalkan peralatan kedokteran gigi beserta prosedurnya kepada anak-anak. Fase tell mencakup penjelasan terhadap prosedur beserta alasan penggunaannya, dengan cara yang sesuai dengan usia anak. Fase show digunakan untuk mendemonstrasikan suatu prosedur sampai saat instrument digunakan. Fase do, dapat dimulai. Sepanjang prosedur ini dokter gigi berusaha membuat anak relaks, dan member pujian atas tingkah laku anak yag tepat dan kooperatif.1
Yang terutama pada TSD adalah menceritakan mengenai perawatan yang akan dilakukan memperlihatkan padanya beberapa bagian perawatan, bagaimana itu akan dikerjakan dan kemudian mengerjakannya. Teknik ini digunakan secara rutin dalam memperkenalkan anak pada perawatan profilaksis yang selalu dipilih sebagai prosedur operatif pertama. Jadi pada anak diceritakan bahwa gigi-giginya disikat, ditunjukkan sikat khusus tersebut dan bagaumana sikat berputar dalam handpiece, kemudian gigi-giginya disikat. Pada tahap TSD perlu ditambahakan pujian karena tingkaj laku yang baik selama perawatan awal ini harus segera diberi penguatan dan juga selama selanjutnya.5
Transisi dari sikat ke bur mudah dilakukan. Bur dapat diperkenalkan sebagai pembersi khusus yang membersihkan sudut-sudut kecil yang tidak bisa dijangkau sikat. Beberapa kompromi perlu dilakukan dalam menerapkan metode ini sampai pada penggunaan analgesia local. Kebanyakan dokter gigi menganggap bahwa jarum tidak perlu diperlihatkan karena kebanyaka anak (orang dewasa juga) takut terhadap jarum. Oleh sebab itu anak perlu diberitahu bahwa gigi-giginya akan dibuat tidur, perlihatkan bahan analgesic permukaan pada kapas dan setelah itu injeksi tanpa demonstrasi lebih lanjut.5
Untuk perawatan apapun yang dilakukan penting untuk mengikuti tahap-tahap TSD. Penjelasan tidak perlu panjang lebar, karena hal ini akan cenderung membingungkan anak dan mungkin membangkitkan kecemasan, penjelasan harus sederhana dan sambil lalu. Demikian pula demonstrasi harus diberikan dengan singkat dan sebenarnya sehingga perawatan yang sesungguhnya dapat dilakukan tanpa di tunda lagi.5
3. Dukungan Emosional
Meski kecemasan yang disertai dengan ketidakpastian dapat dikurangi dengan pemberian informasi, dokter gigi juga memberikan dukungan emosional ketika menjelaskan prosedur dan perawatan. Pesan yang terkandung disini adalah bahwa dokter gigi menyadari kecemasan akibat situasi yang ada dan berusaha menguranginya. Ini memberikan rasa aman dan percaya1.
4. Relaksasi
Ide yang mendasari penggunaan terapi ini adalah bahwa kecemasan berhubungan dengan tanda-tanda fisiologis tertentu -denyut jantung yang cepat,otot tegang dan berkeringat. Bila seorang pasien dapat diajarkan untuk mengendalikan timbulnya tanda-tanda tersebut, komponen penting dari kecemasan dapat dikurangi1.
5. Penguatan
Penguatan dapat diartikan sebagai pengukuhan pola tingkah laku, yang akan meningkatkan kemungkinan tingkah laku tersebut terjadi lagi dikemudian hari. Ahli psikologi yang menganut teori social perkembangan anak percaya bahwa tingkah laku anak merupakan pencerminan respon terhadap penghargaan dan hukuman dari lingkungannya, bentuk hadiah yang penting (merupakan factor motivasi yang sangat penting untuk perubahan tingkah laku) adalah kasih sayang dan pengakuan yang diperoleh dari orangtuanya dan kemudian dari sebayanya. Oleh karena itu, tingkah laku yang baik pada perawtan gigi, apakah itu menggosok giginya dengan baik atau bersikap kooperatif pada perawatan operatif, harus diberikan penghargaan oleh dokter gigi. Pengakuan ini diharapkan memperkuat tingkah laku yang baik dan meningkatkan kemungkinan akan diulangi lagi pada perawatan berikutnya, karena itu akan menjadi pola tingkah laku yang normal bagi anak pada situasi yang demikian.5
Penghargaan dokter gigi harus diperlihatkan sesering mungkin selama perawatan, apabila anak bereaksi positif pada perawatan. Biasanya pengakuan ini diberikan melalui kata-kata tetapi senyuman dan anggukan juga tepat. Kata-katanya sendiri tidak penting dan masing-masing dokter gigi mempunyai ungkapan kesukaannya sendiri misalnya dari yang sederhana ‘baik’, ‘baik sekali’, ‘hebat’ sampai ‘kamu adalah salah satu pasien saya yang terbaik’. Hal yang penting adalah bahwa tingkah laku anak yang baik harus diberi pengutan sesering mungkin.5
Penghargaan harus berhubungan erat dengan tindakan. Misalnya jika anak diminta membuka mulutnya lebar-lebar dan melakukannya dengan baik ia harus segera menerima pengakuan. Pengakuan yang hanya akan diberikan pada waktu akhir kunjungan, misalnya ‘kamu adalah anak yang baik’ tidak efektif lagi. Yang lebih buruk lagi adalah mengabaikan kerjasama anak yang baik selama perawatan, ini tidak saja menyianyiakan kesempatan yang baik untuk mengukuhkan tingkah laku tetapi dapat diartikan sebagai hukuma, mengulangi kemungkinan diulanginya tingkah laku tersebut.5
Bentuk penghargaan lain adalah hadiah dan ini dapat diberikan pada akhir perawatan sebagai penghargaan atas tingkah laku yang baik. Hadiah tidak boleh digunakan untuk menyogok anak. Banyak jenis hadiah yang sesuai misalnya buku-buku dan gambar-gambar.5
Perlu juga dihindari penguatan pada tingkah laku yang buruk. Jika seorang anak tidak mau bekerja sama sehingga rencana perawatan tidak bisa diselesaikan, hentikan perawatan dan kembalikan anak ke orangtua, karena bujukan malah akan mempengaruhi tingkah laku buruk tersebut. Lebih baik berssikap tidak mengacukan tingkah laku tersebut dan bertindak seolah-olah perawatan telah selesai (misalnya menaruh kapas sementara). Ada macam-macam hukuman yang dapat dipakai dokter gigi untuk tingkah laku buruk, yaitu misalnya tidak member pengakuan atau penghargaan. Dokter gigi tidak boleh mencemooh tingkah lakunya yang buruk atau memperlihatkan kemarahan, dokter gigi hanya dapat memperlihatkan kekecewaannya.5
Orang tua dalam ruang praktik, pada prosedur penelitian yang lebih canggih, dimana kecemasan orang tua juga dipertimbangkan, terlihat bahwa keberadaaan orang tua daoat membantu anak apabila ia tenang, tapi tidaklah membantu bila ia sendiri cemas1.
6. Kontrol Suara
Teknik ini dilakukan dengan cara dokter gigi melakukan perintah tiba-tiba dengan suara yang agak keras dan tegas untuk menarik perhatian anak, dan menghentikan anak dari kegiatannya atau untuk meminta anak untuk berhenti menangis6.
7. Komunikasi Non-Verbal
Komunikasi adalah proses dua jalan yaitu anda akan member pasien informasi sebanyak mereka member anda. Komuikasi ini sering dari lubuk hati dan kebih jauh akan lebih akurat disbanding pesan verbal yang kita beri dan terima. Bila tidak berhati-hati mungkin tidak akan member maksud yang diinginkan. Beberapa contoh spesifik komunikasi non-verbal adalah sebagai berikut7:
- Wajah
Saat menggunakan masker yang menyembunyikan muka senyum dapat terdengar ketika berbicara. Senyum adalah alat yang kuat dan menunjukan motivasi. Wajah dapat menambah atau mengurang makssud dari pesan verbal.
- Mata
Kontak mata membuat kepercayaan pada permulaan janji.
- Sikap dan sikap badan
Menyilangkan tangan saat berbicara mungkin menyataka secara tidak langsung penolakan, terkhusus bila mengetukan kaki.
- Kontak tubuh
Berjabat tangan mungkin meningkatkan kepercayaan beberapa orangtua. Menyentuh bahu pada waktu kehadiran orang tua dan pearwat gigi yang dikombinasikan dengan nada simpati mungkin akan membantu mengurangi kecemasan.
MITHA
II.1 Systemic Desensitization (Desensitasi)
Desensitasi adalah salah satu teknik yang paling sering digunakan oleh ahli psikologi untuk melawan rasa takut, merupakan teknik gabungan antara gradual exposure dan tell-show-do yang berfokus untuk melawan rasa takut yang spesifik (specific phobia). Teknik ini meliputi tiga tahapan : pertama, melatih pasien untuk relaks; kedua, membangun hirarki stimulus; ketiga, memperkenalkan tiap stimulus dalam hirarki untuk membuat pasien rileks, dimulai dengan stimulus yang paling sedikit menyebabkan rasa takut dan maju pada tahap selanjutnya hanya bila pasien tidak takut lagi dengan stimulus tersebut. Perlu diketahui bahwa pasien harus dibantu untuk relaks sebelum rasa takutnya teratasi; dengan mengulang-ulang stimulus beberapa kali akan meningkatkan rasa takut bukan menguranginya.2,3,4,5
Teknik – teknik yang telah digunakan untuk mengatasi banyak macam rasa takut, misalnya takut pada tempat yang tinggi, tempat yang penuh sesak, tempat terpencil maupun rasa takut pada perawatan gigi.5
Untuk menerapkan teknik – teknik tersebut diperlukan suatu seri kunjungan pendahuluan untuk mengajar pasien agar dapat relaks. Walaupun beberapa dokter gigi (khususnya mereka yang memahami hypnosis) memang disiapkan untuk melakukan hal ini, ada di antaranya yang merujuk pasien pada ahli psikologi, konsep dasar teknik tersebut dapat diterapkan dalam kedokteran gigi tanpa kunjungan pendahuluan. Penting untuk mengetahui bahwa rasa takut anak, dapat berupa rasa takut terhadap dokter gigi, dokter, rumah sakit atau klinik, atau rasa takut yang lebih spesifik terhadap “jarum”, “bur” atau hal lain pada perawatan gigi. Bila hal ini diketahui, suatu hirarki stimuli penyebab rasa sakit dapat disusun dan dilaksanakan. Misalnya, jika anak takut terhadap lingkungan perawatab gigi secara umum, desensitasi dapat meliputi pengenalan anak terhadap stimuli berikut :
1. Ruang penerimaan dan ruang tunggu
2. Dokter gigi dan perawat
3. Bedah gigi
4. Kursi perawatan gigi
5. Pemeriksaan mulut
6. Profilaksis.5
Di lain pihak jika anak takut takut terhadap pemburan, stimuli berikut dapat dilakukan :
1. Menggosok gigi – gigi anak dengan ikat profilaksis menggunakan tangaan.
2. Menggosok dengan sikat profilaksiss menggunakan handpiece kecepatan rendah.
3. Menggunakan finishing bur atau stone dengan handpiece kecepatan rendah, diputar dalam mulut tetapi tidak menyentuh gigi.
4. Menggunakan finishing bur atau stone secara perlahan – lahan pada tambalan atau permukaan gigi.
5. Memperkenalkan handpiece kecepatan tinggi seperti pada no.3 dab 4. di atas.5
Desensitasi rasa takut terhadap jarum lebih sulit; jika rasa takut ini tetap terjadi walaupun telah dilakukan modifikasi tingkah laku selama kinjungan pendahuluan, beberapa cara sedas dapat dipertimbangkan.5
Pada setiap tahap, rasa takut anak dapat ditenangkan oleh tindakan dokter gigi dan stafnya yang baik, bersahabat dan memberi keyakinan, tingkah laku positif yang diperlihakan anak akan sangat diperkuat. Sewaktu anak sudah terlihat relaks dan senang, dapat dilakukan tahap perawatan berikutnya. Beberapa bentuk rasa takut anak akan cepat teratasi dengan cara ini, selain itu cara ini memungkinkan dilakukan perawatan tahap berikut dengan cepat. Akan tetapi di lain pihak ia akan menjadi lebih melawan, dan hal ini tentu saja dapat melemahkan semangat dokter gigi dalam mempergunakan metode ini.5
II.2 Modelling (Percontohan)
Modeling adalah teknik lain yang digunakan oleh ahli psikologi dalam menghilangkan rasa takut; misalnya, anak takut terhadap anjing dibantu menghilangkan rasa takutnya dengan melihatkan anak lain bermain gembira dengan anjing, anak yang gembira tadi merupakan model yang kemudian akan ditiru oleh anak yang takut. Teknik ini didasarkan pada prinsip psikologi bahwa manusia belajar tentang lingkungan mereka dengan mengamati tingkah laku satu sama lain, dapat menggunakan aktor, dapat secara langsung ataupun melalui video.2,3,5,6
Teknik yang sederhana ini dapat diterapkan pada berbagai situasi perawatan gigi, tetapi penggunaannya yang paling sering mungkin adalah pada anak yang cemas terhadap pemeriksaan mulut pada kursi perawatan gigi.5
Orang tua, atau lebih baik anak lain diminta untuk bertindak sebagai model untuk dilakukan pemeriksaan dan profilaksis; diharapkan tingkah laku yang kooperatif dan relaks dari model, dikemudian hari akan ditiru oleh anak yang cemas tadi. Tidak selamanya model dalam bentuk langsung, tetapi model dapat juga berupa film atau video yang menunjukkan pemeriksaan kesehatan mulut. Tell-Show-Do dan penguatan harus digunakan untuk melengkapi prosedur modelling, bersama dengan desensitasi, ini adalah pendekatan yang efektif terhadap masalah memperkenalkan perawatan sederhana pada anak yang takut. Teknik ini sangat membantu apabila ada model yang sesuai.2,3,5,6
II.3 Hand Over Mouth
Tekmik hand-over-mouth adalah suatu teknik yang diakui untuk menghentikan dan mengelola tingkah laku yang tidak dapat dikelola dengan teknik penatalaksanaan tingkah laku lainnya. Teknik hand-over-mouth biasanya dianggap sebagai cara yang ekstrem dalam menangani anak yang tidak kooperatif. Hal ini jarang digunakan di Inggris, tetapi dilakukan di Amerika Serikat. Teknik ini bertujuan untuk mengembalikan anak yang histeris menjadi lebih dapat mengontrol dirinya sehingga komunikasi antar dokter gigi dan anak menjadi lebih efektif. Teknik seperti ini telah digunakan lebih dari 35 tahun. Teknik ini diindikasikan untuk anak yang sehat dan dapat bekerja sama tetapi tidak dapat mengontrol emosionalnya. Teknik ini kontraindikasi untuk anak yang belum mengerti komunikasi secara verbal, tidak mau bekerja sama dan mempunyai ketidakmampuan (disability) dan untuk anak yang mempunyai gangguan/obstruksi saluran pernapasan.1,5
Teknik ini dilakukan dengan cara menahan kursi anak yang melawan dengan pelan tetapi kuat pada kursi perawatan gigi, dengan meletakkan tangan (atau handuk) di atas mulutnya untuk menahan perlawanannya dan berbicara dengan perlahan tetapi jelas ke dalam telinganya, dengan mengatakan bahwa tangan akan diangkat segera setelah ia berhenti menangis. Bila anak menanggapi dengan baik, tangan segera diangkat dan ia diberikan pujian, jika melawan, ulangi lagi prosedur ini.1,5
Teknik tersebut tidak popular pada dokter gigi yang menyukai anak-anak, dan mempunyai tujuan mendapat sikap positif dari anak, selain melakukan perawatan. Ini hanya dibenarkan sewaktu menangani anak yang manja yang telah belajar memanipulasi orang tua yang terlalu memanjakan dengan perangai yang menjengkelkan atau dengan anak yang suka menantang yang mendapati bahwa diam tetapi tetap melawan selalu berhasil.5,6
Anak seperti itu tidak takut, mereka hanya tidak ingin bekerjasama dan mengetahui bagaimana cara menghindari. Tingkah lakunya biasanya segera terlihat pada kunjungan pertama dan dipertegas oleh cara penolakannya terhadap pemeriksaan. Jika anak seperti itu diambil dan diletakkan di kursi atatu pada pangkuan orang tua, mungkin terjadi perlawanan keras. Dokter gigi harus mengabaikan perlawanan keras ini sewaktu meemriksa anak. Kadang – kadang sikap menunjukkan kekuasaan dari dokter gigi dapat menciptakan kerja sama dikemudian hari. Aan tetapi, jika anak berkelakuan yang sama pada kunjungan berikutnya, harus diambil tindakan lebih lanjut. Dalam hal inilah teknik hand-over-mouth dapat dibenarkan sampai anak belajar bahwa dokter gigi tidak terpengaruh atau jera oleh tingkah laku dan perlawanan, dan sikapnya yang jelek tersebut tidak mungkin dilakukan selama perawatan berlangsung. Namun, jika kelakuan anak tersebut didukung oleh orang tua, kelakuan tersebut akan lebih diperkuat.5
Dalam penggunaan teknik hand-over-mouth perlu dipertimbangkan tentang :
1. Teknik alternatif penatalaksanaan tingkah laku lainnya
2. Kebutuhan pasien
3. Pengaruh terhadap kualitas perawatan gigi
4. Perkembangan emosional pasien
5. Psikis pasien.1
Teknik ini sebaiknya jangan dipergunakan pada anak yang takut, bagi anak seperti ini desensitasi atau metode – metode lainnya lebih tepat. Karena itu, pemeriksaan yang benar terhadap alasan mengapa anak bertingkah laku tidak kooperatif penting sebelum mempergunakan teknik hand-over-mouth.1,5
Daftar Pustaka
1. Clinical Affairs Committee – Behaviour Management Subcommittee. Guideline on behavior management. American Academy of Pediatric dentistry [Internet]. 2000; [cited 2009 Sept 15]. Available from: http://www.aadp.org
2. Non – pharmacological behavior management [Internet]. [cited 2009 Sept 15]. Available from: www.rcseng.ac.uk
3. Chadwick Barbara L,Hosey Marie Therese eds. Behavioural Management Techniques. How to Manage Children in Dental Practice. London: Quintessence Publishing Co. Ltd. p.37-46
4. Klingberg G, Freeman R, Berge M ten, Veerkamp J. EAPD Guidelines on behavior Management in Paediatric Dentistry. [Internet]. [cited 20009 Sept 15]. Available from: www.pedodonti.dk
5. Rock WP, Andlaw RJ eds. Teknik Pelaksanaan Tingkah Laku. Perawatan Gigi Anak (A Manual of Paedodontics) edisi 2. Jakarta: Widya Medika. p.15-27
6. Mathewson Richard J, Primosch Robert E eds. Chapter 9 Behavior Management. Fundamentals of Pediatric Dentistry third edition. London: Quintessence Publishing Co. Ltd. p.137-144
7. Wright Gerald Z. Nonpharmacological Management of Children’s Behaviors. In McDonald Ralph E, Avery David R, Dean Heffrey A eds. Dentistry for the Child and Adolescent eight edition. Philadelphia: Elsevier Saunders. p.33-49
8. Klingberg Gunilla, Raadal Magne. Chapter 4 Behavior management problems in children and adolescent. In Koch Goran, Poulsen Sven eds. Pediatric Dentistry A Clinical Approach. Munich: Munksgaard. p. 53-70
1. Hipnosis
Hipnosis diartikan sebagai “suatu keadaan tertentu dari pikiran yang biasanya dilakukan oleh satu orang pada orang lain…” suatu keadaan pikiran di mana anjuran-anjuran tidak hanya akan lebih mudah diterima daripada dalam keadaan terjaga tetapi juga akan bekerja lebih baik daripada yang mungkin terjadi pada keadaan normal.1
Hinopsis telah lama menjadi pusat perdebatan dan disalah mengertikan, diselubungi oleh bau mistik yang telah diperkenalkan oleh para penghibur masyarakat. Akan tetapi, telah terjadi banyak kemajuan selama 20-30 tahun belakangan dalam penyelidikan ilmiah terhadap hypnosis, yang makin sekarang dapat tempat dalam praktek kedokteran dan kedokteran gigi.1
Diperkirakan bahwa 90% individu dapat dibawa ke dalam alam hipnotik ringan, yang ditandai oleh relaksasi dan berkurangnya kecemasan 70% hipnotik pada individu ini dapat diperdalam menjadi tingkat sedang, di mana dapat terjadi analgesia dan 20% dari individu ini dapat mencapai tingkat yang dalam, di mana dapat terjadi analgesia yang besar. Hipnosis hanya dapat dilakukan pada individu-individu yang dapat bekerja sama. Walaupun diperkirakan tidak cocok untuk anak, kenyataannya adalah sebaliknya. Paradoks yang terbukti ini dapat dijelaskan oleh kenyataan adalah bahwa anak-anak umumnya lebih mudah menurut terhadap bujukan dan anjuran daripada orang dewasa dan lebih biasa menerima instruksi-instruksi tanpa bertanya. Bagaimanapun juga perlu diperoleh rasa percaya dan perhatian dari mereka dan ini mungkin tidak sesuai pada anak-anak yang sangat kecil, anak-anak yang ketakutan atau pemalu.1
Hipnosis paling sering digunakan dalam kedokteran gigi sebagai suatu metode untuk membantu pasien yang cemas supaya rilaks. Tingkat yang ringan biasanya cukup untuk mencapai tujuan ini; pasien yang relaks akan dapat menerima prosedur perawatan yang sebelumnya tidak dapat diterima. Beberapa pasien dapat dibawa pada tingkat yang lebih dalam di mana dapat dihasilkan analgesia yang cukup untuk gigi-gigi atau jaringan mulut tanpa perlu injeksi analgesic local. Indikasi lain untuk hypnosis meliputi membantu pasien yang mual sewaktu sebuah benda masuk ke dalam mulutnya; mendorong anak untuk memakai peralatan orthodonti; dan memperkenalkan anak pada sedasi inhlasi atau anastesia umum.1
Sebelum melakukan hypnosis, dokter gigi harus mempersiapkan pasien dengan menjelaskan apa yang akan dilakukan. Orang dewasa memerlukan persiapan yang cermat untuk memperbaiki salah pengertian dan menghilangkan kecurigaan serta rasa takut terhadap hypnosis, pada anak-anak hanya memerlukan persiapan minimal. Kata-kata ‘hipnosis” tidak perlu digunakan pada anak-anak. Anak-anak kecil dapat diberitahu bahwa mereka akan merasa seperti tidur, dengan mata tertutup walaupun ada sedikit perbedaan, mereka masih dapat mendengar segala sesuatu yang dikatakan oleh dokter gigi dan mampu berbicara. Anak yang lebih besar hanya perlu diberitahu bahwa tujuannya adalah membantu mereka terhadap perawatan gigi dapat diatasi. Orangtua dapat diberitahu bahwa bentuk relaksasi yang dalam ini disebut hypnosis, tetapi informasi ini tidak perlu disampaikan. Jelas bahwa baik anak maupun orangtua harus percaya pada dokter gigi.1
1. Physical restrain
Merupakan suatu penahan gerakan mulut dan fisik anak selama perawatan gigi. Hal ini dapat dilakukan dengan tangan, ikat pinggang, pita, tali, dan beberapa bentuk alat yang berfungsi sebagai sebagai stabilisasi pasien (parental restraint, seet and ties, papoose board)2
2. Pengalihan Perhatian
Banyak cara untuk menghilangkan atau menurunkan nyeri, baik secara farmakologis, misal obat-obatan analgesik ataupun menghilangkan cara dengan intervensi keperawatan yang bersifat non farmakologis dan independent. Manajemen nyeri non farmakologis lebih aman digunakan karena tidak menimbulkan efek samping yang seperti obat-obatan karena terapi non farmakologis menggunakan proses fisiologis. Oleh karena itu, untuk mengatasi nyeri tingkat ringan atau sedang lebih baik menggunakan manajemen nyeri non farmakologis. 3
Salah satu intervensi keperawatan untuk menurunkan nyeri adalah pengalihan perhatian. Dimana tehnik ini dengan memfokuskan diri kepada lingkungan. Lingkungan yang sangat tenang dan sedikit membangkitkan input sensori. Perhatian harus cukup kuat untuk melibatkan seluruh perhatian yang tidak menjemukan. Nyeri yang diderita sangat luas memerlukan berbagai penarik perhatian yang berarti. Metode menarik perhatian yang digunakan yaitu tehnik nafas dalam dan terapi musik,
musik dapat membuat para pasien menjadi rileks, sehingga hanya memerlukan obat-obatan yang lebih sedikit.3
BAB III
PEMBAHASAN
Rasa taku dan rasa cemas dari anak sering menyeababkan anak tersebut menjadi pasien yang tidak kooperatif pada saat dilakukan perawatan gigi. Penanganan rasa takut dan kecemasan dapat dilakukan dengan pendekatan secara non-farmakologi maupun secara farmakologi. Banyak teknik-teknik penanganan anak rasa takut dan kecemasan anak yang dilakukan di klinik secara non-farmakologi. Teknik-teknik yang sering digunakan adalah, pembentukan tingkah laku, tell-show-do, modeling, desensitas dan masih banyak lainnya.
Sebelum perawatan dilakukan sebaiknya orang tua dan anak diperkenalkan dengan lingkungan ruang perawatan. Dokter gigi perlu untuk berkonsultasi dengan orang tua mengenai teknik untuk melatih anak di rumah sebelum dilakukan perawatan. Oleh karena itu, alat bantu visual seperti gambar, dan alat elektronik lainnya dapat dipergunakan dalam konsultasi tersebut.
Komunikasi penting dilakukan dengan anak pada saat dimulai dan selama dilakukan perawatan. Dokter gigi dapat mendapatkan rasa percaya dari anak apabila bisa menjalin komunikasi yang baik dengan anak. Apabila dokter gigi telah mendapatkan rasa percaya dari anak tentu saja untuk penggunaan teknik maupun penangana selanjuatnya akan mudah dijalani.
Rasa takut dan kecemasan dari anak juga dapat dikurangi dengan memberikan musik selama proses perawatan. Karena seperti yang kita ketahui musik yang disukai anak-anak bisa memberikan ketenangan pada anak. Tentu saja pilihan jenis music sangat penting karena dapat mempengaruhi perasaan anak tersebut. Musik yang sebaiknya dipilih adalah yang menenangkan.
Perwatan pada anak sebaiknya dilakukan pada pagi hari pada saat pasien dan dokter gigi belum merasa letih. Orang tua dapat disertakan dalam perawatan tersebut untuk lebih membantu menangani kecemasan dan rasa takut anak, namun dengan syarat orang tua bersikap tenang
3.1. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan sebelumnya, maka dapat disimpulkan sebagai berikut:
Tingkah laku seorang anak dikategorikan menjadi 4 kategori sesuai criteria berikut:
Sangat Negative
Sedikit Negative
Sedikit Positive
Sangat Positive
Dari beberapa tipe diatas, dalam memahami tingkat cooperative pasien, Wright membaginya dalam tiga kategori:
Kooperative
Kurang Kooperative
Berpotensi Kooperative:
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kooperatif pasien anak, yaitu keadaan anak, orang tua, saudara kandung, status sosial ekonomi, lingkungan klinik gigi.
Penanganan non farmakologis yang dapat dilakukan secara hypnosis merupakan cara untuk membantu pasien menhilangkan rasa cemasnya. Teknik ini dapat dilakukan apabila pasien merasakan kecemasan yang berlebihan, teknik dilakukan dimulai dengan komunikasi yang baik antara pasien dan operator.
Penanganan non farmakologis secara physical restrain, yang memiliki aspek mulai dari manajemen rahang dan cara untuk menjaga mulut anak tetap terbuka (merupakan alat bantu pada pasien yang sulit membuka mulut)
Penanganan non farmakologis secara pengalihan perhatian dimana teknik ini sangat bergantung pada peran lingkungan agar pasien dapat merasa nyaman dan tenang
Tujuan dari penatalaksanaan tingkah laku adalah menumbuhkan suatu tingkah laku jangka panjang yang positif terhadap pemerikasaan kesehatan gigi pada anak.
Penatalaksanaan tingkah laku adalah suatu proses yang dinamis yang melibatkan tim dokter gigi, anak dan orang tua anak, dimana semuanya harus terlibat aktif di dalamnya.
Desensitasi adalah salah satu teknik penatalaksanaan tingkah laku non farmakologis yang bertujuan untuk mengurangi rasa takut spesifik (specific phobia)pasien dengan cara memberikan stimulus – stimulus dimulai dengan stimulus yang paling sedikit menyebabkan rasa takut dan maju pada tahap selanjutnya hanya bila pasien tidak takut lagi dengan stimulus tersebut
Modeling (percontohan) merupakan teknik penatalaksanaan tingkah laku non-famakologis yang didasarkan pada prinsip psikologi bahwa manusia belajar tentang lingkungan mereka dengan mengamati tingkah laku satu sama lain, dapat menggunakan aktor, dapat secara langsung ataupun melalui video. Akan lebih baik bila yang menjadi model adalah anak yang seusia dengan pasien.
Hand-Over-Mouth adalah teknik penatalaksanaan tingkah laku non-farmakologis yang sudah jarang dipakai dan merupakan teknik terakhir yang digunakan apabila teknik penatalaksanaan tingkah laku non-farmakologis lainnya tidak berhasil. Teknik ini diindikasikan untuk anak yang sehat dan dapat bekerja sama tetapi tidak dapat mengontrol emosionalnya.
Mencegah kerusakan gigi lebih penting daripada terpaksa berobat ke dokter gigi setelah gigi rusak atau berlubang. Tindakan pencegahan merupakan hal yang terbaik, selain tidak merasakan sakit, seseorangpun tidak perlu mengeluarkan uang dalam jumlah banyak untuk mengobati sakit giginya.
Ada 3 macam teknik penanganan tingkah laku anak, diantaranya teknik Desensitisasi, teknik Modeling, dan teknik Hand-Over-Mouth.
Untuk mengontrol kesehatan gigi anak salah satu caranya adalah mengajarkan cara menggosok gigi, 3 faktor yang harus diperhatikan diantaranya; Pemilihan sikat gigi, cara/gerakan sikat gigi, dan Frekuensi sikat gigi.
Sumber >>>>
1. GG Kent; A.S Binkhorn; Pengelolaan Tingkah Laku Pasien Pada Praktik Dokter Gigi. Penerbit Buku Kedokteran EGC; Jakarta; 2005. p.72-73.
2. Soengeng Wahluyo. Pengelolaan Penderita Anak Dan Orang Tua Dalam Praktek Dokter Gigi. Available at : http://www.FKG_airlangga univ...org/wiki/gigi. Acessed Oktober, 5, 2009.
3. Ralph E. McDonald, David R Avery, Jeffery A. Dean; Dentistry For The Child And Adolescent;8th edition; Mosby; Indiana; 2004; p.-
4. Panis Surfer.Kenali Tipe Kepribadian Anak Anda. Available at : http://id.shvoong.com/social-sciences/1914724-kenali-tipe-kepribadian-anak-anda/ . Acessed Oktober, 5, 2009.
5. Imha Fadhil. Tingkah Laku Anak Dalam Perawatan Gigi Dan Mulut. Available at www.meimhablogspotcom. Acessed Oktober, 8, 2009.
6. White, George E. Clinical Oral Pediatrics. Tokyo: Guintessence Publishing Co. Incv; 1981.
7. Soetjningsih. Tumbuh Kembang Anak. Editor IG. N. Gde Ranuh. Lab. Ilmu Kesehatan Anak UNAIR: EGC; 1995.
8. Andlaw RJ dan Rock WP. Perawatan Gigi Anak (a Manual of Pedodontics). Alih bahasa Agus Djaya. Ed.2. Jakarta: Widya Medika; 1992.
Langganan:
Postingan (Atom)